Seminggu setelah kepergian Firza, kehidupan Ami di Jogja mulai kembali pada ritme yang lebih teratur, meski kesepian akan kehadiran Firza masih terasa di setiap sudut kota yang dulu selalu mereka jelajahi bersama. Panggilan video harian mereka, meski singkat, menjadi jangkar yang menjaga Ami tetap terhubung dengan kebahagiaan yang telah mereka bangun bersama, meski dari jarak yang begitu jauh.
Setiap malam sekitar pukul sembilan, ponsel Ami akan bergetar dengan panggilan video dari Firza, sebuah ritual kecil yang telah mereka sepakati sejak hari pertama kepulangannya ke Balikpapan. Kadang percakapan mereka hanya berlangsung sepuluh menit, sekadar bertukar kabar tentang hari masing-masing; kadang bisa berjam-jam, terutama di akhir pekan ketika keduanya tidak memiliki kesibukan mendesak keesokan harinya.
Kondisi ibu Firza perlahan membaik, meski dokter menyarankan pemantauan ketat selama beberapa bulan ke depan, yang berarti kepulangan Firza ke Jogja masih belum bisa dipastikan waktunya. Kabar itu membuat Ami memahami bahwa hubungan jarak jauh mereka bukanlah fase sementara yang akan segera berakhir, melainkan kenyataan yang harus mereka jalani dengan kesabaran ekstra.
Namun di tengah rutinitas itu, dua hal besar mulai menuntut perhatian Ami secara bersamaan—janji temu dengan Reza yang telah tertunda beberapa kali, dan sebuah tawaran pekerjaan yang baru saja ia terima dari sebuah perusahaan di Solo, tawaran yang jauh lebih menjanjikan secara karier dibanding posisinya saat ini di Jogja, namun juga berarti ia harus meninggalkan kota yang telah menjadi rumah keduanya selama delapan tahun terakhir.
Kirana adalah orang pertama yang mengetahui tentang tawaran pekerjaan itu, dan reaksinya penuh dengan kekhawatiran yang bercampur dukungan. "Ami, ini kesempatan bagus buat karier kamu. Tapi kamu udah mikirin gimana ini bakal mempengaruhi hubungan kamu sama Firza?"
"Itu yang bikin aku bingung banget, Ki," Ami mengaku, duduk di kamar kosnya sambil menatap surat penawaran kerja yang tergeletak di meja. "Di satu sisi, ini kesempatan yang udah lama aku impi-impiin. Gaji lebih besar, posisi lebih tinggi, dan aku bisa lebih deket sama Bapak-Ibu buat bantu mereka kalau ada apa-apa lagi soal kesehatan Bapak."
"Tapi?" Kirana bertanya, mendorong Ami untuk melanjutkan kekhawatirannya.
"Tapi kalau aku pindah ke Solo, itu artinya aku bakal makin jauh dari semua kenangan aku sama Firza di sini. Jogja itu tempat kita ketemu, tempat kita jatuh cinta. Rasanya aneh kalau harus ninggalin semua itu, apalagi di saat hubungan kita lagi diuji jarak," Ami menjelaskan, kebingungannya jelas terlihat dari raut wajahnya yang gelisah.
Kirana duduk di samping sahabatnya, menggenggam tangannya dengan penuh empati. "Ami, aku nggak bisa mutusin ini buat kamu. Tapi coba pikirin, apa keputusan ini beneran soal ninggalin Firza, atau soal kamu ngambil kesempatan terbaik buat masa depan kamu sendiri? Firza kan udah balik ke Balikpapan. Kalian udah jalanin hubungan jarak jauh sekarang, mau kamu di Jogja atau di Solo."
Kata-kata itu membuat Ami terdiam, mempertimbangkan perspektif yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya. Selama ini, ia terlalu fokus memikirkan Jogja sebagai "tempat mereka", sehingga lupa bahwa jarak fisik dengan Firza sebenarnya sudah menjadi kenyataan sejak kepergiannya, terlepas dari apakah Ami tetap di Jogja atau pindah ke Solo.