Papan pengumuman itu bahkan belum dipasang ketika halaman Akademia Fontis Sapientiae mulai dipenuhi orang.
Sebagian datang bersama orang tua. Sebagian mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki. Beberapa berdiri dengan tenang seolah hasil ujian tidak penting, tetapi kaki mereka terus bergerak dan tangan mereka tidak pernah lepas dari tali tas.
Livia datang terlalu pagi.
Ia tahu karena petugas halaman masih menyapu daun-daun kering dari tangga, sedangkan dua lampu kristal di bawah serambi belum dipadamkan.
Mira sudah berada di sana.
Gadis itu berdiri di dekat kolam kecil dengan kedua tangan menggenggam ujung lengan bajunya.
"Kau juga tidak bisa tidur?" tanya Livia.
Mira menoleh.
"Aku tidur."
"Berapa lama?"
"Cukup."
"cukup itu berapa lama? "
Mira memandang permukaan kolam.
"Mungkin dua jam."
Livia menahan senyum.
"Itu tidak cukup."
"Setidaknya aku tidak datang sebelum penjaga membuka gerbang."
Livia menatapnya.
"Kau datang lebih dahulu dariku."
"Aku menunggu di luar."
Keduanya saling diam sejenak.
Lalu tertawa kecil, terlalu pelan untuk menghilangkan ketegangan yang menggantung di antara mereka.
Di sekeliling halaman, para peserta mulai membentuk kelompok-kelompok kecil. Beberapa membicarakan pertanyaan ujian. Yang lain mencoba menebak nilai pengukuran mana berdasarkan warna cahaya yang muncul pada kristal.
Seorang anak laki-laki dari keluarga pengukir rune berkata cukup keras agar banyak orang mendengarnya bahwa cahaya birunya bertahan hampir sembilan hitungan.
Anak lain segera membalas bahwa lama cahaya tidak berarti apa-apa jika alirannya tidak stabil.
Dari dekat pilar, seorang ibu membetulkan kerah putranya untuk ketiga kalinya.
"Tidak apa-apa kalau tidak lulus," katanya.
Putranya mengangguk.
Namun wajah sang ibu menunjukkan bahwa kalimat itu tidak sepenuhnya benar.
Livia menatap pintu gedung utama.
"Menurutmu mereka akan menempelkan satu daftar?"
"Entahlah."
"Atau dipisah menurut jalur?"
"Entahlah."
"Kalau nama tidak ada, apakah mereka memberi tahu alasannya?"
"Livia."
"Ya?"
Mira meraih tangannya.
"Kita belum melihat hasilnya."
Livia menunduk.
Tangannya dingin.
Ia baru menyadarinya setelah disentuh.
"Maaf."
"Kau tidak perlu meminta maaf."
"Aku terlalu banyak berpikir."
"Itu mungkin alasan kau cocok menjadi arsiparis."
"Arsiparis harus bisa berhenti berpikir ketika perlu."
"Kalau begitu kau belum cocok."
Livia menatapnya datar.
Mira tertawa kecil.
Untuk sesaat, rasa takut itu mereda.
Kemudian pintu utama akademi terbuka.
Aelia keluar bersama dua petugas administrasi.
Suara percakapan berhenti hampir bersamaan.
Aelia mengenakan jubah abu-abu muda dengan garis biru tua pada kerah—tanda siswa tingkat akhir jalur arsip. Rambutnya diikat sederhana. Di tangannya terdapat tiga gulungan besar yang disegel dengan lilin putih.
Ia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang membawa nasib puluhan orang.
Tetapi ketika ia menuruni tangga, semua mata mengikutinya.
"Selamat pagi," katanya.
Tak seorang pun menjawab.
Aelia memandang halaman.
"Kalau kalian semua terus menahan napas, kami nanti yang repot."
Beberapa orang tertawa gugup.
"Akademia Fontis Sapientiae tidak mengumumkan satu urutan nilai tunggal," lanjutnya. "Kalian diuji untuk beberapa jenis pelayanan. Nilai tertinggi dalam satu bidang tidak selalu berarti cocok untuk bidang lain."
Salah satu petugas memasang gulungan pertama pada papan.
"Daftar pertama adalah peserta yang diterima pada jalur pelayanan kuil."
Gulungan dibuka.
Orang-orang bergerak mendekat, tetapi seorang penjaga mengangkat tangan agar mereka tidak berdesakan.
Livia mencoba membaca dari kejauhan.
Nama-nama ditulis berdasarkan aksara awal, bukan peringkat.
Ia melihat beberapa nama yang dikenalnya dari ruang ujian.
Mira berdiri kaku di sampingnya.
Livia mencari huruf M.
Ada tiga nama sebelum yang dicarinya.
Kemudian—
Mira Caelia.
Di bawah namanya tertulis:
Stabilitas: sangat baik
Kepekaan resonansi: baik
Kendali: baik
Kapasitas: memenuhi syarat pelayanan
Rekomendasi awal: pelayanan kuil dan bimbingan masyarakat
"Mira."
Mira tidak bergerak.
Livia menggenggam lengannya.
"Namamu ada."
"Aku melihatnya."
"Kau lulus."
"Aku melihatnya."
"Kau lulus."
Mira menutup mulut dengan kedua tangan.
Matanya segera dipenuhi air.
Ia tidak menangis keras. Hanya berdiri sambil menarik napas pendek, seolah tubuhnya belum mengerti bahwa ia tidak perlu lagi menahan ketakutan.
Livia memeluknya.
Beberapa orang di sekitar mereka tersenyum. Seorang perempuan yang tampaknya ibu Mira menunggu di luar pagar karena tidak berani masuk halaman. Ketika melihat putrinya mengangguk, ia menutup wajah dengan selendang.
Gulungan kedua dipasang.
"Jalur penelitian mana dan teknik resonansi," kata Aelia.
Livia mencari lagi.
Nama-nama di sana lebih sedikit.
Ia tidak menemukan namanya.
Dada Livia mengencang.
Ia membaca dari awal untuk memastikan.
Tidak ada.
Mira menyentuh bahunya.
"Mungkin daftar ketiga."
Livia mengangguk, tetapi tidak mampu menjawab.
Gulungan terakhir dibuka.
"Jalur arsip, bahasa, sejarah, dan administrasi pengetahuan."
Livia tidak langsung melihatnya.
Ia takut matanya hanya akan melewati nama sendiri karena terlalu ingin menemukannya.
Ia mulai dari baris paling atas.
Huruf demi huruf.
Nama demi nama.
Kemudian ia melihatnya.
Livia Marcellia.
Tulisan di bawah namanya lebih panjang daripada beberapa peserta lain.
Penalaran: sangat baik
Ketelitian dokumentasi: sangat baik
Kepekaan resonansi: tinggi
Kendali: baik
Kapasitas: memenuhi syarat terbatas
Rekomendasi awal: arsip dan penelitian resonansi historis
Catatan: evaluasi pelayanan lapangan diperlukan
Livia membaca kata-kata itu tiga kali.
Ia diterima.