Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #10

Bab 9 - Akademia Fontis

Bagian 1 — Teman di Antara Rak Buku

Sudah empat hari sejak karavan Cassian meninggalkan Fontia.

Pagi itu, perpustakaan kota kembali dipenuhi aroma kertas tua, kayu cedar, dan tinta yang baru dikeringkan. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, membentuk garis-garis terang di antara rak-rak buku yang menjulang hampir menyentuh langit-langit.

Livia Seren berjalan perlahan di lorong sejarah, membawa tiga gulungan yang dipinjamnya sehari sebelumnya. Seperti biasa, ia mengembalikan buku ke tempat semula sebelum mencari bacaan baru.

Perpustakaan adalah tempat yang tenang.

Namun pagi ini terasa sedikit berbeda.

Entah mengapa, ia masih terbiasa mendengar suara Lucian yang sesekali muncul dari balik rak sambil bertanya hal-hal aneh.

"Kalau roh bisa tidur, mereka mimpi tidak?"

"Kalau kristal mana ditanam, bisa tumbuh?"

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengganggu waktu belajarnya.

Kini perpustakaan justru terasa terlalu sunyi.

Livia menggeleng pelan.

"Semoga perjalanan mereka lancar..."

Ia menghela napas, lalu kembali mencari buku mengenai roh-roh mata air.

Tangannya hampir menyentuh sebuah buku bersampul biru tua.

Namun tangan lain lebih dulu meraihnya.

"Oh..."

Kedua tangan itu berhenti bersamaan.

Seorang gadis berambut cokelat muda segera menarik tangannya.

"Maaf."

"Tidak apa-apa," jawab Livia pelan.

Gadis itu melihat judul buku yang mereka incar.

De Spiritibus Fontium

Tentang Roh-Roh Mata Air.

"Kau juga mencari buku ini?" tanyanya.

Livia mengangguk.

"Aku sedang mengulang bab mengenai hubungan roh dengan simpul mana."

Wajah gadis itu langsung berbinar.

"Bab empat?"

"Kau juga?"

"Iya!"

Ia tertawa kecil.

"Semua orang membaca bab pertama terus. Padahal bab empat jauh lebih menarik."

Livia sedikit terkejut.

Jarang ada orang seusianya yang mengatakan kalimat seperti itu.

Gadis itu mengulurkan tangan.

"Aku Mira."

"Livia."

"Mira Caelia."

"Livia Seren."

Mata Mira membesar sedikit.

"Oh..."

"Kau mengenalku?"

"Aku sering melihatmu."

"Di mana?"

"Di sini."

Mira menunjuk seluruh ruangan.

"Kau hampir selalu duduk di dekat jendela sebelah timur."

Livia baru sadar.

Ia pun mengenali wajah gadis itu.

"Kau yang sering membaca buku tentang ritual rakyat."

"Ketahuan, ya?"

"Aku pernah melihatmu membawa lima buku tentang sejarah doa."

"Aku suka membandingkan doa dari berbagai daerah."

Livia memiringkan kepala.

"Kenapa?"

"Karena doa menceritakan apa yang ditakuti manusia."

Kalimat itu membuat Livia terdiam.

Mira melanjutkan dengan santai.

"Kalau suatu daerah doanya banyak meminta hujan, berarti mereka sering kekeringan."

"Kalau banyak meminta keselamatan?"

"Berarti mereka sering kehilangan."

Livia belum pernah memikirkan doa dari sudut pandang seperti itu.

Baginya, doa selalu berkaitan dengan struktur mantra dan aliran mana.

Mira justru melihat manusia di baliknya.

Mira melihat kembali buku di rak.

"Bagaimana kalau kita membacanya bersama?"

"Bersama?"

"Kita sama-sama ingin bab empat."

Livia ragu sesaat.

Ia belum pernah belajar bersama orang lain selain ayahnya.

Melihat keraguannya, Mira segera tertawa kecil.

"Aku janji tidak akan mengganggu."

"...Baiklah."

