Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #9

Bab 8 - Kota yang Dipahat Angin

Pada hari pertama, Lucian menghitung segala sesuatu.

Dua belas orang.

Tiga gerobak.

Enam kuda penarik.

Dua puluh empat kaki manusia, jika tidak menghitung pengawal yang kehilangan dua jari kaki karena embun beku di utara.

Seratus sembilan puluh dua kendi air.

Empat puluh tujuh karung barang.

Delapan peti yang tidak boleh terkena hujan.

Tiga peti yang tidak boleh diletakkan terlalu dekat dengan api.

Satu peti milik Officina Manus Clarae yang tidak boleh dibuka oleh siapa pun selain penerimanya.

Cassian telah mengikatkan pita kuning pada peti terakhir.

Tulisan pada pelatnya berbunyi:

Ad Collegium Aquarum Vallis Solae

Untuk Persekutuan Air Vallis Sola

Lucian memeriksanya untuk keempat kali sebelum matahari mencapai puncak.

Cassian menoleh dari gerobak depan.

"Peti itu tidak akan menumbuhkan kaki."

"Aku hanya memastikan talinya tidak longgar."

"Kau sudah memastikan tiga kali."

"Yang keempat untuk memastikan tiga pemeriksaan sebelumnya benar."

Seorang pengawal di sebelah Cassian tertawa.

Namanya Brennus, laki-laki bertubuh lebar dengan rambut yang mulai memutih pada pelipis. Pedang panjang dari barat tergantung di pinggangnya, tetapi ia lebih sering menggunakan tongkat kayu untuk mengarahkan gerobak.

"Biarkan dia," katanya. "Pencatat yang terlalu rajin lebih murah daripada barang hilang."

"Aku tidak keberatan dia rajin," jawab Cassian. "Aku keberatan dia akan menghabiskan seluruh papan lilin sebelum kita mencapai penginapan pertama."

Lucian menatap daftar.

Ia sudah memenuhi hampir separuh permukaannya.

Ia menghapus catatan tentang jumlah batu penanda jalan yang mereka lewati.

"Apakah itu tidak perlu?" tanyanya.

"Berguna kalau kita tersesat."

"Batu penanda menunjukkan arah. Kalau kita tersesat, berarti kita tidak melihatnya."

Cassian mengangguk.

"Itu penalaran yang bagus. Tetap hapus."

Rute menuju Vallis Sola tidak membawa mereka terus lurus ke barat.

Via Serica keluar dari Fontia menuju barat laut, mengikuti lereng yang lebih landai agar gerobak tidak perlu mendaki bukit batu. Setelah mencapai simpang tiga di Pons Aridus, mereka akan berbelok ke barat daya, melewati dataran kering dan deretan permukiman oasis kecil.

Perjalanan direncanakan selama delapan hari.

Tiga hari menuju Vallis Sola.

Dua hari untuk menjual, membeli, memeriksa muatan, dan mengistirahatkan hewan.

Tiga hari untuk pulang.

Cassian telah menambahkan satu catatan kecil di bagian bawah surat jalan:

Bila terjadi keterlambatan lebih dari dua hari, utus penunggang kembali ke Fontia.

Lucian tahu catatan itu ditulis untuk Aurelia.

Pada hari pertama, jalan masih berada dalam pengaruh Fontia.

Rumah-rumah desa dibangun dari batu pucat. Halaman tengah dikelilingi tiang pendek. Atap-atap datar menampung tempayan air hujan, meskipun hujan jarang datang. Di dekat setiap permukiman berdiri tempat doa terbuka dengan mangkuk air dan lambang roh setempat.

Beberapa mempunyai patung kecil.

Sebagian hanya batu yang tidak dipahat.

Penduduk menyapa karavan dengan bahasa yang sama, mengenakan tunika serupa, dan menggunakan koin Fontia. Lucian merasa seolah kotanya hanya memanjang bersama jalan.

Namun menjelang sore, tiang-tiang berubah.

Ukiran daun anggur digantikan bentuk segitiga dan matahari bersudut delapan. Pintu rumah mengecil untuk menahan panas. Dinding tanah merah mulai muncul di antara bangunan batu.

Di salah satu desa, anak-anak berlari di belakang gerobak sambil berteriak:

"Gula! Gula dari kota!"

