Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #8

Bab 7 - Gerbang Barat

Pada malam sebelum keberangkatan, Fontia memantulkan dua bulan.

Satu menggantung di langit, pucat dan hampir bulat.

Yang lain bergetar di permukaan mata air Templum Radicis, terpotong oleh riak, kelopak bunga, dan cahaya enam lampu kristal.

Penduduk lembah menyebut pantulan itu Oculus Fontis—Mata Sang Mata Air.

Sebagian orang percaya roh agung yang berdiam di bawah oasis hanya dapat memandang dunia melalui air. Sebagian lain mengatakan bulan adalah wajahnya, dan setiap mata air hanyalah cermin kecil yang dipakainya untuk mengawasi para pengembara.

Para cendekiawan kuil tidak pernah menyepakati namanya.

Dalam naskah-naskah lama, roh itu disebut Lunara Fontis. Para pengangkut barang memanggilnya Ibu Jalan. Penjaga karavan menyebutnya Penuntun Malam. Anak-anak mengenalnya melalui kisah tentang perempuan berjubah cahaya yang berjalan di samping orang tersesat tanpa meninggalkan jejak di pasir.

Tidak ada patung resminya di kuil.

Hanya sebuah mangkuk batu rendah di sisi barat mata air, dipenuhi keping logam, tali pelana, kuku hewan, manik-manik, dan pecahan roda yang dibawa pulang dari perjalanan.

Lucian pernah meletakkan gigi susunya di sana ketika berumur enam tahun.

Ia tidak ingat alasannya.

Malam itu ia membawa sebuah keping tembaga.

"Jangan pakai uang ujianmu," kata Livia.

"Itu sudah dibayar."

"Uang perjalananmu, kalau begitu."

Lucian memegang koin itu di atas mangkuk persembahan. "Hanya satu keping."

"Dengan satu keping kau bisa membeli dua roti jelai."

"Roh agung tidak makan roti."

"Kalau begitu, ia juga tidak membutuhkan uang."

Octavian berdiri di sisi lain mereka dengan kedua tangan di belakang punggung. Ia mengenakan tunika kerjanya, tetapi rambutnya masih tertata rapi seperti saat menerima pelanggan atelier.

"Secara teknis," katanya, "persembahan itu dikumpulkan setiap akhir bulan untuk membayar pembersih saluran kuil."

Livia menoleh. "Kau baru saja merusak doanya."

"Aku hanya menjelaskan aliran dananya."

"Tidak semua hal perlu dijelaskan sebagai transaksi."

"Orang yang mengatakan begitu biasanya bukan orang yang membayar."

Lucian menjatuhkan keping tembaga ke dalam mangkuk.

Koin itu membentur logam lain dengan suara kecil.

"Kalau uangnya membersihkan saluran air," katanya, "mungkin itu tetap sampai kepada roh."

Octavian mempertimbangkannya.

"Masuk akal."

Mereka berdiri di bagian luar kuil, jauh dari enam lampu utama dan petugas malam. Templum Radicis tidak pernah benar-benar ditutup. Setelah matahari terbenam, pedagang yang hendak berangkat pada pagi hari datang membawa persembahan. Beberapa mengikatkan benang putih pada tongkat perjalanan. Sebagian membasuh wajah dengan air kolam. Yang lain hanya duduk diam, menunggu bulan terlihat pada permukaannya.


Tidak semua dari mereka percaya hal yang sama.

Tetapi hampir semuanya menoleh kepada mata air sebelum meninggalkan Fontia.

Di dekat mangkuk, seorang perempuan tua berdoa untuk putranya yang pergi ke barat. Ia tidak menggunakan Lingua Antiqua. Kata-katanya diucapkan dalam dialek gurun yang tidak dipahami Lucian.

Seorang dwarf meletakkan serpihan besi di samping koin-koin dan mengetuk dadanya tiga kali.

Dua pengawal karavan menuangkan setetes air dari kendi perjalanan ke dalam kolam, kemudian mengisinya kembali.

