Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #13

Bab 12 - Laporan yang Tidak Dianggap

Pagi setelah kepulangan mereka, halaman Rumah Dagang Marcellus sudah kembali dipenuhi bunyi pekerjaan.

Peti-peti dari Vallis Sola dibuka satu per satu. Garam merah ditimbang. Gulungan kertas palem dihitung. Bijih tembaga dipisahkan berdasarkan kadar warnanya. Kulit gurun digantung di bawah atap agar tidak lembap.

Tidak ada seorang pun yang memperlakukan kepulangan mereka sebagai akhir perjalanan.

Bagi rumah dagang, perjalanan baru selesai ketika semua barang telah dicatat, semua biaya dihitung, dan tidak ada satu keping pun yang hilang tanpa diketahui ke mana perginya.

Lucian duduk di depan meja panjang dengan tiga papan catatan di sekelilingnya.

Di papan pertama tertulis barang yang dibawa dari Fontia.

Di papan kedua, pembayaran yang diterima di Vallis Sola.

Di papan ketiga, barang yang mereka bawa pulang.

Cassian berdiri di belakangnya sambil memeriksa satu demi satu angka.

"Empat puluh delapan kantong garam," kata Lucian.

"Empat puluh tujuh."

Lucian menunjuk catatan.

"Empat puluh delapan saat berangkat dari rumah dagang Vallis Sola."

"Dan berapa yang tiba?"

Lucian melihat tumpukan di sisi halaman.

Empat baris.

Masing-masing sebelas.

Ditambah tiga kantong di dekat pintu gudang.

Empat puluh tujuh.

Ia mengerutkan kening.

"Satu hilang saat badai?"

"Belum tentu."

"Nasar Merah?"

"Belum tentu."

"Daran?"

Dari kejauhan terdengar suara Daran.

"Aku mendengar itu!"

Cassian menahan senyum.

"Pedagang tidak menulis 'belum tentu' di buku besar. Cari jawabannya."

Lucian berdiri dan memeriksa gerobak.

Kantong yang hilang akhirnya ditemukan di bawah tumpukan kulit gurun. Talinya putus, lalu kantong itu tergelincir di antara papan gerobak ketika rombongan melewati jalan berbatu.

Lucian membawanya kembali.

"Empat puluh delapan."

Cassian mengangguk.

"Sekarang boleh ditulis."

Lucian kembali duduk.

Ia mulai memahami bahwa catatan bukan sekadar angka yang harus sesuai.

Setiap perbedaan mempunyai sebab.

Dan sebab yang tidak dicari hari ini dapat berubah menjadi tuduhan besok.

Di meja lain, Octavian sedang memeriksa perangkat yang kembali tanpa terjual. Ia mencatat goresan, kerusakan kecil, dan sisa muatan kristal.

"Inti lampu ketiga kehilangan seperlima kapasitas," katanya.

"Dipakai saat badai," jawab Brennus.

"Berapa lama?"

"Entahlah."

Octavian menatapnya.

"Jawaban yang sangat berguna."

"Kami tidak membawa jam ketika bersembunyi di bawah gerobak."

"Lonceng perjalanan?"

"Tidak terdengar karena angin."

Octavian menulis sesuatu.

"Kalau begitu, perkiraan berdasarkan sisa muatan."

Lucian memperhatikan mereka.

Di Vallis Sola, ia mengira perdagangan terjadi ketika seseorang menyerahkan barang dan orang lain menyerahkan uang.

Sekarang ia melihat perdagangan berlangsung jauh sebelum barang dijual dan masih berlangsung lama setelah pembayaran diterima.

Barang harus dibuat.

Diuji.

Dibungkus.

Dikirim.

Dijaga.

Dicatat.

Kadang diselamatkan dari burung yang mampu membuat pusaran api.

Harga sebuah benda bukan hanya harga bahan.

Harga sebuah benda adalah seluruh jalan yang harus dilaluinya.

Menjelang tengah hari, Cassian menutup buku besar.

"Cukup."

Lucian meregangkan punggungnya.

"Sudah selesai?"

"Bagian yang mudah."

"Apa bagian sulitnya?"

Cassian mengambil kantong kecil berisi tali hitam.

"Menjelaskan ini kepada orang yang berharap tidak perlu melakukan apa-apa."

Mereka meninggalkan rumah dagang menuju kantor Persatuan Penjaga Karavan.

Bangunannya berdiri dekat Gerbang Barat, tetapi tidak berada di bawah penjaga kota. Persatuan itu dibentuk oleh rumah-rumah dagang untuk mencatat ancaman jalan, mengatur pengawal, dan berbagi kabar mengenai perampok atau kerusakan jalur.

Di atas pintunya tergantung papan kayu bergambar roda yang dikelilingi empat tombak.

Lucian pernah beberapa kali masuk ke sana bersama ayahnya ketika kecil.

