Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #12

Bab 11 - Gerbang yang Sama

Matahari telah turun hingga menyentuh punggung bukit ketika bayangan pertama muncul di jalan barat.

Livia berdiri begitu cepat hingga surat penerimaan di tangannya terlepas.

"Karavan!" seru seseorang dari atas menara.

Orang-orang yang menunggu di bawah Gerbang Barat serentak bergerak mendekati jalan. Seorang ibu mengangkat anaknya agar dapat melihat melewati bahu orang dewasa. Dua pekerja rumah dagang berlari mengambil papan pencatat. Penjaga yang sejak siang bersandar pada tembok segera merapikan tombaknya.

Livia memungut suratnya tanpa melepaskan pandangan dari kejauhan.

Awalnya ia hanya melihat debu.

Kemudian ujung kain penutup gerobak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Karavan itu bergerak lebih lambat daripada seharusnya. Salah satu gerobak ditarik hanya oleh seekor hewan. Kain penutup gerobak belakang menghitam pada bagian atas, dan sepotong sisinya telah robek seperti dicakar sesuatu yang sangat besar.

Namun gerobak-gerobak itu masih bergerak.

Tidak ada yang ditarik kembali dalam keadaan terbalik.

Tidak ada tandu terlihat di antara mereka.

Livia mengembuskan napas yang terasa telah ditahannya sejak siang.

"Itu rombongan Cassian," kata petugas gerbang setelah melihat lambang pada bagian depan gerobak.

Livia hampir berlari keluar.

Seorang penjaga menghadang dengan tangkai tombak.

"Tunggu sampai pemeriksaan selesai."

"Saya hanya mau—"

"Semua yang datang dari jalur barat harus diperiksa."

"Tapi mereka sudah—"

"Livia."

Ia menoleh.

Ibunya Lucian berdiri beberapa langkah di belakang. Perempuan itu datang tanpa diketahui Livia, masih mengenakan pakaian kerja dengan sedikit serbuk logam menempel pada lengan.

Wajahnya tampak tenang.

Hanya kedua tangannya yang terus saling menggenggam.

"Mereka sudah terlihat," katanya. "Tunggu saja, mungkin sebentar lagi."

Livia mengangguk, meskipun setiap bagian tubuhnya ingin melakukan sebaliknya.

Karavan mendekat.

Barulah kerusakannya terlihat jelas.

Pasir menempel tebal pada roda. Salah satu peti diikat ulang menggunakan tali dengan warna yang berbeda. Punggung seekor hewan penarik dibalut kain. Para pengawal tertutup debu dari kepala sampai kaki.

Lucian duduk di samping kusir gerobak kedua.

Rambutnya kaku oleh pasir. Wajahnya lebih gelap karena matahari dan debu. Salah satu lengan bajunya terbakar pada ujung, tetapi ia duduk tegak.

Livia mengangkat tangan.

Lucian melihatnya.

Wajah lelah itu langsung berubah.

Ia berdiri terlalu cepat hingga hampir jatuh dari tempat duduk.

"Livia!"

Kusir menarik bagian belakang bajunya.

"Duduk kalau tidak ingin pulang tanpa gigi!"

Lucian tertawa dan kembali duduk.

Baru ketika melihat Cassian menunggang di depan rombongan, ibu mereka benar-benar melepaskan genggaman tangannya.

Cassian mengangkat satu tangan.

Ia tampak lebih lelah daripada Lucian, tetapi tidak terluka.

Karavan akhirnya berhenti di depan pos pemeriksaan.

Livia mengira palang gerbang akan langsung dinaikkan.

Ternyata seorang petugas berjanggut pendek melangkah maju dan mengangkat telapak tangannya.

"Perlihatkan surat jalan."

Cassian turun dari kudanya.

Ia membuka tas kulit di pinggang, lalu menyerahkan gulungan yang sudutnya telah kusut.

