Cassian Varro pulang dengan seekor unta yang bukan miliknya, sebuah luka di pelipis, dan tiga orang penjaga kota mengejarnya sampai ke ujung jalan.
Lucian baru saja membantu ibunya menurunkan perkakas dari kereta atelier ketika suara lonceng kecil terdengar dari arah Porta Serica. Orang-orang di jalan menoleh. Seekor unta berbulu cokelat berlari di antara gerobak buah, keranjang kain, dan para pejalan kaki yang buru-buru menyingkir.
Di atasnya duduk seorang pemuda berjubah perjalanan penuh debu.
"Buka jalan!" serunya sambil tertawa. "Utusan penting dari timur!"
Unta itu berhenti mendadak di depan rumah keluarga Varro.
Penunggangnya hampir terlempar melewati kepala hewan, tetapi berhasil meraih tali pelana. Sebuah gulungan besar yang terikat di punggungnya terlepas dan jatuh ke tanah.
Lucian mengenali suara itu lebih dahulu daripada wajahnya.
"Cassian!"
Kakaknya turun dengan cara yang sama sekali tidak anggun. Satu kakinya tersangkut pelana, membuatnya bergelantungan sesaat sebelum akhirnya mendarat dengan kedua lutut.
Ia bangkit, membersihkan tuniknya, lalu merentangkan tangan seolah kedatangannya memang direncanakan demikian.
"Adikku!" katanya. "Kau tumbuh pendek selama aku pergi."
Lucian berlari dan menabraknya dalam pelukan.
Cassian mengerang.
"Pelan. Ada bagian tubuhku yang masih ingin kupakai."
Lucian melepaskannya. "Kau terluka?"
"Ini?" Cassian menyentuh luka tipis di pelipisnya. "bukan apa-apa, hanya kenang-kenangan dari penginapan di Aurea."
"Ada yang menyerangmu?"
"Balok pintunya terlalu rendah."
Tiga penjaga kota tiba beberapa saat kemudian. Salah satunya menunjuk unta tersebut.
"Itu milik rombongan utusan timur!"
"Aku hanya meminjamnya," kata Cassian.
"Kau mengambilnya tanpa izin."
"Karena pemiliknya tertinggal di rumah singgah. Kalau aku menunggu izin, hewannya sudah mengikuti karavan lain menuju barat."
"Lalu kenapa kau menungganginya?"
Cassian melihat Lucian seolah jawaban itu sudah jelas.
"Supaya tidak hilang."
Sang penjaga membuka mulut, tetapi Aurelia muncul dari dalam rumah sambil membawa penggaris kayu panjang.
Tatapannya berpindah dari putra sulungnya, menuju luka di pelipis, lalu kepada unta dan ketiga penjaga.
Cassian tersenyum lebar.
"Ibu."
"Kau terlambat enam hari."
"Kami harus memutar karena badai pasir."
"Kau tidak mengirim kabar."
"Kristal pesannya retak."
"Kau terluka."
"Hanya kejedot balok pintu."
Aurelia menatapnya lama. Kemudian ia memukul bahu Cassian dengan penggaris.
Cassian tertawa dan memeluknya.
Untuk beberapa saat Aurelia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mencengkeram bagian belakang jubah putranya, seakan-akan hendak memastikan Cassian benar-benar berdiri di sana.
"Masuklah," katanya setelah melepaskan pelukan. "Kau bau unta."
"Unta tidak seburuk itu."
Unta tersebut mendengus tepat di belakangnya.
Aurelia menutup hidung. "Bawa juga makhluk itu ke kandang rumah singgah sebelum tetangga mengira kita mulai berdagang ternak."
---
Menjelang sore, rumah keluarga Varro dipenuhi barang-barang dari perjalanan Cassian.
Ia mengeluarkannya satu per satu dari dua peti kulit: seikat kayu harum dari selatan, sekantong kurma berwarna hampir hitam, gulungan kain biru dari kerajaan timur, botol tinta yang berubah warna ketika terkena cahaya, dan sebuah patung naga kecil dari besi.
Patung itu diletakkannya di depan Lucian.
"Untukku?"
"Tidak. Untuk tikus di dapur. Tentu saja untukmu."
Lucian mengangkat patung tersebut. Sisik-sisiknya dibuat dari lempengan logam kecil yang dapat bergerak ketika ekornya diputar.
"Ini buatan dwarf?"
"Dibuat di kaki Montes Nivales. Pedagangnya bersumpah pandai besi yang membuatnya pernah melihat naga sungguhan."
"Dia benar-benar pernah melihatnya?"
"Mungkin. Tapi dia juga bersumpah bahwa besi ini tidak dapat berkarat, padahal aku menemukan karat di bagian ekornya."
Lucian memeriksanya dan menemukan bercak cokelat kecil.
"Kau tetap membelinya?"
"Aku menawar sampai harganya lebih murah daripada sekantong kacang."
"Kau menipu pedagang itu?"
Cassian meletakkan tangan di dada, berpura-pura tersinggung.
"Aku tidak pernah menipu. Aku hanya membantu orang lain menyadari bahwa harga pertama mereka kurang masuk akal."
Aurelia sedang memeriksa kain biru di dekat jendela. "Kakakmu pernah menjual kendi retak kepada seorang kolektor dari barat."