Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #5

Bab 4 - Buku yang seharusnya tidak ada

Bola air Lucian pecah untuk kesembilan kalinya sebelum matahari mencapai puncak pilar.

Air menyiram sandal Livia.

Gadis itu menunduk, memandangi kakinya yang basah, lalu menatap Lucian.

"Maaf."

"Kau mengatakan itu pada percobaan ketiga."

"Yang ketiga membasahi gulunganmu."

"Percobaan kelima membasahi dinding."

"Yang ini hanya sandal."

"Jadi kau memang berkembang. Sekarang kegagalanmu lebih terarah."

Mereka berlatih di pelataran belakang Bibliotheca Fontis, di antara gudang gulungan dan saluran air menuju kebun kuil. Tempat itu jarang dilewati orang kecuali petugas perpustakaan, sehingga Lucian dapat berlatih tanpa ditertawakan peserta ujian lain.

Sebuah mangkuk tanah liat diletakkan di atas bangku. Di belakangnya berdiri tiga lingkaran kayu yang dibuat Cassian.

Lucian mengangkat tangannya sekali lagi.

Aqua, in orbem forma te.


Air bergetar, naik, lalu membentuk bola sebesar kepalan.

"Jangan mendorongnya," kata Livia.

"Aku tidak mendorong."

"Bahu kananmu maju."

Lucian menurunkan bahunya.

Bola air bergerak melewati lingkaran pertama.

"Jangan melihat bagian yang tumpah," lanjut Livia. "Lihat bentuk utuhnya."

"Aku harus melihat bagian yang tumpah agar bisa memperbaikinya."

"Itulah masalahmu. Setiap kali ada bagian yang berubah, kau mengejarnya. Akhirnya bagian lain ikut lepas."

Bola itu mencapai lingkaran kedua. Permukaannya bergetar.

"Bayangkan batasnya," kata Livia. "Bukan airnya."

Lucian berusaha membayangkan sebuah lingkaran yang menyelubungi bola tersebut. Namun lingkaran dalam pikirannya tidak pernah benar-benar bulat. Satu sisinya selalu melebar, kemudian sisi lain menyusut.

Pada denyut keempat, bola air pecah lagi.

Kali ini sebagian besar jatuh ke dalam mangkuk.

Lucian mengembuskan napas panjang.

"Lebih baik," kata Livia.

"nggak, masih gagal."

"Kalau kau berharap berubah menjadi penyihir dalam satu pagi, kau membaca terlalu banyak cerita."

Livia mengambil sepotong arang dan menggambar sebuah lingkaran di atas batu. Lingkarannya hampir sempurna.

"Rapalanmu sudah tepat," katanya. "Mana yang kau alirkan juga cukup. Masalahnya ada pada bentuk."

"Aku tahu."

"Tidak. Kau tahu kata 'bentuk'. Kau belum memahami bentuknya."

"Apa bedanya?"

Livia menambahkan titik di tengah lingkaran, kemudian enam garis pendek pada tepinya.

"Kalau kau hanya membayangkan air, pikiranmu harus mengendalikan setiap bagian air sekaligus. Tapi rune tidak bekerja begitu. Rune membuat batas, lalu mana mengisi batas tersebut."

"Aku menggunakan rapalan, bukan rune."

"Prinsipnya sama."

Lucian memandangi gambar itu.

"Dari mana kau mempelajarinya?"

"Dari buku dasar pembentukan elemen."

"Boleh aku membacanya?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena buku itu berada di ruang koleksi kedua."

"Kau bisa menyalinnya."

"Buku itu dirantai ke meja."

"Bacakan kepadaku."

"Aku juga tidak boleh masuk ke ruang koleksi kedua."

Lucian mengerutkan dahi. "Lalu bagaimana kau tahu isinya?"

Livia berhenti sejenak.

"Aku mendengarkan ketika seorang cendekiawan membacakannya kepada putra anggota Dewan."

"Tentu saja putra anggota Dewan boleh membacanya."

"Dia tidak membacanya. Cendekiawan itu yang membaca. Anak itu tertidur sebelum sampai halaman keenam."

