Lambang timbangan itu masih ada ketika mereka kembali ke bengkel keesokan paginya.
Hujan tipis semalam tidak turun cukup deras untuk menghapus arang dari dinding. Salah satu sisinya tergambar lebih rendah, seakan-akan sedang menanggung beban yang tidak terlihat.
Octavian berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terlipat.
"Menurutmu ini ancaman?" tanya Lucian.
"Menurutku ini gambar timbangan yang buruk."
Lucian menatapnya.
"Orang mengikuti kita, menguping di luar jendela, lalu meninggalkan lambang Serikat Timbangan Emas. Dan yang kau pikirkan adalah kualitas gambarnya?"
"Kalau seseorang ingin membuatku takut, setidaknya dia bisa menggambar garis yang lurus."
Cassian berjongkok di dekat dinding. Ia tidak menyentuh lambang tersebut. Matanya memeriksa tanah, sisi jendela, dan kait besi yang ditemukan malam sebelumnya.
"Jejaknya sudah bercampur," katanya. "Gang ini dipakai banyak orang sejak pagi."
"Jadi kita tidak bisa mengetahui siapa yang datang?" tanya Livia.
"Bisa," jawab Cassian. "Kalau orangnya cukup bodoh untuk kembali dan mengaku."
Octavian mengambil sepotong papan tipis dan menutup lambang itu.
Lucian mengerutkan kening.
"Kenapa ditutup?"
"Karena pekerjaku akan datang sebentar lagi. Aku tidak ingin seluruh pasar mendengar cerita bahwa Serikat Timbangan Emas mengancam atelier sebelum kita mengetahui apakah gambar itu benar-benar dibuat oleh mereka."
"Siapa lagi yang memakai lambang timbangan?"
"Orang yang ingin kita percaya bahwa serikatlah pelakunya."
Lucian membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Kemungkinan itu tidak terpikir olehnya.
Cassian berdiri dan membersihkan lututnya.
"Lambang dapat berarti pengakuan, peringatan, atau penyamaran. Kita belum tahu yang mana."
"Kalau begitu kita kembali pada jawaban yang sama," kata Lucian. "Kita tidak tahu."
"Ya."
"Kau tidak merasa terganggu?"
"Tentu saja."
Cassian menghadapnya.
"Tapi rasa terganggu bukan alasan untuk memilih jawaban yang paling cepat. Orang yang ingin menuntunmu ke sebuah kesimpulan akan selalu meninggalkan petunjuk yang terlalu mudah ditemukan."
Lucian menoleh ke papan yang kini menutupi gambar timbangan.
"Jadi kau pikir seseorang sengaja ingin kita mencurigai serikat?"
"Aku pikir seseorang sengaja ingin kita melihat lambang itu. Selebihnya belum jelas."
Livia mengeluarkan papan lilin kecil dari tasnya.
"Aku akan mencatat bentuknya."
Octavian meliriknya.
"Untuk apa?"
"Kalau gambar yang sama muncul lagi, kita bisa membandingkan proporsinya."
Lucian menunjuk dinding.
"Kau bisa membedakan orang dari cara menggambar timbangan?"
"Aku bisa mencoba membedakan tangan yang membuatnya."
"Bagaimana?"
"Tekanan arang. Arah garis. Urutan goresan. Kebiasaan membuat sudut."
Octavian menatap Livia dengan penghargaan yang tidak ia ungkapkan melalui kata-kata.
Cassian justru mengangguk.
"Itulah sebabnya aku mengajak kalian berdua."
"Karena aku bisa membaca jejak gambar?" tanya Livia.
"Karena kau tidak langsung mengatakan siapa pelakunya."
Lucian bersandar pada tembok.
"Dan aku diajak karena apa?"
"Karena alat itu bereaksi kepadamu."
"Jadi aku hanya bagian dari percobaan?"
"Untuk saat ini, ya."
Octavian membuka pintu bengkel.
"Masuklah sebelum kalian mulai berdebat tentang siapa yang paling berguna. Aku ingin melihat benda itu lagi sebelum pekerja datang."
Ruang pengujian Officina Manus Clarae telah dibersihkan.
Tidak ada inti kristal terbuka. Tidak ada alat yang masih mengandung panas mana. Meja batu di tengah ruangan hanya memuat lampu kecil, beberapa lensa, gulungan kain, dan kotak kayu yang dibawa Cassian.
Cassian mengunci pintu dari dalam.
Kemudian ia mengeluarkan alat peninggalan ayah mereka.
Dalam cahaya pagi, benda itu terlihat lebih tua daripada malam sebelumnya.
Lingkaran logam perunggunya penuh goresan. Sebagian tanda di tepinya aus karena terlalu sering disentuh. Jarum pendek di tengah tampak tidak berguna sebagai penunjuk arah, terlebih karena ia tidak memiliki empat pembagian mata angin.
Octavian menaruh alat itu di atas bantalan kain.
"Kita sudah tahu ia merespons pola yang digambar Livia."
"Atau gema dari benda yang dilihat Livia," kata Cassian.
"Belum tentu ada perbedaan," jawab Octavian. "Sebuah pola dapat membawa gema jika dibuat dengan susunan yang tepat."
Livia mengeluarkan salinan simbol dari pecahan akademi.
"Aku menggambarnya dengan tinta biasa."
