Dua hari setelah malam kejujuran di tepi Sungai Code, Firza sedang duduk di Sarasa Coffee menikmati pagi yang tenang ketika ponselnya berdering, menampilkan nama yang jarang muncul di layarnya belakangan ini—adiknya, Sari, yang tinggal bersama ibu mereka di Balikpapan.
Pagi itu dimulai seperti hari-hari biasanya sejak dua malam terakhir—Firza bangun dengan perasaan ringan, mengingat kembali percakapan penuh makna di tepi Sungai Code, senyum kecil yang terus muncul tanpa sadar setiap kali ia mengingat genggaman tangan Ami yang hangat. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengajak Ami sarapan bersama pagi itu, sebelum akhirnya memutuskan membiarkan Ami beristirahat lebih lama setelah malam yang penuh emosi.
"Sari? Ada apa?" Firza menjawab, sedikit khawatir mengingat Sari jarang menelepon di jam kerja seperti ini.
"Mas Firza," suara Sari terdengar cemas di ujung telepon, "Ibu masuk rumah sakit tadi malam. Katanya jantungnya bermasalah, sekarang lagi diobservasi intensif."
Firza merasakan jantungnya berhenti sejenak mendengar kabar itu. "Gimana kondisinya sekarang? Serius nggak?"
"Dokter bilang butuh perawatan lebih lanjut, mungkin butuh operasi kecil. Aku udah di sini nungguin, tapi Mas, aku nggak bisa handle semuanya sendirian. Ada urusan administrasi, keputusan medis yang butuh persetujuan keluarga," Sari menjelaskan, suaranya mulai bergetar menahan tangis.
"Aku pulang secepatnya, Sari. Kasih aku waktu buat cek tiket dan beresin beberapa hal di sini," Firza menjawab tegas, meski di dalam hatinya campur aduk antara kekhawatiran akan kondisi ibunya dan kesedihan harus meninggalkan Jogja—meninggalkan Ami—lebih cepat dari yang ia rencanakan.
"Makasih, Mas. Aku tau ini pasti berat buat kamu juga, ninggalin kerjaan sama... segala sesuatu di sana," Sari berkata, nada suaranya menunjukkan bahwa ia sedikit tahu tentang perkembangan hubungan kakaknya, meski Firza belum pernah bercerita detail padanya.
"Kamu tau soal Ami?" Firza bertanya, sedikit terkejut mengingat ia belum pernah secara eksplisit menceritakan hubungannya pada Sari.
"Mas, kamu kirain aku nggak merhatiin dari cara kamu ngomong tiap kali telepon sama Ibu? Nama itu selalu keluar," Sari menjawab, sedikit tertawa di tengah situasi yang berat, mencoba menghadirkan sedikit kelegaan di tengah kabar duka yang baru saja ia sampaikan.
"Ibu lebih penting sekarang, Sari. Aku bakal usahain sampai secepat mungkin," Firza menjawab, berusaha menenangkan adiknya meski suaranya sendiri masih bergetar oleh kekhawatiran.
"Hati-hati di jalan ya, Mas. Aku tunggu di bandara," Sari berkata sebelum menutup telepon, meninggalkan Firza dengan pikiran yang berkecamuk.
Setelah menutup telepon, Firza duduk terpaku sejenak, mencerna kabar yang baru saja ia terima. Rencana awalnya untuk tinggal di Jogja hingga akhir bulan kini harus dipangkas drastis, dan ia tahu, keputusan ini akan mengubah banyak hal dalam hubungannya dengan Ami yang baru saja mereka mulai dengan penuh harapan.