Pada malam-malam tertentu, Aurelia memeriksa palang pintu tiga kali.
Lucian baru menyadarinya setelah Cassian mulai membicarakan karavan miliknya sendiri.
Palang pertama diperiksa sesudah makan malam. Ibunya mengangkat batang kayu, memasukkannya kembali ke dudukan, lalu mendorong pintu dengan bahu.
Pemeriksaan kedua dilakukan sebelum lampu dipadamkan.
Yang ketiga berlangsung ketika rumah sudah gelap dan Aurelia mengira kedua putranya tidur.
Malam itu, Lucian mendengar langkahnya melewati kamar. Pelan, tanpa sandal. Lalu bunyi kayu bergeser, engsel mengeluh, dan pintu ditekan sekali lagi.
Tidak ada orang di luar.
Hanya suara air pada saluran kota dan roda gerobak terakhir yang menuju Gerbang Timur.
Lucian berbaring menghadap peta di dinding. Dalam cahaya lampu yang hampir padam, garis-garis Via Serica tampak seperti retakan hitam.
Dua puluh hari lagi sebelum ujian ulang.
Di ruang depan, ibunya masih belum kembali tidur.
Pagi berikutnya Cassian menumpahkan satu kantong keping hitung ke atas meja.
Dua puluh tujuh keping perunggu, enam keping perak, dan sejumlah potongan kayu bertanda utang memenuhi permukaannya.
Lucian duduk di hadapannya sambil mencatat.
"Empat puluh empat dari Officina Manus Clarae," kata Cassian.
Lucian menulis angka itu pada papan lilin.
"Dikurangi harga pembelian kristal, dua puluh sembilan."
"Lima belas tersisa."
"Dikurangi pajak masuk."
"Dua."
"Bukan dua denarius. Dua bagian dari dua puluh."
Lucian menghapus tulisannya.
"Sepersepuluh dari empat puluh empat berarti empat dan—"
"Pajak dihitung dari harga pembelian, bukan harga jual."
Lucian berhenti, lalu menghitung ulang.
"Dua dan sembilan persepuluh."
"Petugas membulatkannya menjadi tiga."
"Tentu saja."
"Jangan menghina kebiasaan yang sudah menopang kantor pajak selama beberapa generasi."
Lucian menuliskan tiga.
"Sisa dua belas."
"Dikurangi upah pengangkutan."
"Satu untukku."
"Dan dua untuk penyewa gerobak."
"Kita tidak menyewa gerobak."
"Kita tetap mencatat biaya seandainya harus menyewa. Kalau hanya menghitung uang yang benar-benar keluar, kau akan mengira tenaga keluarga tidak mempunyai harga."
Lucian menatapnya.
Cassian mengambil satu keping perunggu dari tumpukan keuntungan dan meletakkannya di sisi biaya.
"Waktumu berharga. Waktuku juga. Bahkan kalau tidak ada orang yang membayar."
Lucian mencatatnya tanpa membantah.
Selama beberapa pekan terakhir, meja makan mereka berubah menjadi meja dagang. Daftar barang menumpuk di samping piring. Tali sampel tergantung di punggung kursi. Peta Cassian tidak lagi hanya berada di kamar Lucian; salinan rute-rute kecil muncul di dinding ruang depan, penuh catatan harga, mata air, dan tempat beristirahat.
Di salah satu salinan, Cassian telah menggambar jalur menuju Vallis Sola.
Delapan hari pergi-pulang.
Tiga gerobak.
Enam pedagang kecil menitipkan barang.
Satu kepala pengawal sudah menyatakan bersedia.
Di pojok papan terdapat satu baris yang berulang kali dihitung Cassian:
Sumptus propriae turmae
Biaya rombongan sendiri.
Lucian melihat jumlahnya bertambah sedikit demi sedikit.
"Berapa banyak lagi yang kau perlukan?" tanyanya.
Cassian menggeser satu keping perak ke tengah.
"Untuk membeli gerobak bekas, menyewa dua yang lain, membayar pengawal, membeli pakan, air, izin jalan, dan cadangan kerusakan?"
"Ya."
"Lebih banyak daripada yang kumiliki."
"Itu bukan angka."
"Itu jenis angka yang paling sering dimiliki pedagang."
Lucian menunjuk kantong pembayaran dari Officina Manus Clarae.