Mereka memilih meja di dekat jendela.

Mira membuka buku tepat di bab yang mereka cari.

Di sana terdapat ilustrasi simpul mana berbentuk akar pohon yang menyebar ke bawah tanah.

"Menurutmu," tanya Mira, "kenapa roh selalu muncul di tempat yang mana-nya stabil?"

Livia langsung menjawab,

"Karena fluktuasi mana yang rendah memungkinkan pola kesadaran bertahan lebih lama."

Mira mengangguk.

"Itu penjelasan buku."

"Lalu?"

"Aku lebih penasaran..."

Ia memandang ilustrasi itu.

"...kenapa roh memilih tetap tinggal di sana."

Livia berkedip.

"Bukankah karena mereka tidak bisa pergi jauh?"

"Itu juga teori."

"Tapi?"

"Kalau roh benar-benar memiliki kesadaran..."

Mira tersenyum kecil.

"...mungkin mereka juga menyukai rumah."

Livia memandang gambar mata air cukup lama.

Ia tidak tahu apakah pendapat itu benar.

Namun...

ia menyukainya.

Waktu berlalu tanpa mereka sadari.

Mereka berdiskusi mengenai roh, bahasa kuno, bahkan sejarah mata air Fontia.

Sesekali mereka berbeda pendapat.

Namun tidak pernah berubah menjadi perdebatan.

Mira lebih banyak bertanya.

Livia lebih banyak menjelaskan.

Sebaliknya, ketika pembicaraan mulai menyentuh kehidupan masyarakat, justru Mira yang lebih banyak bercerita.

"Ayahku penjaga saluran air."

"Benarkah?"

"Iya."

"Berarti kau sering melihat pelayan kuil bekerja."

"Hampir setiap hari."

Mira menutup bukunya.

"Orang sering mengira mereka hanya datang untuk berdoa."

"Bukan?"

"Mereka juga mendengarkan."

"Mendengarkan?"

"Keluhan."

"Masalah keluarga."

"Orang kehilangan pekerjaan."

"Pedagang yang bangkrut."

"Anak-anak yang takut menggunakan mana."

Livia memperhatikan.

"Pelayan kuil tidak selalu memberi jawaban."

"Lalu?"

"Mereka bertanya balik."

"Kenapa?"

"Agar orang menemukan jawabannya sendiri."

Livia tersenyum tipis.

"Itu terdengar seperti filsuf."

Mira ikut tersenyum.

"Memang."

"Ayahku selalu bilang..."

"'Cendekiawan kuil yang baik bukan orang yang memiliki semua jawaban.'"

"'Melainkan orang yang mampu membantu orang lain menemukan jawaban yang benar.'"

Kalimat itu terus terngiang di kepala Livia.

Ia baru sadar...

selama ini ia ingin mempelajari roh.

Tetapi belum pernah benar-benar memikirkan manusia yang datang meminta pertolongan.

"Apa cita-citamu?" tanya Livia.

Mira menjawab tanpa ragu.

"Aku ingin menjadi Cendekiawan Kuil."

"Memberikan ceramah?"

"Iya."

"Mengajar?"

"Iya."

"Memberi berkah?"

"Iya."

"Kenapa?"

Mira memandang halaman luar perpustakaan.

Beberapa anak kecil sedang berlari mengejar burung.

"Saat aku kecil..."

"Ibuku meninggal karena demam."

Livia terdiam.

"Aku pikir semua orang akan melupakannya."

"Tapi setiap sore..."

"Seorang pelayan kuil datang."

"Ia tidak selalu membawa obat."

"Kadang hanya duduk."

"Mendengarkan ayahku."

"Memberikan doa."

"Menjelaskan bahwa bersedih bukan berarti lemah."

Mira tersenyum kecil.

"Aku tidak ingat wajahnya dengan jelas."

"Tapi aku masih ingat suaranya."

"Sejak saat itu..."

"Aku ingin menjadi orang seperti itu."

Livia menggenggam halaman buku.

"Kalau kau?"

"Aku..."

