Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #4

Bab 3 - Harga Pengetahuan

Di Fontia, sebuah buku yang baik dapat berharga lebih mahal daripada seekor unta tua.

Bukan karena pengetahuan di dalamnya selalu berharga. Ada buku yang hanya berisi silsilah keluarga bangsawan, kumpulan doa yang sama dalam dua puluh susunan berbeda, atau pujian sepanjang seratus halaman kepada seorang raja yang telah lama meninggal.

Yang mahal adalah proses membuatnya.

Kulit harus dibersihkan dan direntangkan menjadi lembaran. Tinta memerlukan jelaga, getah, minyak, dan bahan pewarna. Seorang penyalin dapat menghabiskan berbulan-bulan menulis satu naskah. Setelah selesai, buku masih harus dijahit, diberi sampul, lalu disimpan agar tidak dimakan serangga atau rusak oleh kelembapan.

Karena itu, kebanyakan orang Fontia tidak membaca cerita.

Mereka mendengarkannya.

Di pasar, pencerita keliling mengumpulkan orang dengan kisah naga utara, raja elf, pelaut yang menemukan pulau kristal, atau pedagang yang menipu dewa gurun. Para pekerja menghafalkan hitungan melalui lagu. Pengrajin mewariskan bentuk rune dari mulut ke mulut. Anak-anak mengetahui sejarah keluarga dari kisah yang diulang setiap malam.

Lucian juga tumbuh dengan cara demikian.

Namun ujian karavan tidak menerima jawaban yang dinyanyikan.

"Dua puluh tujuh," jawab Lucian.

Cassian menggeleng.

"Tiga puluh."

"Bagaimana bisa?"

"Kau membeli dua belas gulung kain dengan harga dua denarius per gulung. Pajak gerbangnya seperempat harga barang. Berapa semuanya?"

"Dua puluh empat ditambah enam." Lucian menghela napas. "Tiga puluh."

"Benar."

"Tapi siapa yang menarik pajak seperempat harga?"

"Civitas Brunna."

"Kenapa setinggi itu?"

"Penguasanya sedang membangun menara."

"Itu bukan urusan pedagang."

"Bagi penguasa, segala sesuatu adalah urusan pedagang jika pedagang masih mempunyai uang."

Cassian melemparkan tiga belas biji kurma kering ke atas meja. Mereka sudah menggunakan biji-biji itu untuk berhitung sejak pagi. Beberapa diberi goresan untuk melambangkan peti, sebagian lain mewakili denarius dan pajak.

Lucian bersandar di kursi.

"Boleh istirahat?"

Cassian melirik bayangan matahari di lantai.

"Kita baru belajar satu jam."

"Rasanya seperti tiga."

"Di gurun, itu berarti kau hanya perlu menunggu dua jam lagi."

Lucian mengambil satu biji kurma dan melemparkannya ke arah kakaknya. Cassian menangkapnya, lalu melemparkan dua kembali.

"Kalau ujian hanya menghitung harga barang, aku bisa lulus," kata Lucian.

"Ujiannya bukan hanya menghitung harga."

"Aku tahu."

"Ulangi."

Lucian menunjuk lima kata yang masih tertulis di tepi peta:

"Legere, scribere, numerare, merces, mana. Membaca, menulis, berhitung, barang dagangan, dan mana."

"Enam."

"Yang tertulis hanya lima."

"Kesabaran tidak ditulis, tetapi paling sering diuji."

Cassian berdiri dan mengambil sebuah papan kayu tipis. Permukaannya dilapisi lilin hitam yang telah penuh goresan.

Itulah alat tulis pertama yang dimiliki Lucian. Cassian membelinya dalam perjalanan terakhir karena kertas terlalu mahal untuk latihan. Setelah tulisan selesai, lapisan lilinnya dapat dipanaskan dan diratakan untuk digunakan kembali.

"Salin ini."

Cassian menulis:

Tres amphorae olei ad Portam Orientalem feruntur.


Lucian mengenali beberapa katanya.

"Tiga wadah minyak dibawa ke Gerbang Timur."

"Amphora bukan sekadar wadah."

"Tempayan."

"Lebih tepat."

Lucian mulai menyalinnya. Ia menekan stilus terlalu kuat sehingga ujungnya menembus lilin dan menggores kayu di bawahnya.

Cassian menarik papan itu.

"Pelan. Kau sedang menulis, bukan menikam seseorang."

"Hurufnya terlalu kecil."

"Surat jalan ditulis lebih kecil daripada itu."

"Kenapa?"

"Supaya pejabat dapat mengenakan denda ketika pedagang salah membacanya."

Lucian tidak tahu apakah kakaknya bercanda.

Dalam dua pekan pertama, ia baru menyadari betapa sedikit yang benar-benar diketahuinya.

Ia dapat membaca nama toko, mengenali angka pada harga, dan menulis namanya sendiri. Itu cukup bagi kebanyakan anak pengrajin atau pedagang kecil. Kontrak keluarga biasanya dibacakan oleh juru tulis. Perhitungan rumit diserahkan kepada kepala serikat. Pengetahuan tentang jalur dagang disampaikan melalui percakapan di rumah singgah.

Namun pedagang karavan membutuhkan lebih dari itu.

Satu kata yang keliru dalam surat jalan dapat membuat barang disita. Salah membaca tanda pada peti kristal dapat menyebabkan kebakaran. Kesalahan menghitung air baru diketahui ketika rombongan sudah berada dua hari dari mata air terdekat.

Lucian mulai memahami maksud Cassian: jalan tidak peduli apakah ia mempunyai niat baik.

Jalan hanya peduli apakah ia siap.

Livia datang tiga hari sekali setelah tugasnya di perpustakaan selesai.

Ia tidak pernah membawa buku.

Pada pertemuan pertama, Lucian kecewa melihatnya hanya membawa enam lembar kulit tipis yang sudah penuh tulisan pudar.

"Di mana bukunya?" tanyanya.

"Di perpustakaan."

"Aku tahu. Maksudku, buku yang akan kita pakai."

"Buku perpustakaan tidak boleh keluar."

"Ayahmu penjaga perpustakaan."

"Justru karena itu ia bisa kehilangan pekerjaannya kalau aku membawa buku keluar."

Livia membentangkan lembaran-lembaran tersebut. Tulisan lama di permukaannya telah dikikis, tetapi bayangan huruf sebelumnya masih terlihat di bawah tulisan baru.

"Aku mendapat lembaran bekas dari ruang penyalinan."

"Bekas?"

"Daftar persembahan yang sudah tidak berlaku. Kita bisa menulis di bagian belakangnya."

Lucian mengangkat salah satu lembar. "Tulisan lamanya masih terlihat."

"Kalau kau menginginkan kulit baru, jual rumahmu."

Livia juga membawa potongan arang, sebuah stilus tulang, serta catatan yang ditulis sangat rapat. Ia membuat salinan itu sambil mendengarkan ayahnya membacakan buku pedoman karavan.

Ia tidak diperbolehkan membuka buku tersebut sendiri.

"Ayahmu membaca semuanya untukmu?"

"Hanya bagian yang ia ingat."

"Kenapa tidak membacakannya langsung kepadaku?"

"Karena saat perpustakaan tutup, ia harus menghitung gulungan, memeriksa rantai buku, membersihkan jamur, dan menyalin daftar pinjaman."

Lihat selengkapnya