Pesawat Firza transit di Jakarta selama hampir dua jam, sebuah jeda yang terasa begitu panjang di tengah kegugupannya menanti pertemuan dengan Ami. Ia menghabiskan waktu tunggu itu dengan mondar-mandir di area boarding, sesekali memeriksa ponselnya untuk memastikan tidak ada pesan mendadak dari Kirana yang bisa mengacaukan rencananya, dan berulang kali membayangkan bagaimana ekspresi Ami nanti ketika melihatnya tiba-tiba muncul di rumah orang tuanya di Solo.
Ia sempat duduk di salah satu kafe bandara, memesan secangkir kopi yang tidak benar-benar ia nikmati, pikirannya terlalu sibuk menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan ketika bertemu Ami nanti. Ia telah menulis dan menghapus berbagai skenario percakapan pembuka dalam kepalanya, dari yang formal hingga yang penuh emosi, namun tidak satu pun terasa cukup tepat untuk menggambarkan kerinduan dan tekad yang ia bawa dalam perjalanan ini.
Yang tidak diketahui Firza adalah bahwa pada saat yang hampir bersamaan, di bandara Adisutjipto Jogja, Ami juga sedang menunggu penerbangan—bukan menuju Balikpapan seperti yang mungkin diduga, melainkan penerbangan transit menuju Jakarta, dengan tujuan akhir yang sama sekali tak disangka Firza: Balikpapan.
Setelah menerima nasihat tegas dari Kirana beberapa hari sebelumnya, Ami akhirnya menyadari bahwa dirinya juga telah membiarkan ketakutan menguasai keberaniannya untuk berjuang bagi hubungan mereka. Ia mengambil cuti dari pekerjaan barunya, sebuah keputusan berani mengingat ia baru saja bekerja di sana kurang dari dua bulan, dan memutuskan untuk terbang langsung menemui Firza di Balikpapan, ingin memberikan kejutan yang sama seperti yang direncanakan Firza tanpa mengetahui rencana satu sama lain.
Malam sebelum keberangkatannya, Ami juga menulis pesan panjang untuk Firza, sama seperti yang sering ia lakukan belakangan ini namun tidak pernah ia kirimkan. Kali ini, alih-alih menyimpannya sebagai draf yang terlupakan, ia memutuskan untuk mengubah kata-kata itu menjadi tindakan nyata—sebuah keberangkatan mendadak yang penuh risiko, namun terasa jauh lebih jujur dibanding ribuan kata yang selama ini tertahan di ruang digital yang sunyi.
Kedua pesawat itu, secara kebetulan yang hampir tidak masuk akal, transit di bandara yang sama di Jakarta pada rentang waktu yang berdekatan. Namun di tengah keramaian bandara yang begitu luas, dengan ribuan penumpang berlalu lalang di berbagai terminal, keduanya tidak menyadari betapa dekatnya mereka berada satu sama lain siang itu.
Firza, yang sudah menaiki pesawat lanjutannya menuju Solo, sempat merasakan firasat aneh ketika melihat sekilas seorang perempuan berhijab yang mirip Ami berjalan tergesa di kejauhan menuju gerbang keberangkatan yang berbeda, namun ia segera menepis pikiran itu, menganggapnya hanya kebetulan biasa mengingat banyaknya orang yang mengenakan busana serupa di bandara sebesar itu.
Sementara itu, dalam perjalanan menuju Balikpapan, Ami menerima telepon dari Kirana yang terdengar panik. "Ami, kamu di mana sekarang? Firza... Firza lagi otw ke Solo buat nemuin kamu!"
Ami membeku mendengar kabar itu, ponselnya nyaris terjatuh dari genggamannya. "Ki, aku... aku lagi di pesawat menuju Balikpapan. Aku juga mau nemuin dia."
Keheningan sesaat terjadi di ujung telepon sebelum akhirnya Kirana tertawa, campuran antara geli dan terharu mendengar kebetulan yang begitu ironis itu. "Ya ampun, kalian berdua emang jodoh susah move on sama kebiasaan bikin kejutan yang malah nyasar begini."
Setelah menutup telepon, Ami duduk termenung di kursi pesawatnya, mencerna situasi yang begitu tidak terduga ini. Ia segera menghubungi Firza lewat pesan, meski sinyal di pesawat membuat pesan itu baru terkirim setelah mereka mendarat beberapa jam kemudian.