Ia memikirkan jawabannya.

"Aku ingin memahami roh."

Mira tertawa pelan.

"Bagus."

"Kalau begitu nanti kau menjelaskan roh."

"Aku menjelaskan manusia."

Untuk pertama kalinya setelah Lucian pergi, Livia merasa tidak belajar sendirian.

Bagian 2 — Jalan Menuju Akademia Fontis

Menjelang siang, lonceng kuil berbunyi tiga kali.

"Itu tanda ceramah dimulai," kata Mira sambil berdiri.

"Ceramah?"

"Kau belum pernah melihatnya?"

Livia menggeleng.

"Ayah biasanya langsung mengajakku pulang setelah mengembalikan buku."

"Kalau begitu ikut denganku."

Mereka berjalan meninggalkan perpustakaan menuju pelataran kuil.

Templum Radicis berdiri megah di tengah kota. Mata air alami yang menjadi jantung Fontia mengalir tenang di bawah kubah batu putih. Orang-orang datang silih berganti; ada yang membawa kendi, ada yang menaruh bunga, ada pula yang hanya duduk menikmati kesejukan.

Namun perhatian Livia tertuju pada sebuah panggung batu rendah di sisi timur pelataran.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di sana mengenakan jubah putih sederhana dengan sulaman akar pohon berwarna biru di bagian dada.

Di depannya, puluhan warga telah duduk melingkar.

Pedagang.

Petani.

Anak-anak.

Pengrajin.

Bahkan beberapa penjaga kota ikut berhenti mendengarkan.

"Beliau Cendekiawan Kuil?" bisik Livia.

Mira mengangguk.

"Cendekiawan Gaius."

Hari itu topik ceramahnya bukan mengenai roh.

Melainkan mengenai air.

"Setiap tetes air," ujar Gaius, "pernah melewati banyak tangan."

"Karena itu jangan mengotori saluran hanya karena kalian tidak melihat siapa yang meminumnya."

Beberapa warga mengangguk.

Seorang anak kecil mengangkat tangan.

"Kalau salurannya sudah kotor duluan bagaimana?"

Orang-orang tertawa kecil.

Gaius ikut tersenyum.

"Kalau begitu..."

"...jadilah orang pertama yang membersihkannya."

Ceramah berlangsung hampir setengah jam.

Tidak rumit.

Tidak penuh istilah asing.

Namun setiap penjelasan selalu dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Setelah selesai, warga tidak langsung pulang.

Mereka justru mengantre.

Seorang petani bertanya tentang tanaman yang layu.

Seorang pedagang meminta pendapat mengenai perselisihan dagang.

Seorang ibu muda menggendong anak yang wajahnya memerah karena demam.

Gaius mempersilakan ibu itu duduk.

Ia lebih dulu memeriksa napas dan denyut nadi si anak.

Kemudian ia menempelkan telapak tangannya di dahi anak tersebut.

Matanya terpejam.

Ia melafalkan doa dalam Lingua Antiqua dengan suara pelan.

Livia merasakan aliran mana yang lembut mengalir dari tubuh sang cendekiawan.

Bukan deras.

Bukan kuat.

Melainkan hangat.

Seperti air yang mengalir perlahan.

Cahaya kebiruan menyelimuti tubuh anak itu selama beberapa saat.

Napas anak yang semula cepat mulai melambat.

Tangisnya pun mereda.

"Demamnya belum hilang," ujar Gaius kepada sang ibu dengan lembut. "Doa ini hanya membantu tubuhnya beristirahat dan memulihkan tenaga."

Ia kemudian memanggil seorang tabib kuil yang membawa ramuan herbal.

"Minumkan ini setiap beberapa jam. Bila panasnya tidak turun hingga besok pagi, kembali kemari."

Ibu itu membungkuk penuh syukur.

"Terima kasih, Guru."

Setelah mereka pergi, Mira berkata lirih,

"Itulah yang ingin kulakukan suatu hari nanti."

Livia masih memandangi tempat anak itu duduk tadi.