Ia hanya mengingat bau kulit basah dan orang-orang yang selalu berbicara terlalu keras.

Bau itu belum berubah.

Seorang petugas perempuan berambut pendek duduk di balik meja. Bekas luka membelah salah satu alisnya.

"Cassian Marcellus," katanya. "Kudengar kalian membawa setengah gurun pulang di pakaian."

"Setengah lainnya masih di gerobak."

"Korban?"

"Tidak ada yang mati."

"Luka?"

"Satu hewan tercakar. Dua orang terkena luka bakar ringan. Tidak menghambat perjalanan."

Perempuan itu mengambil papan laporan.

"Fauna?"

"Nasar Merah."

"Jumlah?"

"Sembilan terlihat. Mungkin lebih."

"Wilayah?"

Cassian menyebutkan lokasi jalan dan jaraknya dari Vallis Sola.

Petugas mulai menulis.

"Perpindahan kawanan?"

"Sabotase."

Ujung pena berhenti.

Petugas mengangkat kepala.

Cassian meletakkan kantong kecil di atas meja.

"Tali ini ditemukan di bawah poros gerobak belakang. Ada potongan daging dan lemak yang diikat dengan simpul."

Perempuan itu mengenakan sarung tangan tipis, lalu mengeluarkan tali.

"Siapa yang melihat saat ditemukan?"

"Daran, Brennus, Lucian, dan aku."

"Siapa yang melihat orang memasangnya?"

"Tidak ada."

"Apakah kalian memeriksa gerobak sebelum berangkat?"

"Ya. Kami menemukan satu kantong daging di antara muatan dan membuangnya."

"Jadi kalian tahu ada sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana."

"Kami tidak menemukan ikatan di bawah poros."

Petugas membalik tali itu.

"Simpul pengikat beban."

"Bukan simpul rumah dagang kami."

"Tidak hanya kalian yang memakai simpul ini."

"Aku tahu."

"Lambang?"

"Tidak ada."

"Serat?"

"Biasa."

"Noda?"

"Darah dan lemak."

Petugas mengembuskan napas.

"Aku bisa mencatat dugaan sabotase."

"Bukan dugaan."

"Aku tidak mencatat keyakinan, Cassian. Aku mencatat apa yang dapat dibuktikan."

Lucian merasakan rahangnya mengeras.

"Daging itu tidak mengikat dirinya sendiri."

Petugas menoleh kepadanya.

"Aku tidak mengatakan begitu."

"Kalau seseorang mengikatnya, berarti sabotase."

"Kalau seseorang mengikatnya dengan tujuan menarik Nasar Merah."

"Untuk apa lagi?"

"Membuang limbah. Menyimpan umpan berburu. Membawa makanan hewan. Kebodohan."

"Di bawah poros?"

"Karena itulah akan kutulis sebagai dugaan sabotase."

Lucian hendak menjawab, tetapi Cassian mengangkat tangan.

"Apakah laporan itu akan disebarkan kepada rombongan lain?"

"Ya."

"Apakah penjaga jalan akan memeriksa gerobak sebelum keluar Vallis Sola?"

"Kami dapat mengirim peringatan."

"Apakah kau akan menyelidiki siapa yang mendekati gerobak kami?"

Petugas bersandar.

"Di kota asing yang berada tiga hari perjalanan dari sini?"

"Kami punya mitra di Vallis Sola."

"Kami punya dua orang pencatat dan satu penghubung yang lebih sibuk mengurus tarif pengawal daripada memeriksa setiap pekerja gudang."

Cassian menatapnya.

"Jadi tidak."

"Jadi kami tidak bisa menjanjikan penyelidikan yang tidak mampu kami lakukan."

Itu terdengar jujur.

Justru karena jujur, jawabannya lebih menyebalkan.

Petugas memasukkan tali ke dalam kantong bukti baru dan menuliskan nomor.

"Apakah ada alasan kalian menjadi sasaran?"

Cassian diam sesaat.

Lucian teringat lelaki berjubah kelabu.

Cassian menjawab:

"Kami melihat anggota Serikat Timbangan Emas mengawasi rumah dagang Vallis Sola."

Petugas kembali berhenti menulis.

"Anggota?"

"Seseorang memakai lambang mereka."

"Itu berbeda."

"Lambang timbangan emas di dada."

"Banyak pekerja serikat memakai lambang."

"Dia menghadap rumah dagang kami."

"Banyak orang menghadap bangunan ketika berdiri di pasar."

Lucian mengepalkan tangan di bawah meja.

"Dia pergi setelah kami melihatnya."

"Kebanyakan orang pergi setelah selesai berdiri."

"Jadi semua ini tidak berarti apa-apa?"

Petugas menatap Lucian cukup lama.

"Artinya banyak."

"Lalu kenapa—"

Lihat selengkapnya