Lucian memandangi bola air yang telah kembali memenuhi mangkuk.

Pengetahuan yang dapat membantunya tergantung beberapa puluh langkah dari tempat mereka berdiri. Namun beberapa puluh langkah di perpustakaan dapat lebih sulit ditempuh daripada ratusan mil di gurun.

"Tidak ada buku lain?"

Livia mengeluarkan selembar catatan dari tasnya.

"Aku sudah memeriksa daftar koleksi."

"Kau boleh memeriksa daftar?"

"Daftar bukan buku. Orang-orang berkuasa tidak terlalu peduli siapa yang membaca daftar, selama mereka tetap menguasai benda yang tercatat di dalamnya."

Ia menyerahkan lembar tersebut kepada Lucian. Isinya berupa judul-judul yang ditulis rapat dalam Lingua Antiqua.

De Forma Aquae.

Tentang Bentuk Air.

Formulae Elementorum Minorum.

Rumusan Elemen-Elemen Rendah.

Geometria Radicum.

Geometri Akar.

Sebagian diberi tanda lingkaran yang menunjukkan koleksi terbatas. Dua judul memiliki garis merah: hanya dapat dibaca dengan izin Dewan Penjaga Kuil.

Pada bagian bawah terdapat satu judul yang berbeda.

Bukan buku tentang sihir.

Itinerarium Marcelli Varro: Viae Orientales et Meridionales.


Catatan Perjalanan Marcellus Varro: Jalur Timur dan Selatan.

Lucian membacanya dua kali.

"Itu nama Ayah."

"Aku tahu."

"Banyak orang bernama Marcellus."

"Berapa banyak Marcellus Varro yang menjadi pedagang dan melakukan perjalanan ke timur serta selatan?"

Lucian tidak menjawab.

Di samping judul tersebut tercantum nomor rak, tahun penerimaan, dan keadaan naskah:

Tidak lengkap. Beberapa lembar hilang. Akses terbatas atas permintaan penyumbang.

"Siapa penyumbangnya?" tanya Lucian.

"Tidak tercatat dalam daftar umum."

"Ibu mengatakan buku-buku Ayah dijual untuk membayar utang."

"Mungkin salah satunya dibeli perpustakaan."

"Kalau dibeli, kenapa aksesnya dibatasi?"

Livia melipat kembali daftar itu.

"Itulah yang ingin kuketahui."

Aula utama Bibliotheca Fontis terbuka bagi siapa saja.

Setidaknya, itulah tulisan pada prasasti di pintunya:

Scientia omnibus gentibus lumen est.


Pengetahuan adalah cahaya bagi seluruh bangsa.

Di dalamnya, puluhan orang duduk di atas bangku batu mendengarkan seorang juru baca membawakan kisah pendirian Fontia. Para pekerja yang sedang beristirahat berdiri di dekat pintu. Anak-anak duduk di lantai. Seorang perempuan tua mengulang setiap kalimat pelan-pelan agar dapat menghafalnya.

Di sisi lain aula terdapat meja para juru tulis. Dengan satu keping tembaga, seseorang dapat meminta surat dibacakan. Dengan tiga keping, mereka dapat meminta balasan ditulis. Untuk kontrak dagang, harganya lebih mahal.

Namun bagian perpustakaan yang sebenarnya dimulai setelah deretan tiang di belakang aula.

Pintu pertama menuju ruang koleksi umum. Pedagang terdaftar, pengrajin ahli, dan murid kuil boleh masuk dengan izin. Pintu kedua menuju naskah sihir, sejarah pemerintahan, serta catatan perjalanan langka. Pintu ketiga terbuat dari perunggu dan tidak memiliki pegangan dari luar.

Lucian belum pernah melewati pintu pertama.

Titus Seren, ayah Livia, duduk di meja penjaga. Ia bertubuh kurus dengan rambut yang mulai memutih di kedua sisi kepala. Sebuah lensa kristal tergantung di depan mata kirinya saat ia memeriksa jamur pada gulungan.

Lihat selengkapnya