"Bukankah penjualan kristal cukup?"
"Untuk uang muka gerobak."
"Pesanan Forum Selatan?"
"Untuk pakan dan izin."
"Barang titipan?"
"Tidak boleh digunakan. Itu uang milik orang lain."
Lucian menghitung tumpukan lagi. "Kau bisa meminjam dari Serikat Timbangan Emas."
Tangan Cassian berhenti di atas keping hitung.
Hanya sesaat.
"Bisa."
"Tapi?"
"Mereka tidak meminjamkan uang karena menyukai senyumku."
"Apa yang mereka minta?"
"Bagian keuntungan. Hak pertama atas ruang gerobak. Kadang-kadang hak menentukan barang apa yang harus dibawa."
"Itu buruk?"
"Tidak selalu."
Cassian mengambil potongan kayu bertanda utang dan membalikkannya.
Pada sisi belakang terdapat lambang timbangan.
"Tapi utang bukan hanya angka. Ia juga tali. Sebelum mengambilnya, kau harus tahu siapa yang memegang ujung lain."
Aurelia masuk dari halaman membawa keranjang cucian. Langkahnya melambat ketika melihat lambang tersebut.
"Singkirkan itu dari meja."
Cassian menutup potongan kayu dengan telapak tangannya.
"Itu hanya contoh surat utang."
"Aku tahu."
"Ibu—"
"Singkirkan."
Cassian memasukkannya kembali ke kantong.
Aurelia meletakkan keranjang di lantai. Beberapa tetes air jatuh dari kain basah, membentuk bintik-bintik gelap pada batu.
"Kau berbicara dengan mereka?" tanyanya.
"Dengan siapa?"
"Jangan membuatku mengucapkan nama mereka."
Cassian bersandar. "Aku bertemu salah satu pencatat mereka di pasar. Dia menawarkan pinjaman."
"Dan?"
"Aku menolaknya."
Aurelia tetap berdiri.
Cassian mengeluarkan kedua tangannya dari bawah meja, memperlihatkan telapak kosong seperti seseorang yang sedang diperiksa penjaga gerbang.
"Aku menolak."
"Untuk sekarang?"
"Untuk selamanya, kalau itu membuat Ibu berhenti memandangku seperti Ayah baru saja masuk dari pintu."
Keranjang cucian terlepas dari tangan Aurelia.
Tidak jatuh keras. Hanya miring, menumpahkan sehelai tunik dan dua kain meja ke lantai.
Tak seorang pun segera mengambilnya.
Cassian menundukkan kepala.
"Maaf."
Aurelia berlutut dan mengumpulkan kain-kain itu. Gerakannya cepat, terlalu rapi.
"Ayahmu juga berkata ia hanya berbicara dengan mereka," katanya.
Cassian ikut berlutut. "Aku bukan Ayah."
"Tidak." Aurelia menarik sehelai kain dari tangannya. "Kau hanya berjalan di jalan yang sama, membeli dari orang yang sama, dan berjanji akan pulang dengan cara yang sama."
"Aku selalu pulang."
"Sejauh ini."
Cassian tidak menjawab.
Lucian memandang peta Vallis Sola di dinding. Delapan hari. Jalur ramai. Kepala pengawal yang dikenal kakaknya.
Semua alasan yang terdengar aman ketika Cassian mengucapkannya kini terasa seperti benda tipis yang dapat robek jika ditarik terlalu kuat.
Aurelia mengangkat keranjang dan membawanya ke kamar belakang.
Cassian tetap berlutut beberapa saat setelah ibunya pergi.
Kemudian ia memungut satu keping hitung yang jatuh ke bawah meja dan meletakkannya kembali di antara biaya-biaya lain.
"Pelajaran hari ini selesai," katanya.
Nada suaranya ringan.
Terlalu ringan.
Lucian memperoleh denarius keduanya dua hari kemudian.
Ia mencatat dua puluh pemanas kristal dari Officina Manus Clarae menuju Forum Selatan, memeriksa setiap segel, dan menolak menandatangani daftar ketika jumlah pada gerobak hanya sembilan belas.
Pengemudi bersikeras bahwa satu pemanas tambahan ada di bawah kain.
Lucian meminta kain dibuka.
Yang tersembunyi di bawahnya bukan pemanas kedua puluh, melainkan tiga kotak lampu tanpa cap pajak.
