Cassian mengatakan mereka akan berlatih untuk ujian ulang.
Lucian baru menyadari arti sebenarnya ketika kakaknya meletakkan sebuah peti kristal di tangannya.
"Berat," kata Lucian.
"Bagus. Berarti isinya belum dicuri."
Peti itu tidak besar, tetapi dindingnya dilapisi kayu besi dan lempengan timah tipis. Pada tutupnya terukir rune berbentuk persegi ganda, dengan garis pemutus di tiap sudut. Sebuah segel lilin biru menutup pengaitnya.
Lucian membaca tulisan pada lempeng kuningan.
Crystalla Caerulea. Gradus Secundus. Duodecim.
Kristal biru. Tingkat kedua. Dua belas buah.
"Jangan dibuka," kata Cassian.
"Aku tahu."
"Jangan dijatuhkan."
"Aku juga tahu."
"Jangan meletakkannya dekat kristal merah."
Lucian memandang keranjang lain yang dibawa Cassian. "Di situ ada kristal merah?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau memperingatkanku?"
"Karena orang yang hanya berhati-hati setelah melihat bahaya biasanya tidak bertahan lama di jalan."
Cassian mengangkat dua gulungan kain, menyelipkan papan lilin ke dalam tas pinggang, lalu mendorong pintu rumah dengan bahunya.
Aurelia sedang duduk di dekat jendela, menatah garis tipis pada cincin perunggu. Ia tidak mengangkat kepala.
"Pulang sebelum lonceng petang."
"Kami hanya mengunjungi tiga atelier," jawab Cassian.
"Berarti pulang sebelum lonceng malam."
Cassian tersenyum kepada Lucian. "Ibumu tidak percaya pada perkiraan waktu pedagang."
"Karena perkiraan waktu pedagang," kata Aurelia, "selalu dihitung untuk keuntungan pedagang."
Lucian mengikuti kakaknya keluar menuju jalan.
Hujan semalam meninggalkan genangan di antara batu-batu. Gerobak pengangkut melintas dari Vicus Artificum menuju Forum Crystallorum. Di sepanjang saluran air, para budak kota mengeruk lumpur dengan sekop kayu. Gelang-gelang besi di pergelangan mereka beradu setiap kali tangan bergerak.
Seorang pengawas berteduh di bawah kain minyak.
Cassian tidak memperlambat langkah, tetapi Lucian melihat rahangnya mengeras.
"Kenapa kita menuju distrik atelier?" tanya Lucian.
"Kau membutuhkan dua denarius untuk ujian ulang."
"Kau bilang akan membayarnya."
"Aku memang akan membayarnya."
"Lalu?"
Cassian menepuk peti di tangan Lucian.
"Tapi sebelum seseorang menggunakan uang untukmu, sebaiknya kau tahu bagaimana uang itu diperoleh."
Atelier pertama terletak dekat saluran utara.
Bangunannya sempit, gelap, dan panas. Asap keluar dari tiga lubang di atap. Di dalam, belasan pekerja duduk berderet sambil mengukir rune yang sama pada lempengan tembaga.
Seorang anak perempuan, mungkin belum berusia sepuluh tahun, menggosok permukaan logam dengan pasir halus. Kedua tangannya penuh luka kecil.
Pemilik atelier menerima Cassian di dekat pintu.
Ia seorang laki-laki gemuk dengan rambut berminyak dan cincin pada setiap jari.
"Delapan belas denarius," katanya setelah memeriksa gulungan kain yang dibawa Cassian.
"Dua puluh dua," jawab Cassian.
"Benangnya tidak rata."
"Benangnya dari Nigravia. Tahan panas dan tidak menyerap minyak rune."
"Dua puluh."
"Dua puluh dua."
"Dua puluh, dan aku ambil semua."
Cassian menarik kembali kain itu.
"Kalau begitu, aku akan menjualnya kepada orang yang tahu cara memeriksa barang."
Pemilik atelier tertawa. "Kau datang membawa barang kepadaku, Cassian. Bukan aku yang mengejarmu."
"Benar."
Cassian mengangguk kepada Lucian.
Mereka berjalan keluar.
Lucian menunggu sampai pintu berada beberapa langkah di belakang mereka.
"Kita benar-benar pergi?"
"Ya."
"Tapi dia mengambil semua kalau dua puluh."
"Dia akan mengambil semua kalau dua puluh dua."
"Bagaimana kau tahu?"
"Dia memeriksa tepi kain tiga kali, tetapi hanya mengkritik benangnya. Kalau ada cacat lain, dia akan mengatakannya."
Mereka belum mencapai ujung jalan ketika seorang pekerja berlari keluar.
"Tuan Cassian!"
Cassian berhenti.
"Pemilik kami bersedia dua puluh satu."
"Dua puluh dua, dibayar hari ini."
Pekerja itu kembali masuk. Beberapa saat kemudian ia muncul lagi.
"Setuju."
Cassian menyerahkan salah satu gulungan kepada Lucian.
"Pelajaran pertama," katanya. "Orang yang mengejar biasanya lebih membutuhkan."
Lucian melihat kembali ke dalam atelier. Anak perempuan tadi masih menggosok lempengan tembaga.
"Apakah kita akan terus menjual kain kepada mereka?"
Cassian tidak langsung menjawab.
"Kadang-kadang."