Cassian melemparkan dua buah kurma kepada mereka.

"Bukan gula," protes seorang anak.

"Kurma lebih baik untuk gigimu."

"Gula lebih baik untuk lidah!"

Brennus menoleh kepada Cassian. "Dia akan menjadi pedagang."

"Tidak," jawab Cassian. "Dia terlalu jujur soal yang diinginkannya."

Malam pertama mereka berhenti di Vicus Palmarum, Desa Seribu Palem.

Desa itu hanya memiliki empat puluh rumah, satu penginapan, dua sumur, dan jumlah kambing yang menurut Lucian tidak mungkin dihitung karena hewan-hewan itu terus berpindah.

Penginapannya memiliki halaman luas bagi gerobak. Dinding luarnya dicat biru untuk menghormati roh sumur. Di atas gerbang tergantung puluhan kain kecil yang ditulisi nama orang-orang yang pernah selamat dari badai pasir.

Pemilik penginapan adalah seorang perempuan orc bernama Maura.

Tingginya hampir menyamai kusen pintu. Dua gigi bawahnya tampak saat ia berbicara, dan gelang perak memenuhi kedua lengannya.

Ia memandang surat perjalanan Cassian.

"Tiga gerobak, dua belas orang, enam kuda."

"Benar."

"Lima denarius."

"Tiga."

"Air sumur sedang rendah."

"Kami membawa air sendiri."

"Kalian tetap menggunakan halaman."

"Halaman tidak diminum."

"Gerobakmu memakan tempat dua rombongan."

"Gerobakku membawa lampu kristal. Kalau kau memberi harga baik, aku bisa menjual satu untuk ruang makanmu."

Maura melihat lampu minyak yang tergantung di dalam penginapan. Asapnya telah menghitamkan langit-langit.

"Empat denarius," katanya.

"Tiga, dan lampu dengan setengah harga."

"Tiga setengah, lampu sepertiga harga."

Cassian mengulurkan tangan.

"Sepakat."

Lucian berdiri di dekatnya sambil memegang papan lilin.

"Apakah kita mendapat untung?" bisiknya setelah Maura pergi.

"Belum tentu."

"Kau bahkan belum menghitung harga lampunya."

"Aku sudah."

"Kapan?"

"Ketika melihat jelaga di atas pintu."

Lucian memandang langit-langit hitam.

Pelajaran perdagangan rupanya sering berada di tempat yang tidak dituliskan orang.

Malam itu adalah pertama kalinya Lucian tidur di bawah langit tanpa tembok Fontia mengelilinginya.

Ia tidak langsung tidur.

Para pengawal duduk dekat api. Brennus sedang mengasah pedang sambil berbicara dengan seorang elf berambut kelabu yang ikut menumpang hingga Pons Aridus. Dua pengemudi melempar tulang dadu. Cassian memeriksa roda dengan cahaya lampu kecil.

Lucian berbaring di atas selimut, buku Livia terbuka di dadanya.

Di halaman ketiga terdapat mantra untuk menjaga nyala lampu dari angin.

Flamma, intra fines mane.

Api, tetaplah di dalam batas.

Ia menyalakan sumbu kecil, menggambar lingkaran dalam pikirannya, lalu mengucapkan rapalan.

Api berhenti bergoyang.

Lucian tersenyum.

Kemudian ia memperbesar lingkarannya sedikit.

Nyala itu memanjang setinggi dua jari.

Ia memperbesar sekali lagi.

Api meloncat, membakar ujung rambut di dahinya.

Lucian menepuk-nepuk kepala sambil menahan suara.

Dari seberang api, Cassian berkata, "Mantra darurat?"

Lucian menutup buku.

"Latihan."

"Rambutmu kalah."

"Tidak banyak."

"Besok jangan berdiri terlalu dekat pelanggan. Mereka mungkin mengira kita menjual arang."

Brennus tertawa begitu keras sampai kambing-kambing Maura ikut mengembik.

Lucian memasukkan buku ke dalam tas dan memeriksa tongkat Octavian.

Cincin penguncinya masih tertutup.

Setidaknya ia belum melanggar satu peringatan.

Pada hari kedua, tanah berubah warna.

Batu pucat menghilang, digantikan tebing merah dan cokelat. Jalan menyempit di antara dinding batu yang dipahat angin. Sesekali mereka melewati bangunan yang setengah tersembunyi dalam tebing—gudang, tempat doa, atau makam keluarga pedagang lama.