Pengemudi memakinya selama setengah jalan. Cassian tidak membela Lucian dan tidak ikut memaki. Ia hanya menyuruh pengemudi menurunkan kotak-kotak tersebut sebelum melewati pos pemeriksaan.
Setelah barang diterima, Cassian melemparkan sekeping denarius kepada adiknya.
"Kau sudah punya biaya ujian ulang."
Lucian memutar koin itu di antara jari.
"Apakah kau tahu ada barang selundupan di bawah kain?"
"Aku curiga."
"Kenapa tidak memeriksanya sendiri?"
"Karena daftar itu tanggung jawabmu."
"Kalau aku melewatkannya?"
"Kita bisa didenda. Gerobak disita. Officina Manus Clarae mungkin berhenti bekerja sama dengan kita."
Lucian menahan langkah.
"Kau mempertaruhkan semuanya untuk mengujiku?"
Cassian juga berhenti.
"Tidak."
Ia mengambil daftar penerimaan dari tas Lucian dan menunjuk nama pengemudi.
"Aku sudah memberi tahu penjaga gerbang bahwa muatan kita hanya dua puluh pemanas. Kalau mereka menemukan barang lain, pengemudilah yang ditahan."
"Kau sudah tahu."
"Aku menyiapkan kemungkinan."
"Tanpa memberitahuku."
"Di jalan, orang tidak selalu mengumumkan bahwa mereka sedang mencoba memanfaatkanmu."
Cassian mengembalikan daftar.
"Kau melihat jumlahnya salah. Kau memeriksanya. Kau tidak membiarkan orang yang lebih tua membuatmu meragukan hitunganmu sendiri."
Ia menepuk bahu Lucian.
"Itulah yang perlu kupastikan."
Lucian menggenggam dua keping uang ujian di dalam kantongnya.
Kakaknya tersenyum seperti biasa. Namun pagi itu Lucian melihat lingkaran gelap di bawah matanya. Cassian telah tidur di meja dua malam berturut-turut, ditemani catatan biaya dan peta rute.
Semakin dekat karavannya terbentuk, semakin sedikit ia berbicara tentang taman Aurea, naga di utara, atau penginapan dengan balok pintu rendah.
Kini ia berbicara tentang gandar cadangan.
Tentang pengawal yang mempunyai anak sakit dan mungkin membatalkan keberangkatan.
Tentang harga pakan yang naik.
Tentang enam pedagang yang mempercayakan barang kepadanya—dan enam keluarga yang dapat kehilangan tabungan jika rombongannya tidak kembali.
Lucian dulu mengira memimpin karavan berarti berjalan paling depan.
Sekarang ia melihat bahwa pemimpin karavan membawa orang-orang bahkan ketika sedang duduk sendirian di rumah.
Ujian ulang dilaksanakan pada pagi yang cerah dan berangin.
Kali ini hanya sebelas peserta yang datang. Semuanya pernah gagal pada satu bagian. Seorang pemuda mengulang hitungan. Dua perempuan mengulang penulisan. Lucian dan empat peserta lain berdiri di depan meja-meja air.
Cassian menunggu di luar pagar.
Livia berdiri di tempat yang sama seperti sebelumnya. Di sampingnya ada Octavian, membawa peti sampel untuk pelanggan di dekat aula serikat.
"Aku tidak datang untuk melihatmu," katanya ketika Lucian menghampiri.
"Kau berdiri di depan tempat ujianku."
"Pelanggan terlambat."
Livia menunjuk papan lilin kecil di tangannya.
FINIS IN FORMA EST.
Akhir berada di dalam bentuk.
"Kalimatnya aneh," kata Lucian.
"Aku kehabisan ruang."
Octavian mengambil papan itu, menambahkan satu kata kecil di bawahnya, lalu mengembalikan.
FINIS IN FORMA IAM EST.
Akhir sudah berada di dalam bentuk.
Livia membacanya dan mengerutkan dahi. "Kau mengubah maksudku."
"Kalimatmu sebelumnya dapat berarti bentuk hanya penting pada akhir."
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Itulah masalah tulisan. Ia tidak peduli apa yang kau maksud."
Petugas memanggil nama Lucian.
Ia menyerahkan dua denarius, menunjukkan surat hasil ujian pertama, lalu berdiri di hadapan mangkuk batu.