Malam terakhir Firza di Jogja terasa seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat, setiap detik terasa berharga namun juga menyakitkan karena kesadaran bahwa waktu bersama Ami akan segera berakhir untuk sementara waktu yang tidak pasti lamanya.
Sepanjang sore itu, Firza sibuk menyelesaikan berbagai urusan praktis—mengembalikan kunci cadangan pada Bu Wening, membereskan tagihan listrik dan air terakhir, serta berpamitan singkat dengan beberapa tetangga yang sudah cukup akrab dengannya selama berbulan-bulan tinggal di sana. Setiap perpisahan kecil itu terasa lebih berat dari yang ia bayangkan, seolah setiap sudut kota ini telah menjadi bagian dari dirinya yang tidak ingin ia tinggalkan begitu saja.
Bu Wening, dengan mata berkaca-kaca, memeluknya sejenak sebelum melepasnya pergi. "Mas Firza udah kayak anak sendiri buat saya selama ini. Hati-hati di jalan, ya. Semoga Ibu Mas Firza cepat sembuh, dan semoga Mas Firza sama Mbak Ami bisa segera ketemu lagi."
"Makasih banyak, Bu. Buat semuanya," Firza menjawab, suaranya bergetar menahan haru, menyadari betapa banyak kenangan hangat yang telah ia bangun bahkan dengan orang-orang yang awalnya hanya berperan sebagai tuan rumah sewaannya.
Ami bersikeras menghabiskan malam terakhir itu bersama Firza, membantunya berkemas di rumah sewaan yang telah menjadi rumah kedua Firza selama berbulan-bulan terakhir. Mereka bekerja dalam diam yang penuh makna, sesekali bertukar pandang yang menyimpan begitu banyak perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ami datang membawa dua kotak nasi kucing dari angkringan langganan mereka, berniat memastikan Firza makan malam dengan layak di tengah kesibukan berkemas yang menyita perhatian. "Makan dulu, baru lanjut beres-beres. Kamu nggak boleh naik pesawat besok dalam keadaan lapar," katanya, nada suaranya penuh perhatian yang mengingatkan Firza betapa Ami selalu memikirkan hal-hal kecil semacam itu, bahkan di tengah kesedihannya sendiri.
Mereka makan bersama di lantai ruang tamu yang sudah setengah kosong, dikelilingi kardus-kardus berisi barang yang telah dikemas, sebuah pemandangan yang terasa ironis mengingat betapa penuhnya ruangan itu dengan kenangan hanya beberapa jam sebelumnya.
"Kamu inget nggak, waktu pertama kali kita ketemu di depan tembok itu?" Ami bertanya sambil melipat salah satu kemeja Firza, mencoba mencairkan suasana yang berat dengan kenangan manis.
"Inget banget. Kamu ngomelin aku gara-gara motret tembok orang," Firza tersenyum, meski senyumnya terasa berat mengingat betapa jauh perjalanan mereka sejak momen sederhana itu.
"Waktu itu aku nggak pernah nyangka bakal secinta ini sama kamu," Ami mengaku, suaranya pelan namun penuh ketulusan.
Firza berhenti sejenak dari kegiatannya, menatap Ami lama. "Aku juga nggak pernah nyangka, Ami. Tapi aku bersyukur banget itu kejadian."
Mereka melanjutkan berkemas dalam diam, sesekali diselingi percakapan ringan tentang kenangan-kenangan indah yang telah mereka bangun bersama—perjalanan ke Kaliurang, malam wayang, obrolan panjang di Sarasa Coffee, hingga pameran foto yang menjadi titik balik kepercayaan mereka.