Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #34

BAB 32 — PERPISAHAN DI BANDARA ADISUTJIPTO

Bandara Adisutjipto pagi itu cukup ramai, dipenuhi oleh para pelancong yang bersiap memulai perjalanan mereka masing-masing—beberapa dengan wajah bersemangat menuju liburan, beberapa dengan raut lelah setelah penerbangan panjang, dan di antara keramaian itu, Firza dan Ami berdiri berdampingan, dua sosok yang tenggelam dalam kesedihan perpisahan yang akan segera terjadi.

Suasana bandara yang ramai itu terasa kontras dengan kesunyian yang mereka rasakan berdua, seolah dunia terus berputar normal di sekitar mereka sementara waktu bagi keduanya seakan berhenti sejenak, memberi ruang untuk menyerap kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Firza memperhatikan sekelilingnya—keluarga yang saling berpelukan, pasangan muda yang tertawa riang, semua orang yang tampaknya tidak menyadari betapa berat perpisahan yang sedang dijalani dua orang di sudut ruang tunggu itu.

Mereka tiba lebih awal dari yang diperlukan, memberi mereka waktu tambahan untuk duduk bersama di area tunggu sebelum Firza harus check-in dan melewati pemeriksaan keamanan. Firza memesan dua cangkir kopi dari kedai kecil di dekat gerbang keberangkatan, meski keduanya tahu bahwa kopi itu hanya akan menjadi pengalih perhatian sementara dari kenyataan yang harus mereka hadapi.

Proses check-in berjalan lebih cepat dari yang Firza harapkan, dan dalam hati ia berharap prosesnya bisa berjalan lebih lambat, memberi mereka lebih banyak waktu bersama. Petugas maskapai yang melayaninya tersenyum ramah, tidak menyadari beban emosional yang sedang dipikul penumpang di hadapannya, hanya menjalankan tugas rutinnya seperti biasa sambil menyerahkan boarding pass.

"Kamu inget nggak, waktu pertama kali aku bilang aku bakal ke sini sebulan buat kerja jarak jauh?" Firza bertanya, mencoba mencairkan suasana yang berat dengan sedikit nostalgia. "Aku pikir ini bakal jadi liburan kerja biasa. Nggak pernah kepikiran bakal jadi kayak gini."

Ami tersenyum tipis, menyesap kopinya perlahan. "Aku juga nggak pernah nyangka bakal jatuh cinta sama orang yang awalnya aku kira cuma turis iseng motretin tembok orang."

Mereka tertawa kecil bersama, tawa yang meski diselimuti kesedihan, tetap membawa sedikit kehangatan di tengah suasana yang berat itu. Firza menggenggam tangan Ami di atas meja, menikmati sentuhan itu selagi masih bisa, menyadari bahwa dalam beberapa saat lagi, mereka harus berpisah untuk waktu yang tidak pasti.

Pengumuman dari pengeras suara bandara mulai memanggil penumpang untuk penerbangan Firza, sebuah suara yang terasa seperti lonceng kematian bagi momen kebersamaan mereka yang tersisa. Firza menghela napas panjang, menatap Ami dengan mata yang penuh emosi.

"Sepertinya udah waktunya," ia berkata pelan, suaranya bergetar menahan kesedihan yang mendalam.

Ami mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca, meski ia berusaha keras untuk tetap tegar. "Iya. Sepertinya udah waktunya."

Mereka berdiri bersama, berjalan perlahan menuju gerbang keamanan, setiap langkah terasa seperti menghitung mundur menuju perpisahan yang telah lama mereka takutkan. Di depan gerbang keamanan, tempat penumpang harus melanjutkan sendiri tanpa pengantar, mereka berhenti, saling menatap dalam diam yang penuh makna.

Lihat selengkapnya