Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #41

EPILOG

Tiga tahun setelah pernikahan sederhana di rumah joglo kecil pinggiran Solo, Firza berdiri lagi di depan tembok putih tua di Jalan Tirtodipuran, kali ini bukan sendirian, dan bukan pula hanya berdua dengan Ami. Di gendongannya, seorang anak perempuan berusia satu setengah tahun meronta kecil, matanya yang bulat menatap penasaran ke arah kamera yang diacungkan ayahnya, seolah sudah mewarisi rasa ingin tahu yang sama terhadap cahaya dan bayangan.

"Rani, liat sini sebentar," Firza berkata lembut, mencoba mengarahkan perhatian putrinya ke lensa kamera, meski anak sekecil itu jelas lebih tertarik pada seekor kucing liar yang melintas di seberang jalan daripada pada permintaan ayahnya.

Ami berdiri di samping mereka, menggendong tas kecil berisi perlengkapan anak, tersenyum menyaksikan momen yang terasa begitu jauh dari bayangan hidupnya bertahun-tahun lalu—masa ketika ia masih seorang perempuan muda yang takut membuka hati, yang menjaga jarak dari siapa pun yang mendekat terlalu cepat, yang bersembunyi di balik tawa yang dipaksakan setiap kali dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.

"Kamu inget nggak," Ami berkata, menyandarkan kepala sejenak di bahu Firza, "dulu di tempat ini juga, kamu pertama kali motret aku diam-diam, tanpa aku sadari."

"Gimana aku bisa lupa," Firza menjawab, tertawa kecil. "Itu foto yang paling berharga yang pernah aku ambil, meskipun blur setengah mati."

Mereka kini tinggal di Jogja sepenuhnya—sebuah keputusan yang mereka ambil bersama setahun setelah pernikahan, ketika pekerjaan Firza yang sudah sepenuhnya remote memberi mereka kebebasan untuk memilih kota mana pun sebagai rumah, dan ketika Ami, setelah menyelesaikan masa kontraknya di Solo, merasa telah cukup berdamai dengan masa lalunya di sana untuk kembali memilih kota yang pertama kali mempertemukan mereka sebagai tempat membesarkan keluarga kecil mereka.

Lihat selengkapnya