Ia baru memahami bahwa berkah bukanlah keajaiban.

Doa yang dipenuhi mana bukan untuk menggantikan ilmu pengobatan, melainkan memperkuat harapan, menenangkan tubuh, dan membantu proses penyembuhan.

Mungkin...

itulah alasan mengapa masyarakat begitu menghormati para Cendekiawan Kuil.

Mereka tidak menjanjikan mukjizat.

Mereka membagikan pengetahuan, memberi ketenangan, dan menggunakan mana hanya sejauh yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di kejauhan, berdiri bangunan megah dengan tiang-tiang batu putih yang menghadap langsung ke pelataran kuil.

Mira menunjuk ke arah bangunan itu.

"Itulah Academia Fontis Sapientiae."

Livia menatapnya cukup lama.

Di sanalah ia berharap suatu hari dapat belajar.

Bukan sekadar untuk memahami mana.

Melainkan agar suatu hari nanti, ia juga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dibawa masyarakat ke pelataran kuil, dengan kebijaksanaan yang lahir dari ilmu, pengalaman, dan belas kasih.

Bagian 3 — Gerbang Pengetahuan

Dua hari kemudian.

Matahari baru saja melewati puncak kubah kuil ketika Livia dan Mira berjalan menyusuri jalan batu menuju sisi timur kota.

Di sanalah berdiri bangunan yang sejak kecil hanya berani mereka pandangi dari kejauhan.

Academia Fontis Sapientiae.

Enam tiang marmer putih menyangga serambi depannya. Pada puncak setiap tiang dipahat lambang salah satu keluarga Dewan Fontia. Tepat di tengah gerbang, sebuah relief berbentuk mata air dikelilingi akar-akar batu menjalar hingga ke lantai.

Di bawahnya tertulis dalam Lingua Antiqua.

Sapientia ex Radicibus Fluit.

"Kebijaksanaan mengalir dari akar."

Mira membaca pelan.

"Kalimat itu selalu membuatku gugup."

Livia tersenyum tipis.

"Kenapa?"

"Karena rasanya seperti akademi sedang berkata, 'Kalau tidak cukup bijaksana, pulang saja.'"

Livia menggeleng kecil.

"Menurutku justru sebaliknya."

"Apa?"

"'Datanglah mencari akar pengetahuan.'"

Mira tertawa.

"Kau memang selalu menafsirkan tulisan lebih baik dariku."

Antrean pendaftaran sudah mengular hingga halaman.

Calon murid datang dari berbagai penjuru wilayah Fontia.

Ada anak pedagang.

Putra tabib.

Seorang gadis dari desa oasis utara.

Beberapa elf.

Beberapa dwarf.

Bahkan seorang pemuda beastfolk membawa surat rekomendasi dari kuil kecil di luar kota.

Semua membawa harapan yang sama.

Belajar.

Di sisi halaman berdiri papan batu besar.

Di atasnya tertulis bidang-bidang pendidikan akademi.

Ars Manae

Seni dan Pengendalian Mana

Historia et Lingua Antiqua

Sejarah dan Bahasa Kuno

Naturalis

Ilmu Alam

Administratio Civitatis

Administrasi Kota

Architectura Aquarum

Rekayasa Saluran Air

Studia Spiritualia

Studi Spiritual

Di bawah bidang terakhir terdapat keterangan kecil.

Mempersiapkan Cendekiawan Kuil, Penjaga Arsip, Peneliti Naskah, dan Pelayan Ritual.

Mira langsung menunjuknya.

"Itu."

Livia mengangguk.

"Ya."

"Tapi kita mengambil jalur yang berbeda."

"Kau ingin menjadi Cendekiawan Kuil."

"Kau?"

Livia menatap tulisan Penjaga Arsip cukup lama.

"Aku ingin menjaga pengetahuan."

Mira memandangnya.

"Hanya itu?"

Livia berpikir beberapa saat.

"Kalau buku hilang..."

"...orang harus memulai semuanya dari awal."

Lihat selengkapnya