Air Fontia dibawa pergi.

Air dari perjalanan dikembalikan.

Begitu orang-orang menjaga hubungan antara rumah dan jalan.

Lucian memandang pantulan bulan. Di bawah cahaya putihnya, mata air tampak lebih dalam daripada siang hari. Kadang-kadang garis biru tipis terlihat bergerak di antara batu hitam di dasarnya.

"Pernahkah ada yang benar-benar melihat Lunara?" tanyanya.

Livia duduk pada tepi kolam.

"Ayah pernah membaca tiga belas kesaksian."

"Dan?"

"Lima orang melihat perempuan bercahaya. Tiga melihat rusa putih. Dua mendengar suara dari air. Satu hanya melihat bayangan tanpa wajah."

"Itu baru sebelas."

"Dua lainnya mabuk."

Octavian mengamati permukaan kolam. "Mungkin roh tidak mempunyai bentuk tetap."

Livia mengangkat alis. "Kau percaya roh?"

"Aku percaya mana dapat membentuk pola yang bertahan."

"Itu bukan jawaban."

"Kesadaran manusia juga pola yang bertahan. Kita hanya terbiasa melihatnya berada di dalam tubuh."

Lucian menatapnya.

Octavian segera menambahkan, "Aku membaca itu pada salinan kuliah seorang ahli spiritual. Bukan pendapatku sendiri."

"Kau selalu menyembunyikan pendapatmu di balik orang lain?" tanya Livia.

"Hanya pendapat yang dapat membuat kakakku kehilangan pelanggan."

Livia tersenyum kecil.

Di seluruh dunia, tempat-tempat berkumpulnya mana kadang-kadang melahirkan sesuatu yang tidak direncanakan manusia. Pada awalnya hanya gerakan tanpa tubuh—angin yang selalu berputar pada arah sama, cahaya yang muncul di atas sungai, atau suara yang menjawab satu kata dengan kata lain.

Jika aliran mana bertahan selama puluhan atau ratusan tahun, pola itu dapat mengingat.

Kemudian memilih.

Lalu berbicara.

Roh-roh kecil menghuni sumur, batu tua, persimpangan jalan, dan pohon yang tersambar petir. Sebagian lenyap ketika tempatnya rusak. Sebagian tumbuh bersama doa, cerita, rasa takut, dan harapan orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

Roh yang cukup tua dan kuat mulai disebut dewa.

Bukan karena seseorang dapat membuktikan bahwa mereka menciptakan dunia, tetapi karena manusia selalu memberi nama yang lebih besar kepada hal-hal yang tidak mampu mereka ukur.

Lunara dipercaya telah hidup selama mata air Fontia mengalir.

Mungkin lebih lama daripada kota itu sendiri.

Lucian menangkupkan kedua tangan, mengikuti cara ibunya mengajarinya ketika masih kecil.

Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Semoga perjalanannya aman terdengar terlalu sederhana. Semoga ia melihat banyak hal terdengar egois. Semoga ia menemukan jawaban tentang ayahnya terasa seperti sesuatu yang tidak semestinya diucapkan di hadapan roh penjaga jalan.

Akhirnya ia berkata dalam hati:

Bantu aku mengenali jalan pulang.

Air beriak.

Pantulan bulan terbelah, lalu menyatu kembali.

Lucian menunggu.

Tidak ada perempuan bercahaya. Tidak ada rusa putih. Tidak ada suara dari bawah air.

Hanya angin malam yang menyentuh permukaan kolam.

Namun entah mengapa, itu cukup.

"Aku membawakan sesuatu."

Livia mengatakannya setelah mereka meninggalkan mangkuk persembahan.

Ia membuka tas kain yang selalu dibawanya dan mengeluarkan sebuah bungkusan pipih. Dua papan kayu tipis melindungi lembaran-lembaran di dalamnya. Semuanya diikat dengan benang biru.

Lucian menerimanya hati-hati.

"Buku?"

"Jangan menyebutnya buku terlalu keras."