"Mereka mempekerjakan anak kecil."
"Banyak atelier melakukannya."
"Itu salah."
"Ya."
"Lalu kenapa bekerja sama dengan mereka?"
Cassian memandang pintu atelier yang menghitam oleh asap.
"Karena kalau semua pedagang yang masih punya keberatan pergi, tempat seperti itu hanya akan berdagang dengan orang yang tidak punya keberatan sama sekali."
"Itu terdengar seperti alasan."
"Memang."
Cassian mengambil gulungan dari tangan Lucian.
"Dunia perdagangan penuh dengan alasan yang terdengar cukup baik sampai kau melihat siapa yang membayar harganya."
Ia tidak berkata lagi.
Atelier kedua lebih besar dan tampak lebih bersih.
Namun sebelum mereka masuk, Cassian hanya berdiri di seberang jalan dan mengamati dua gerobak yang sedang diturunkan.
Peti-petinya tidak memiliki cap pajak kota.
"Kenapa kita tidak masuk?" tanya Lucian.
"Karena mereka mengatakan membutuhkan kristal biru."
"Mungkin memang."
"Gerobak pertama membawa pasir kaca. Gerobak kedua membawa wadah penahan panas. Mereka sedang membuat lampu merah, bukan alat aliran air."
"Jadi?"
"Jadi kalau mereka tetap ingin membeli kristal biru dalam jumlah besar, kemungkinan bukan untuk produksi yang mereka laporkan."
Lucian memandang bangunan itu. Jendela-jendelanya tertutup meskipun hari cukup terang.
"Apakah kristal biru dilarang?"
"Tidak."
"Lalu apa masalahnya?"
"Tidak semua yang tidak dilarang aman dilakukan."
Cassian berbalik sebelum seseorang dari atelier melihat mereka.
"Kita akan menjualnya di tempat ketiga."
Mereka mencapai sebuah bangunan tiga lantai di dekat jembatan timur.
Di atas pintunya tergantung lambang tangan terbuka yang memegang nyala cahaya.
Tulisan di bawahnya berbunyi:
Officina Manus Clarae
Atelier Tangan Terang.
Lucian pernah lewat di depan bangunan itu beberapa kali. Ibunya sesekali membawa pulang komponen dari sana: cincin penahan lampu, dudukan kristal, atau kepingan perunggu untuk rune rumah tangga.
Berbeda dari dua atelier sebelumnya, pintunya terbuka lebar. Cahaya masuk melalui halaman tengah. Suara palu, gesekan logam, dan rapalan pendek bercampur dengan percakapan para pekerja.
Tidak semua orang di dalamnya bebas. Dua orang mengenakan gelang besi. Namun mereka bekerja pada meja yang sama dengan buruh lain, dan seorang perempuan tua membagikan sarung tangan kulit kepada semuanya.
Di sisi halaman, seorang pemuda sedang berdebat dengan penjaga gudang.
Ia sedikit lebih tua daripada Lucian, mungkin enam belas atau tujuh belas tahun. Tunicanya terbuat dari kain bagus, tetapi lengan kanannya digulung hingga siku dan penuh debu kuningan. Sebuah papan lilin tergantung di pinggangnya bersama tiga sampel kristal kecil.
"Dua puluh empat lampu," kata penjaga gudang.
"Dua puluh enam," jawab pemuda itu.
"Aku menghitung sendiri."
"Kalau begitu, hitung kembali dua yang kau letakkan di ruang pengeringan."
Penjaga itu berhenti.
Pemuda tersebut menunjuk dua jejak roda pada lantai.
"Kereta pengering tidak bergerak sejak pagi. Debunya masih utuh. Tetapi ada bekas kaki menuju pintu samping. Dua lampu dipindahkan dengan tangan."
Penjaga gudang memandang lantai, lalu membuka pintu samping.
Beberapa saat kemudian ia kembali membawa dua lampu kristal.
Pemuda itu tidak tersenyum menang. Ia hanya mencoret angka pada papan lilinnya.
"Dua puluh enam," katanya. "Sekarang kita dapat menandatangani penerimaan."
Cassian bersiul pelan.
Pemuda itu menoleh.
Wajahnya berubah ketika mengenali Cassian.
"Tuan Varro."
"Jangan panggil aku tuan. Itu membuatku merasa harus memiliki tanah."
Pemuda itu mendekat, lalu menjabat tangan Cassian dengan kedua tangan.
"Kau pulang lebih cepat daripada perkiraan."
"Aku terlambat enam hari."
"Berarti perkiraanku lebih buruk daripada keadaan sebenarnya."
Matanya beralih kepada Lucian.
Ia tidak langsung bertanya siapa Lucian. Pertama-tama ia melihat peti di tangannya, membaca segelnya, lalu memeriksa cara Lucian memegang bagian bawah peti.
"Kristal biru tingkat kedua," katanya. "Dua belas buah?"
Lucian menatap lempeng kuningan.
Angka itu memang tertulis di sana.
"Ya."
"Segel dari gudang Cassian. Tidak ada retak pada lilin." Pemuda itu mengangguk. "Perjalananmu cukup tenang."
Lucian tidak yakin apakah itu pujian.
Cassian menepuk bahunya.
"Adikku, Lucian."
Pemuda itu menatapnya sekali lagi, kali ini lebih lama.
"Yang ingin ikut ujian karavan?"