Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #33

BAB 31 — FOTO TERAKHIR

Pagi itu datang terlalu cepat, seperti yang selalu terjadi ketika seseorang paling tidak menginginkannya. Firza terbangun sekitar pukul lima, mendapati Ami masih tertidur di kursi sofa ruang tamu, kepalanya bersandar pada bantal kecil yang ia bawa sendiri semalam, wajahnya tenang meski jejak air mata masih terlihat samar di pipinya.

Firza duduk sejenak memperhatikan Ami tidur, menyimpan momen itu dalam ingatannya sebaik mungkin, sebelum akhirnya membangunkannya dengan lembut. "Ami, udah subuh. Kita harus mulai siap-siap."

Ia memperhatikan wajah Ami dalam tidurnya beberapa saat lebih lama dari yang seharusnya, mencoba merekam setiap detail—bulu mata yang panjang, bibir yang sedikit terbuka, cara napasnya yang teratur—seolah ingin memastikan gambar itu tersimpan permanen dalam ingatannya, jauh lebih jelas dari sekadar foto yang bisa ia lihat kapan saja di ponselnya.

Ami terbangun perlahan, mengerjapkan mata beberapa kali sebelum kesadaran penuh kembali padanya, dan bersamaan dengan itu, kenyataan pahit hari itu juga kembali menghantam—ini adalah hari kepergian Firza.

"Jam berapa penerbangan kamu?" Ami bertanya, suaranya masih serak karena baru bangun tidur.

"Jam sembilan pagi. Kita ada waktu sekitar dua jam sebelum aku harus ke bandara," Firza menjawab, melirik jam di dinding ruang tamu yang kini hampir kosong, hanya menyisakan koper besar dan beberapa tas jinjing yang siap dibawa.

Ami terdiam sejenak, kemudian berkata dengan nada yang tiba-tiba penuh tekad. "Firza, sebelum kita ke bandara, aku pengen kita mampir dulu ke satu tempat."

"Ke mana?" Firza bertanya, sedikit bingung mengingat waktu mereka yang terbatas.

"Jalan Tirtodipuran. Tembok itu," Ami menjawab, senyum tipis mulai muncul di wajahnya meski matanya masih menyimpan kesedihan. "Aku pengen kita balik ke tempat kita pertama kali ketemu, sebelum kamu pergi."

Firza tersenyum mendengar permintaan itu, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya meski hatinya berat membayangkan perpisahan yang akan segera terjadi. "Ide bagus, Ami. Kita berangkat sekarang, biar nggak buru-buru."

Mereka bergegas menyiapkan diri, memuat koper ke dalam mobil yang telah dipesan Firza sebelumnya, dan meminta sopir untuk mampir sebentar di Jalan Tirtodipuran sebelum melanjutkan perjalanan ke bandara. Pagi itu, jalan tersebut masih sepi, kabut tipis menyelimuti bagian bawah tembok tua yang telah menjadi saksi bisu awal pertemuan mereka berbulan-bulan lalu.

Sopir yang mengantarkan mereka, seorang bapak paruh baya yang cukup senior dan familiar dengan seluk-beluk kota, sempat menoleh sekilas ke arah mereka berdua, tersenyum kecil seolah memahami situasi emosional yang sedang mereka lalui, sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan pagi yang mulai ramai oleh para pedagang yang membuka lapak mereka.

Lihat selengkapnya