Petugas itu membuka dokumen di bawah cahaya lampu gerbang.

Wajahnya segera berkerut.

"Segelnya rusak?."

"Kami melewati badai pasir," jawab Cassian.

"Cap Vallis Sola hampir tidak terlihat."

"Nomor kontrak masih dapat dibaca."

"Nomor bukan segel."

Cassian mengembuskan napas.

"Kami berangkat dari Fontia dengan surat yang dicatat di kantor perdagangan. Periksa nomor gerobak dan daftar rumah dagang."

Petugas mengembalikan surat itu.

"Tanpa segel yang utuh, muatan harus ditahan sampai pemeriksaan esok pagi."

"Muatan kami sudah diperiksa di Vallis Sola."

"Sekarang kalian berada di Fontia."

"Tapi rumah kami ada di balik gerbang itu."

"Peraturan tetap peraturan."

Lucian turun dari gerobak.

"Yang benar saja? Apakah peraturannya berubah sejak kami pergi?"

Cassian menoleh tajam.

"Lucian."

"Aku cuma bertanya."

Petugas berjanggut menatapnya.

"Anak-anak tidak ikut dalam pemeriksaan."

"Aku tercatat sebagai pembantu pedagang."

"Kau tercatat sebagai masalah kalau terus berbicara."

Cassian memegang bahu Lucian sebelum ia sempat menjawab.

Di belakang palang, Livia melihat beberapa penjaga mulai memeriksa bagian luar gerobak. Mereka tidak membuka peti, tetapi salah seorang menusukkan batang logam ke sela-sela tali.

Cassian mengangkat gulungan itu lagi.

"Salinan kedua ada di dalam peti dokumen."

"Peti tidak boleh dibuka sebelum muatan ditahan."

"Bagaimana aku menunjukkan salinan kalau aku tidak boleh membuka petinya?"

"Itu bukan urusan saya."

"Kalau begitu urusan siapa?"

"Cukup."

Suara itu tidak keras.

Namun kepala pemeriksa langsung menoleh.

Seorang pemuda sedang menuruni tangga batu yang mengikuti saluran air di sisi gerbang. Dua penjaga berjalan beberapa langkah di belakangnya, tetapi ia tidak mengenakan seragam penjaga.

Jubahnya berwarna putih keabu-abuan dengan garis biru gelap pada bagian dalam. Sebuah pin perak terpasang di bahunya: enam aliran yang bertemu pada satu mata air.

Ia tampak berusia sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun.

Lebih tua daripada Lucian, tetapi terlalu muda untuk membuat petugas gerbang berdiri setegak itu.

"Tuan Valerius," kata kepala pemeriksa sambil menunduk.

Pemuda itu turun sampai halaman pemeriksaan.

"Jelaskan apa masalah mereka."

"Segel surat jalan rusak. Saya bermaksud menahan muatan sampai kantor perdagangan buka besok."

Valerius mengulurkan tangan.

Cassian tidak langsung memberikan dokumennya.

Mata mereka bertemu.

Kemudian Cassian menyerahkannya.

Valerius membaca surat itu sampai akhir. Ia tidak sekadar melihat segel. Ia memeriksa nomor kontrak, nama rumah dagang, jumlah gerobak, dan daftar barang yang dibawa ketika berangkat.

"Rumah Dagang Marcellus," katanya.

"Benar," jawab Cassian.

"Dua belas peti perangkat kanal. Empat peti alat penahan resonansi. Tiga peti lampu atelier."

"Semua telah diserahkan sesuai kontrak."

"Apa saja muatan pulangnya?"

"Garam, kertas palem, bijih tembaga, minyak rempah, kulit gurun, benih kering, serta barang pribadi."

Valerius melirik gerobak yang kainnya hangus.

"Dan satu bagian atap yang hampir terbakar."

"Tidak tercantum dalam kontrak."

Sudut bibir Valerius bergerak sedikit.