"Kenapa?"

"Karena sebagian halamannya tidak seharusnya kusalin."

Octavian melihat ke arah petugas kuil yang berdiri jauh dari mereka.

"Kalimat itu tidak membuatnya terdengar lebih aman."

Lucian membuka ikatannya.

Di dalamnya terdapat dua puluh tiga lembar dengan ukuran tidak sama. Sebagian menggunakan kulit tua yang telah dikikis. Sebagian ditulis pada kertas kasar dari timur. Dua lembar terakhir bahkan terbuat dari kain tipis yang dikeraskan dengan getah.

Tulisan Livia memenuhi hampir seluruh ruang kosong.

Judulnya berbunyi:

Formulae Viatoris

Rumusan bagi Pengembara

Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil:

Disalin dan disusun dari tujuh naskah yang sebagian besar tidak lengkap.

Lucian membalik halaman pertama.

Ada mantra untuk menjernihkan air dalam jumlah kecil, mengeringkan pakaian, mempertahankan nyala lampu, mengenali kebocoran mana pada kristal, dan membuat tanda cahaya yang dapat terlihat dari kejauhan.

Setiap rapalan disertai bentuk geometris sederhana.

"Ini semua untukku?"

"Aku tidak punya kegunaan untuk mantra mengeringkan kaus kaki."

"Kau menyalin semuanya sendiri?"

"Ayah membantu memeriksa bahasa Latinnya."

"Dia tahu kau memberikannya kepadaku?"

Livia mengencangkan tali tasnya. "Dia tahu salinannya tidak lagi berada di meja."

"Itu bukan jawaban."

"Jawabannya cukup untuk menjaga pekerjaannya."

Lucian menelusuri salah satu diagram dengan ujung jari. Garis-garisnya rapi, tetapi pada beberapa bagian tinta sedikit melebar. Ia membayangkan Livia menulis pada malam hari di bawah lampu kecil, berhenti setiap kali mendengar langkah ayahnya atau petugas perpustakaan.

Buku-buku di Fontia mahal karena kulit, tinta, dan waktu.

Hadiah di tangannya menghabiskan ketiganya.

"Aku tidak tahu harus memberikan apa sebagai balasan."

"Kembalilah."

Livia mengucapkannya begitu cepat sehingga seolah kalimat itu telah menunggu sejak tadi.

Kemudian ia menunduk pada buku dan menunjuk halaman kesembilan.

"Dan jangan mencoba Formula Ventus Minor di dalam tenda. Catatan di bawahnya bukan hiasan."

Lucian membaca tulisan kecil:

Jangan digunakan dekat api, tepung, atau orang yang sedang tidur.

"Apa yang terjadi kalau digunakan dekat orang tidur?"

"Ayah tidak mau menjelaskan."

Octavian berkata, "Sekarang aku ingin mencobanya."

"Karena itu aku tidak membuatkan salinan untukmu," jawab Livia.

Lucian menutup buku itu dan memeluknya ke dada.

"Suatu hari nanti," katanya, "aku akan membawakanmu buku dari Aurea."

"Buku apa?"

"Yang tidak boleh kau baca di sini."

"Itu mencakup hampir semua buku yang menarik."

"Berarti aku punya banyak pilihan."

Livia memandang Turris Bibliotheca yang terlihat di balik pilar-pilar kuil.

"Ketika kau kembali," katanya, "mungkin aku sudah mendapatkan izin masuk koleksi kedua."

"Dalam delapan hari?"

"Tidak."

"Kalau begitu aku akan pulang sebelum kau mendapatkannya."

"Aku akan menganggap itu tantangan."

Lucian mengulurkan tangan seperti saat membuat kesepakatan dengan Cassian.

Livia melihat tangannya, lalu menyambutnya.

"Kau akan menjadi ahli spiritual di kuil," kata Lucian.

"Cendekiawan terlebih dahulu."

"Ahli spiritual terdengar lebih tinggi."

Lihat selengkapnya