Bagian depannya dihiasi pilar yang tidak menopang apa pun.

"Kenapa membuat tiang pada dinding batu?" tanya Lucian.

Seorang pengemudi bernama Daran mengangkat bahu.

"Supaya orang mati merasa rumahnya mahal."

Brennus berkata, "Itu makam para penguasa lembah lama."

"Apakah mereka dimakamkan bersama hartanya?" tanya Lucian.

"Dahulu."

"Sekarang?"

"Sekarang hartanya menjadi milik orang yang lebih rajin menggali."

Cassian memotong pembicaraan.

"Jangan memberi adikku gagasan."

"Aku hanya menjelaskan sejarah setempat."

"Dengan cara yang biasanya berakhir di penjara."

Di dekat tebing terbesar, mereka bertemu karavan dari barat.

Belasan unta berjalan dalam dua baris, masing-masing mengenakan kain warna-warni di leher. Gerobak mereka lebih kecil daripada gerobak Fontia dan mempunyai roda tinggi untuk melewati pasir.

Orang-orangnya berpakaian berlapis. Wajah mereka ditutup kain hingga hanya mata yang tampak.

Di antara mereka berjalan seorang elf dengan busur panjang di punggung, dua dwarf membawa kapak berpegangan pendek, dan seorang laki-laki berkulit biru keabu-abuan yang tanduk kecilnya dihiasi cincin emas.

Lucian memandang terlalu lama.

Laki-laki bertanduk itu menoleh.

"Ada sesuatu di wajahku?" tanyanya dalam Lingua Antiqua.

Lucian segera menggeleng.

"Tidak."

"Sayang sekali. Aku membayar mahal untuk cincin ini."

Ia tertawa dan melanjutkan perjalanan.

Cassian mendekatkan gerobaknya.

"Jangan menatap."

"Aku belum pernah melihat orang bertanduk."

"Dan mungkin dia belum pernah melihat anak Fontia yang rambut depannya terbakar."

Lucian menutup dahinya dengan kain kepala.

Mereka tiba di Pons Aridus ketika matahari hampir tenggelam.

Permukiman itu dibangun mengelilingi jembatan batu tua yang melintasi sungai kering. Pada musim hujan, air dapat memenuhi celah tersebut selama beberapa pekan. Pada musim itu, hanya pasir dan semak berduri yang bergerak di dasarnya.

Pons Aridus merupakan tempat jalan bercabang.

Jalur utara mengarah ke wilayah kerajaan barat, tempat kota-kota bertembok mempunyai menara tinggi, atap miring, dan rumah-rumah kayu yang dibangun rapat untuk menahan musim dingin.

Jalur selatan menuju kota-kota oasis dan pelabuhan gurun.

Jalur yang mereka pilih mengikuti barat daya menuju Vallis Sola.

Di pasar jembatan, Lucian melihat dunia berkumpul dalam ruang yang hanya selebar dua jalan Fontia.

Seorang dwarf memukul perisai bundar dengan palu untuk membuktikan ketebalannya.

"Besi Ferratum!" teriaknya. "Tahan gigi troll, kuku drake, dan kemarahan istri!"

Seorang perempuan di sebelahnya berteriak, "Perisainya tidak tahan hujan! Jangan percaya!"

"Itu adikku," kata dwarf tersebut kepada para pembeli. "Dia iri karena pisaunya tidak laku."

Perempuan itu mengangkat sebilah golok lebar dengan sisi melengkung.

"Baja Nigravia! Bisa membelah bambu, tulang, dan perisai buatan kakakku!"

Di seberang mereka, seorang penjual dari Imperium Sacrae Coronae memamerkan pedang panjang berpelindung silang. Sarungnya dihiasi lambang mahkota dan matahari. Ia berbicara tentang kesatria, kehormatan, dan tempaan biara.

Dua kios setelahnya, seorang pandai besi gurun menjual pisau pendek melengkung tanpa mengucapkan satu kata pun. Ia hanya membelah sehelai kain yang dilemparkan ke udara.

Kain itu jatuh dalam dua bagian.

Tiga orang langsung menanyakan harga.

Lucian berhenti di depan rak tongkat sihir.

Lihat selengkapnya