Seminggu setelah percakapan mendalam mereka di teras rumah Ami, Firza mengajak Ami makan malam di sebuah warung sederhana di tepi Sungai Code, tempat yang belum pernah mereka kunjungi bersama sebelumnya. Suasana malam itu terasa berbeda—lebih tenang, lebih penuh kesadaran akan betapa jauh perjalanan mereka berdua sejak pertemuan pertama di depan tembok tua Tirtodipuran berbulan-bulan lalu.
Warung itu sederhana, hanya beberapa meja kayu beralaskan tikar plastik, dengan lampu-lampu kecil yang tergantung di sepanjang tepian sungai, menciptakan suasana romantis yang tidak dibuat-buat. Suara aliran air bercampur dengan obrolan pengunjung lain dan sesekali suara motor yang melintas di jembatan tidak jauh dari sana, menciptakan simfoni khas kota yang telah menjadi latar belakang perjalanan cinta mereka selama berbulan-bulan terakhir.
Mereka memesan nasi goreng dan es teh, makan dengan santai sambil sesekali bercanda tentang hal-hal kecil, tapi Firza bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap Ami malam itu—sebuah keseriusan yang tersembunyi di balik senyum ringannya, seolah ia sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang penting.
"Firza, aku pengen ngomongin sesuatu," Ami memulai setelah mereka selesai makan, suaranya sedikit gugup namun penuh tekad. "Setelah semua yang kita lewatin—pertengkaran, cerita soal Reza, cerita soal Rasti—aku ngerasa udah waktunya kita jujur soal apa yang sebenernya kita rasain satu sama lain."
Firza menatap Ami dengan serius, merasakan jantungnya berdegup lebih kencang menyadari arah pembicaraan itu. "Aku setuju, Ami. Aku juga udah lama pengen ngomongin ini, tapi selalu ragu, takut ngerusak apa yang udah kita bangun."
"Aku duluan aja," Ami berkata, mengumpulkan keberanian. "Firza, aku sayang sama kamu. Bukan sekadar sayang sebagai teman, tapi lebih dari itu. Aku udah coba nyangkal ini selama berbulan-bulan, bilang ke diri aku sendiri kalau ini cuma kedekatan biasa, tapi aku nggak bisa bohongin diri aku lagi."
Mendengar pengakuan itu, Firza merasakan kelegaan luar biasa bercampur kebahagiaan yang sulit ia gambarkan. "Ami, aku juga sayang sama kamu. Udah dari lama, sebenernya. Mungkin dari pertama kali aku liat foto kamu yang blur itu, ada sesuatu yang udah mulai tumbuh, meski waktu itu aku belum ngerti apa."
Ami tersenyum, matanya berkaca-kaca mendengar pengakuan itu. "Tapi Firza, kita berdua tau, ini nggak sesederhana itu. Kamu harus balik ke Balikpapan cepat atau lambat. Aku masih punya banyak hal yang harus aku selesain di sini—soal Bapak, soal Reza yang masih pengen ngomong sama aku, soal hidup aku yang masih belum sepenuhnya stabil."
"Aku tau, Ami. Aku nggak nyoba nyederhanain semua kerumitan itu," Firza menjawab jujur. "Tapi aku juga nggak mau nunggu lebih lama buat jujur soal perasaan aku, meski situasinya rumit. Aku pengen kita coba, dengan cara apa pun yang memungkinkan, meski itu artinya kita harus jalanin hubungan jarak jauh buat sementara."
Ami mengangguk pelan, air mata mulai mengalir di pipinya, tapi kali ini air mata bahagia. "Aku juga pengen coba, Firza. Aku takut, jujur aja, tapi aku lebih takut lagi kalau aku nyia-nyiain kesempatan ini cuma karena rasa takut aku."
Firza mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, menyodorkannya pelan pada Ami, sebuah gestur kecil yang penuh kelembutan. "Kita nggak perlu buru-buru nentuin semuanya sekarang, Ami. Yang penting kita udah sama-sama jujur. Sisanya, kita cari jalannya pelan-pelan."
"Kamu selalu tau cara bikin sesuatu yang rumit jadi terasa lebih ringan," Ami berkata, tersenyum di tengah air matanya, menerima sapu tangan itu dengan rasa syukur.