Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #40

BAB 38 — JOGJA YANG SINGGAH DI HIDUPNYA

Enam bulan telah berlalu sejak pertemuan tak terduga di rumah orang tua Ami di Solo, dan banyak hal telah berubah sejak hari yang penuh drama dan tawa itu. Firza akhirnya memutuskan untuk mengajukan kepindahan kerja sepenuhnya menjadi konsultan lepas berbasis remote, memungkinkannya membagi waktu antara Balikpapan—untuk tetap dekat dengan ibunya yang kondisinya kini jauh lebih stabil—dan Solo, tempat Ami membangun karier barunya dengan penuh keberanian.

Keputusan itu tidak datang tanpa pertimbangan panjang. Firza sempat berdiskusi berminggu-minggu dengan Pak Hardi dan beberapa klien lamanya, meyakinkan mereka bahwa kualitas kerjanya tidak akan berkurang meski ia tidak lagi terikat pada satu lokasi tetap. Keberaniannya mengambil risiko itu, yang dulu terasa mustahil baginya sebelum mengenal Ami, kini terasa seperti langkah alami dari seseorang yang telah belajar bahwa hidup yang bermakna kadang menuntut keluar dari zona nyaman yang selama ini ia bangun.

Bulan-bulan setelah pertemuan mengharukan di Solo itu dipenuhi dengan proses penyesuaian yang tidak selalu mudah, namun jauh lebih penuh komunikasi dan kejujuran dibanding periode-periode sulit sebelumnya. Mereka belajar untuk lebih terbuka soal kelelahan masing-masing, untuk tidak lagi menyimpan kekhawatiran sendirian, dan untuk saling mengingatkan bahwa jarak bukanlah alasan untuk berhenti berkomunikasi dengan jujur.

Pernikahan mereka dilangsungkan sederhana namun penuh makna di sebuah rumah joglo kecil di pinggiran Solo, dihadiri keluarga dan sahabat-sahabat terdekat—Bram yang datang jauh-jauh dari Balikpapan dengan sederet kalimat sindiran romantis khasnya, Kirana yang menangis lebih banyak dari mempelai wanita sendiri, dan Sari yang sibuk mengambil ratusan foto sepanjang acara, seolah ingin mengabadikan setiap detik kebahagiaan kakaknya.

Kedua orang tua Ami menyambut Firza dengan hangat, jauh dari kekhawatiran yang sempat menyelimuti pertemuan pertama mereka yang penuh drama beberapa bulan sebelumnya. Ayah Ami, yang kesehatannya kini jauh lebih stabil berkat perawatan yang konsisten, bahkan sempat berbisik pada Firza di sela-sela resepsi, "Saya seneng banget lihat Ami akhirnya nemuin orang yang bisa bikin dia berani lagi jadi dirinya sendiri, bukan orang yang selalu takut sama omongan orang."

Reza, yang kini telah menikah dengan wanita lain dan tinggal di kota berbeda, turut mengirimkan ucapan selamat lewat pesan singkat kepada Ami, sebuah gestur kecil yang menandakan bahwa kedua belah pihak akhirnya telah menemukan penutupan yang sehat atas babak masa lalu yang pernah begitu menyakitkan. Ami membaca pesan itu dengan tenang, tanpa lagi merasakan gejolak emosi yang dulu selalu menyertai nama itu, sebuah tanda nyata bahwa proses penyembuhannya telah benar-benar tuntas.

Bu Wening, pemilik rumah sewaan Firza di Jogja dulu, juga turut diundang dan datang dengan wajah berbinar bangga, membawa oleh-oleh kue kering buatannya sendiri sebagai hadiah pernikahan. "Saya bilang apa dulu, Mas Firza sama Mbak Ami emang jodoh," katanya sambil terkekeh, mengingatkan pasangan itu pada bulan-bulan awal perjalanan mereka yang penuh ketidakpastian.

Sore itu, beberapa minggu setelah pernikahan mereka, Firza dan Ami memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat kembali ke Jogja, kota yang telah menjadi saksi awal mula kisah cinta mereka. Mereka berjalan menyusuri Jalan Tirtodipuran, menuju tembok putih tua yang dulu menjadi tempat pertemuan pertama mereka, kini dengan status yang jauh berbeda—bukan lagi dua orang asing yang bertukar candaan tentang tembok orang, melainkan sepasang suami istri yang telah melewati begitu banyak ujian bersama.

"Masih inget nggak, pertama kali kita ketemu di sini, kamu ngomelin aku gara-gara motret tembok orang?" Firza bertanya sambil tersenyum, mengangkat kameranya untuk mengambil foto tembok yang sama, kini dengan cahaya sore yang jatuh persis seperti hari itu bertahun-tahun lalu.

Lihat selengkapnya