Kuil Mata Air tidak mempunyai pintu.
Lucian Varro selalu menganggap hal itu aneh bagi bangunan yang memiliki sebuah kunci.
Orang-orang datang dari empat jalan besar menuju pelatarannya tanpa melewati gerbang atau pemeriksaan. Mereka berjalan di antara pilar-pilar batu putih yang berdiri melingkar, membawa bunga, dupa, kain doa, patung kecil, lempengan bertulis nama leluhur, dan lambang dewa-dewa yang bahkan tidak dikenal Lucian.
Di tengah kompleks itu, air memancar dari celah batu hitam.
Airnya mengalir ke sebuah kolam bundar, lalu turun melalui enam saluran menuju kolam-kolam yang lebih kecil. Matahari pagi menyentuh permukaannya dan memecah menjadi kilatan biru, keemasan, serta warna ungu yang hanya muncul di tempat dengan aliran mana kuat.
Tidak ada atap di atas mata air. Hanya langit.
Dari sanalah orang-orang menyebutnya Kuil Seribu Lambang-meskipun nama resminya, yang terukir pada lengkungan batu, adalah Templum Radicis, Kuil Akar.
"Jangan menengadah terus," kata Aurelia Varro. "Lihat jalanmu."
Lucian segera menurunkan pandangan.
Ia hampir menabrak seorang pendeta gurun yang sedang membawa tiang dengan kain merah panjang. Peti kayu dalam pelukannya miring. Dari dalamnya terdengar benturan kecil.
Ibunya menoleh tajam.
"Kalau kristalnya retak, upah dua pekan kita ikut bisa ikut lenyap."
"Iya aku tahu, aku sudah memegangnya dengan erat."
"Kau juga mengatakan begitu ketika menjatuhkan lampu milik Nyonya Flavia."
"Nggak sama, itu karena kucingnya melompat ke meja."
"Yang bener? mung kucningnya tidur dihalaman."
"Eh, berarti ada kucing lain."
Ibunya mendengus, lalu meneruskan langkah.
Aurelia mengenakan tunik kerja berwarna cokelat dengan selendang biru gelap menutupi rambut. Di pinggangnya tergantung pisau ukir, penggaris kuningan, dan seutas tali berisi kepingan-kepingan rune percobaan. Ia tampak seperti hendak bekerja di bengkel, bukan menghadiri upacara paling penting di Fontia.
Namun mereka memang datang untuk bekerja.
Atelier tempat ibunya bekerja mendapat tugas memperbaiki enam lampu upacara milik Dewan. Bingkai perunggunya telah dibersihkan, rune pengatur cahaya ditatah ulang, dan kristal-kristalnya diisi dengan mana. Lima lampu sudah dipasang sejak malam sebelumnya.
Lampu keenam ada di dalam peti yang dibawa Lucian.
Seandainya bukan karena salah satu pengrajin jatuh sakit, Lucian mungkin masih berada di rumah pada pagi itu. Ia tidak terlalu tertarik melihat enam orang tua menyerahkan kunci dari satu tangan ke tangan lain. Akan tetapi, ibunya membutuhkan bantuan, dan sebagai gantinya ia berjanji akan memberi Lucian dua keping tembaga.
Dua keping cukup untuk membeli roti madu dan menyewa satu gulungan kisah perjalanan dari perpustakaan pasar.
Menurut Lucian, itu pertukaran yang adil.
Mereka mencapai bagian dalam pelataran. Kerumunan semakin rapat di sana. Aroma dupa bercampur dengan minyak rambut, bunga, keringat, roti panggang, dan bulu hewan tunggangan.
Upacara itu terbuka bagi semua warga, tetapi tidak berarti semua warga dapat berdiri di tempat yang sama.
Para pemimpin serikat dagang menempati undakan pertama di sisi mata air. Di belakang mereka berdiri keluarga-keluarga tua Fontia dalam jubah putih. Utusan kerajaan asing memperoleh tempat beratap kain. Para pengrajin, pekerja, pendatang, dan pengangkut barang berdesakan di bagian luar pelataran.
Lucian melihat beberapa anak memanjat pangkal pilar agar dapat menyaksikan prosesi. Seorang penjaga menyuruh mereka turun, tetapi membiarkan putra seorang saudagar duduk di atas pagar kolam.
"Bu, kok anak itu boleh duduk disana?" tanya Lucian.
Ibunya mengikuti arah pandangannya.
"Ssst.. Jangan keras-keras, itu karena.. ayahnya menyumbangkan tiga peti kristal untuk kuil." Ibunya menjawab dengan berbisik.
"gimana maksudnya?" tanya Lucian lagi.
"pokoknya, tiga peti kristal bisa berhubungan dengan hampir semua hal."
Sebelum Lucian sempat bertanya lagi, seseorang melambai dari bawah deretan pilar.
"Lucian!"
Seorang gadis seusianya berlari mendekat sambil membawa beberapa gulungan yang diikat pada dadanya. Rambut hitamnya dikepang terburu-buru, dan noda tinta memenuhi dua jarinya.
"Livia," sapa Aurelia. "Ayahmu sudah berada di perpustakaan?"
"Iya bu, sejak sebelum matahari terbit. Dewan meminta salinan sumpah dari seratus dua belas tahun terakhir." Livia memutar mata. "Seolah-olah kata-katanya pernah berubah."
"Mungkin mereka berharap menemukan sumpah yang lebih mudah ditepati."
Livia tertawa kecil, tetapi Aurelia sudah kembali berjalan.
"Livia, tolong bantu Lucian memasang lampu terakhir," katanya. "Aku harus menemui kepala atelier."
Lucian menyerahkan peti kepada Livia agar dapat mengendurkan lengannya.
Gadis itu hampir menjatuhkannya.