Satu setengah bulan telah berlalu sejak Ami resmi pindah ke Solo, dan meski awalnya panggilan video harian mereka tetap konsisten seperti janji yang telah mereka buat, perlahan namun pasti, ritme komunikasi itu mulai berubah. Pekerjaan baru Ami menuntut jam kerja yang lebih panjang dan tidak menentu, sementara kondisi ibu Firza yang naik turun membuatnya harus membagi waktu antara pekerjaan, mengurus rumah sakit, dan mencoba tetap terhubung dengan Ami di tengah kelelahan yang menumpuk setiap harinya.
Firza mendapati dirinya semakin sering mengetik pesan panjang untuk Ami, hanya untuk menghapusnya sebelum terkirim, merasa pesan itu terlalu berat, terlalu menuntut, atau sekadar tidak menemukan waktu yang tepat untuk mengirimkannya di tengah jadwal Ami yang padat. Ada satu pesan yang ia tulis larut malam, ketika kerinduannya memuncak setelah seharian penuh menunggui ibunya di rumah sakit—sebuah pesan panjang tentang betapa ia merindukan Ami, tentang ketakutannya bahwa jarak ini mungkin terlalu berat untuk mereka berdua—yang akhirnya ia hapus tanpa pernah mengirimkannya, merasa tidak ingin membebani Ami dengan kekhawatirannya sendiri di tengah penyesuaian besar yang sedang Ami jalani di kota barunya.
Di sisi lain, Ami menghadapi pergumulannya sendiri. Kepindahannya ke Solo membawanya kembali berhadapan dengan wajah-wajah lama, termasuk beberapa kerabat jauh yang masih mengingat skandal pembatalan pertunangannya bertahun-tahun lalu. Meski ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi terpengaruh omongan orang, kenyataannya jauh lebih berat dari yang ia bayangkan—setiap kali menghadiri acara keluarga atau bertemu tetangga lama, ia bisa merasakan bisik-bisik dan tatapan yang mengingatkannya pada masa-masa tergelap dalam hidupnya.
Pertemuannya dengan Reza, yang akhirnya terjadi dua minggu setelah kepindahannya, juga meninggalkan bekas emosional yang lebih dalam dari yang ia perkirakan. Reza menjelaskan alasannya diam saat itu—tekanan keluarga yang begitu besar, ketakutannya sendiri untuk melawan kehendak orang tuanya, penyesalan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. Meski penjelasan itu memberi Ami sedikit pemahaman, ia juga menyadari bahwa mendengar semua itu justru membuka kembali luka yang selama ini ia kira sudah mulai sembuh.
Malam-malam setelah pertemuan itu, Ami mendapati dirinya kembali menangis sendirian, sebuah pola lama yang telah lama tidak ia alami sejak mengenal Firza. Ia tidak ingin membebani Firza dengan kesedihannya, mengingat Firza sendiri sedang menghadapi kekhawatiran besar soal kesehatan ibunya. Maka, seperti Firza, Ami juga mulai menyimpan sendiri banyak hal yang seharusnya ia bagikan, sebuah kebiasaan lama yang perlahan merayap kembali ke dalam caranya menghadapi kesulitan.
Panggilan video mereka, yang dulu bisa berlangsung berjam-jam penuh tawa dan cerita, kini menjadi lebih singkat, lebih formal—pertanyaan standar tentang kabar, pekerjaan, kesehatan, tanpa kedalaman emosional yang dulu selalu mewarnai percakapan mereka. Keduanya, tanpa saling menyadari, mulai membangun kembali tembok-tembok kecil yang dulu susah payah mereka runtuhkan bersama di Jogja.
Suatu malam, ketika Firza mencoba menghubungi Ami untuk panggilan video rutin mereka, panggilan itu tidak terjawab. Ia menunggu, mengirim pesan singkat, "Kamu lagi sibuk? Kita bisa telepon nanti kalau kamu ada waktu," tapi balasan yang datang hanya beberapa kata singkat beberapa jam kemudian: "Maaf, lagi capek banget. Besok aja ya."
Pola itu berulang beberapa kali dalam dua minggu berikutnya—janji temu video call yang terlewat, pesan yang dibalas lama, percakapan yang terasa semakin dangkal. Firza mulai merasakan kecemasan yang familiar, mengingatkannya pada hari-hari terakhir pernikahannya dengan Rasti, ketika komunikasi yang dulu hangat perlahan mengering tanpa ada yang benar-benar menyadari sampai semuanya terlambat.