Pesawat mendarat di Bandara Sepinggan tepat waktu, dan begitu pintu pesawat terbuka, udara panas khas Balikpapan langsung menyambut Firza, sebuah sensasi yang seharusnya terasa familiar setelah puluhan tahun tinggal di kota itu, namun kini justru terasa asing, seolah ia baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Sari sudah menunggu di area kedatangan, wajahnya menunjukkan campuran kelegaan dan kekhawatiran melihat kakaknya akhirnya tiba. "Mas Firza," ia berkata, memeluk Firza singkat sebelum mengambil salah satu tas jinjingnya. "Makasih udah pulang secepat ini."
"Gimana kondisi Ibu sekarang?" Firza bertanya, kekhawatirannya langsung kembali mendominasi pikirannya begitu menyadari realita yang harus segera ia hadapi.
"Stabil, tapi masih di rumah sakit. Dokter bilang mungkin butuh operasi kecil buat pasang ring, tapi masih nunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut," Sari menjelaskan sambil mereka berjalan menuju parkiran. "Ibu udah nanya-nanya soal kamu terus dari tadi malam."
Mereka langsung menuju rumah sakit tanpa mampir ke rumah terlebih dahulu, Firza terlalu cemas untuk menunda pertemuannya dengan sang ibu. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela mobil, menyaksikan pemandangan Balikpapan yang begitu familiar—gedung-gedung perkantoran, jalanan lebar, kilang minyak di kejauhan—namun semuanya terasa berbeda, seolah kota itu sendiri telah berubah selama ia pergi, meski Firza tahu perubahan itu sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri, bukan pada kota tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, Firza segera menuju ruang perawatan ibunya, hatinya berdebar kencang membayangkan kondisi sang ibu. Ketika ia membuka pintu, ia menemukan ibunya terbaring di ranjang rumah sakit, terlihat lebih pucat dari biasanya namun tersenyum lemah begitu melihat putranya masuk.
"Firza," ibunya berkata pelan, suaranya lemah namun penuh kehangatan. "Kamu pulang. Maaf udah ngerepotin kamu sampai harus buru-buru balik dari Jogja."
Firza segera menghampiri ranjang, menggenggam tangan ibunya erat. "Ibu nggak ngerepotin apa-apa. Ibu yang paling penting sekarang."
Mereka menghabiskan beberapa jam berikutnya di rumah sakit, Firza mendengarkan penjelasan dokter tentang kondisi ibunya, mengurus berbagai dokumen administrasi yang diperlukan, dan menemani ibunya berbincang untuk menenangkan kekhawatirannya. Di sela-sela kesibukan itu, pikiran Firza sesekali melayang jauh ke Jogja, ke Ami yang mungkin sedang menjalani harinya sendirian tanpa kehadirannya.
Dokter yang menangani ibunya, seorang wanita paruh baya dengan sikap tenang dan profesional, menjelaskan secara detail hasil pemeriksaan awal. "Kondisi jantung Ibu Anda memang perlu penanganan lebih lanjut, tapi belum dalam tahap yang mengkhawatirkan. Kami masih perlu beberapa tes tambahan sebelum memutuskan apakah operasi diperlukan atau cukup dengan pengobatan intensif."
Firza mendengarkan dengan seksama, mencatat setiap detail penting dalam pikirannya, sesekali bertanya untuk memastikan ia memahami sepenuhnya kondisi ibunya. Sari berdiri di sampingnya, sesekali menambahkan pertanyaan yang terlewat oleh Firza, keduanya bekerja sama sebagai tim untuk memastikan ibu mereka mendapatkan perawatan terbaik yang bisa mereka usahakan.