Tiga minggu setelah percakapan dengan Bram yang membuatnya semakin gelisah, Firza duduk di ruang tunggu rumah sakit, menemani ibunya menjalani pemeriksaan rutin yang, syukurlah, menunjukkan hasil yang semakin membaik. Dokter menyampaikan kabar baik bahwa kondisi jantung ibunya sudah cukup stabil, dan meski masih membutuhkan pengawasan berkala, ia sudah bisa kembali menjalani aktivitas normal dengan beberapa penyesuaian pola hidup.
Kabar baik itu seharusnya membawa kelegaan besar bagi Firza, dan memang begitu adanya—tapi di sela kelegaan itu, ada juga sebuah kesadaran yang mulai menekan dadanya: kini tidak ada lagi alasan mendesak yang menahannya di Balikpapan, dan itu berarti ia harus menghadapi pertanyaan yang selama ini ia hindari—apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungannya bersama Ami, dan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaikinya.
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Firza duduk di kursi penumpang taksi daring, menatap keluar jendela ke arah jalanan Balikpapan yang sudah begitu ia kenal—jalanan yang dulu terasa membosankan dan penuh rutinitas yang menjemukan sebelum kepergiannya ke Jogja, namun kini terasa berbeda karena ia sendiri telah berubah begitu banyak sejak perjalanan itu. Ia menyadari bahwa versi dirinya yang kini duduk di taksi ini bukan lagi orang yang sama dengan yang dulu berangkat ke Jogja dengan alasan sekadar bekerja jarak jauh.
Malam itu, sepulang dari rumah sakit, Firza duduk di kamarnya, menatap gelang tenun yang masih setia melingkar di pergelangan tangannya selama berbulan-bulan terakhir. Ia mengingat kembali janji-janji yang mereka ucapkan di tepi Sungai Code, kehangatan malam terakhir mereka di Jogja, dan kontras yang menyakitkan dengan percakapan-percakapan singkat dan hambar yang telah mendominasi komunikasi mereka belakangan ini.
Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto, menggulir perlahan melewati ratusan foto Ami yang telah ia ambil selama sebulan lebih di Jogja—tawa lepasnya di Kaliurang, wajah seriusnya saat menjelaskan wayang, matanya yang berkaca-kaca di malam pengakuan mereka. Setiap foto itu seperti pengingat akan sesuatu yang begitu berharga, yang kini terasa perlahan menjauh karena ketakutan dan kelelahan yang mereka biarkan menguasai keduanya.
"Cukup," Firza bergumam pada dirinya sendiri, sebuah kata sederhana namun penuh tekad yang tiba-tiba muncul dari kedalaman hatinya. Ia teringat kembali kegagalan pernikahannya dengan Rasti, tentang bagaimana keduanya membiarkan keheningan tumbuh tanpa berusaha melawannya, sampai akhirnya terlambat untuk memperbaiki apa yang telah retak. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan Ami—orang yang telah mengajarkannya begitu banyak tentang keberanian untuk jujur, tentang pentingnya berjuang untuk sesuatu yang berharga.
Ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke arah jendela kamar, menatap lampu-lampu kota Balikpapan yang berkelip di kejauhan. Sebuah kota yang telah menjadi rumahnya sejak kecil, namun kini terasa begitu berbeda dibanding sebelum kepergiannya ke Jogja—bukan karena kotanya yang berubah, melainkan karena caranya memandang hidup yang telah bertransformasi begitu jauh sejak pertemuan sederhana di depan tembok tua di Jalan Tirtodipuran.
Ia menelepon Sari malam itu juga, menjelaskan niatnya untuk mengambil cuti beberapa hari dan terbang ke Solo, mengingat kondisi ibu mereka yang sudah cukup stabil untuk ditinggal sementara waktu. "Aku pikir udah waktunya aku berhenti nunggu keadaan membaik sendiri, Sar. Aku harus dateng langsung, ketemu Ami, dan benerin apa pun yang udah mulai retak di antara kita."
"Akhirnya, Mas," Sari menjawab dengan nada lega yang jelas terdengar. "Aku udah lama nunggu kamu bilang gitu. Pergi aja, aku bisa jagain Ibu di sini. Kamu udah cukup lama nahan diri buat urusan keluarga, sekarang giliran kamu urus hati kamu sendiri."