Ia kemudian menoleh kepada kepala pemeriksa.

"Peraturan gerbang bagian ketujuh mengizinkan verifikasi melalui daftar rumah dagang apabila segel rusak akibat keadaan perjalanan."

"Namun, Tuan, daftar itu berada di kantor—"

"Nomor gerobak tercatat pada pelat poros."

Valerius menunjuk bagian bawah gerobak pertama.

"Cocokkan nomor itu dengan salinan pos gerbang ketika mereka berangkat. Tidak perlu menahan seluruh muatan."

Kepala pemeriksa terlihat hendak membantah, tetapi urung.

"Baik, Tuan."

"Dan jangan mempersulit pedagang hanya karena membaca peraturan sampai baris pertama terasa lebih mudah daripada membaca sampai akhir."

Beberapa pekerja rumah dagang menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyum.

Petugas itu memanggil dua orang untuk memeriksa nomor poros.

Cassian menerima kembali suratnya.

"Terima kasih."

"Tidak perlu," kata Valerius. "Jalan yang rusak sudah cukup menghambat perdagangan. Petugas kota tidak perlu menambahkan kesulitan mereka."

Ia hendak berjalan pergi.

Kemudian pandangannya jatuh pada kain penutup gerobak yang menghitam.

Valerius mendekat.

Ia menyentuh bekas terbakar dengan dua jari, menggosok abu di antara ibu jari dan telunjuknya, lalu mencium baunya sebentar.

"Nasar Merah."

Lucian menatapnya.

"Kau tahu dari bekasnya?"

"Api biasa membakar dari satu arah. Topan sayap meninggalkan pusaran."

Valerius menunjuk pola hitam yang melengkung pada kain.

"Kawanan besar?"

"Sembilan," jawab Lucian. "Mungkin lebih."

Cassian meliriknya, tetapi tidak menghentikan.

"Satu cukup besar untuk membuat pusaran api," lanjut Lucian. "Kalau minyak di dalam gerobak tersambar—"

"Tetapi tidak tersambar."

"Aku mengalirkan air melalui saluran kain."

Valerius memandangnya lebih saksama.

"Dengan mantra air?"

"Dasar."

"Dalam angin gurun?"

"Airnya sudah ada. Aku hanya mengarahkannya."

Untuk pertama kalinya, senyum Valerius tampak lebih jelas.

"Pilihan yang baik."

Pujian itu membuat Lucian berdiri sedikit lebih tegak.

Cassian tidak ikut tersenyum.

Valerius berjalan ke bagian belakang gerobak. Di sana terdapat bekas cakaran pada kayu dan sisa tali yang telah dipotong dari poros.

"Burung-burung itu mengikuti kalian cukup lama?"

"Hanya sampai badai tiba," kata Cassian.

"Tidak biasa."

"Perpindahan musim?"

"Mungkin."

Valerius membungkuk, melihat bagian bawah poros, lalu berdiri kembali.

"Nasar Merah jarang mendekati karavan tanpa bau darah."

Kesunyian kecil terbentuk.

Lucian menatap Cassian.

Cassian tidak memperlihatkan perubahan wajah.

"Kami menemukan umpan daging," katanya akhirnya.

"Di antara muatan?"

"Di bawah gerobak."

"Diikat?"

"Ya."

Valerius memandang kepala pemeriksa.

"Apakah laporan telah dibuat?"

"Kami baru akan memeriksa muatannya, Tuan."

"Bukan muatannya. Percobaan sabotase terhadap karavan Fontia."

Petugas itu terlihat tidak nyaman.

"Belum ada bukti pelakunya."

"Laporan tidak memerlukan pelaku. Laporan memerlukan kejadian."

Valerius menoleh kembali kepada Cassian.

"Simpan talinya."

"Sudah."

"Jangan bersihkan simpulnya."

Cassian menyipitkan mata.

Lihat selengkapnya