"Tinta biasa tetap mengandung mineral," kata Octavian.
"Jadi alatnya mungkin bereaksi kepada tinta?"
"Mungkin."
Lucian menghela napas.
"Semua jawaban kalian selalu 'mungkin'."
Octavian memasang lensa pada matanya.
"Karena orang yang mengatakan 'pasti' terlalu cepat biasanya hanya sedang berusaha terdengar pintar."
Ia memeriksa sisi bawah alat.
Dua kepala pengunci dari logam hitam masih terlihat seperti sekrup, tetapi pola di sekelilingnya menunjukkan bahwa bagian itu mungkin sebuah rune mekanis.
Livia mendekat.
"Kemarin kau bilang garisnya bukan satu putaran penuh."
"Benar."
"Bagaimana kalau bukan diputar, tetapi digeser?"
Octavian mengambil jarum ukir paling tipis.
Ia menyentuh salah satu lengkungan, lalu mendorongnya perlahan ke samping.
Tidak bergerak.
Ia mencoba pada bagian lain.
Masih tidak ada perubahan.
Lucian meletakkan telapak tangan dekat alat, tanpa menyentuhnya. Tarikan samar itu muncul lagi.
"Bagian kiri," katanya.
Octavian berhenti.
"Bagian kiri mana?"
"Dari arahku. Dekat garis yang lebih pendek."
Octavian menggeser jarum ukir ke sana.
"Apa kau merasa sesuatu?"
"Seperti saat ada aliran air di balik dinding. Aku tahu ada arah, tapi tidak tahu seberapa jauh."
"Kalau aku memindahkan alat ini?"
Octavian memutar bantalan setengah lingkaran.
Lucian menutup mata.
Tarikan itu ikut berpindah.
"Berasal dari alatnya."
"Bagus. Setidaknya bukan karena meja."
Octavian menekan satu garis pendek.
Terdengar bunyi kecil.
Bukan suara patahan.
Lebih seperti kait yang terlepas setelah lama terkunci.
Semua orang membeku.
Octavian mengangkat kedua tangannya.
"Aku belum merusaknya."
Cassian membungkuk.
"Bagian mana yang bergerak?"
"Lingkaran dalam."
Dengan ujung penjepit, Octavian mendorong cincin sempit di sekitar jarum. Cincin itu bergeser kurang dari lebar kuku.
Sebuah celah muncul pada sisi bawahnya.
Lucian merasakan tarikan menguat.
"Berhenti."
Octavian segera berhenti.
"Ada apa?"
"Rasanya berbeda."
"Lebih kuat?"
"Lebih dekat."
Livia berdiri di sisi Lucian.
"Dekat dengan apa?"
"Aku tidak tahu. Seperti ada dua arah sekaligus."
Cassian memandang alat itu, kemudian simbol yang digambar Livia.
"Coba jauhkan kertasnya."
Livia membawa salinan simbol ke ujung ruangan.
Jarum alat bergerak sedikit mengikutinya, tetapi tarikan yang dirasakan Lucian tidak hilang.
"Bukan hanya gambar," katanya.
Octavian membuka celah itu sedikit lebih lebar.
Di dalamnya terdapat lapisan logam tipis.
Bukan roda gigi.
Bukan kristal.
Sebuah lempeng kecil terlipat mengelilingi bagian dalam cincin.
Cassian meletakkan tangannya di tepi meja.
"Bisa dikeluarkan?"
"Bisa," kata Octavian. "Tetapi kalau lempeng ini berfungsi sebagai penahan, melepasnya dapat membuat seluruh lingkaran berubah posisi."
"Berubah bagaimana?"
"Kalau aku tahu, aku tidak akan memberi peringatan."
Cassian diam sejenak.
"Keluarkan hanya kalau tidak perlu mematahkan apa pun."
Octavian menggunakan dua penjepit. Sedikit demi sedikit, ia menarik ujung lempeng tersebut.
Logam tipis itu terbuka seperti pita.
Panjang seluruhnya hampir dua kali telapak tangan, tetapi sangat sempit. Permukaannya dipenuhi barisan angka, tanda, dan garis pemisah yang begitu kecil hingga harus dilihat melalui lensa.
Livia menahan napas.
"Itu tulisan."
"Lebih mirip catatan," kata Cassian.
Lucian melihat deretan angka.
"Ayah menyembunyikannya di sana?"
"Entah Ayah yang menyembunyikan atau orang sebelum dia."
Octavian meletakkan pita logam di atas kain.
"Ukirannya tidak setua bagian alat."
"Apa maksudmu?" tanya Lucian.
"Gaya angkanya. Ini bukan tulisan kuno. Setidaknya sebagian dibuat oleh orang yang memahami sistem hitung perdagangan modern."
Cassian mengambil lensa.
Ia membaca baris pertama.
"Dua belas. Empat. Tiga puluh satu. Delapan."
"Jumlah barang?" tanya Lucian.
"Mungkin."
Livia berdiri di sampingnya.
"Tidak ada satuan."
"Pedagang yang menulis untuk dirinya sendiri kadang tidak mencantumkan satuan."
"Kalau ini milik ayahmu, ia mungkin memakai sandi."
Cassian berpindah ke baris berikutnya.
"Ada tiga lambang yang berulang."
Lucian mengenal salah satunya.
"Timbangan."
Bentuknya sangat kecil, tetapi jelas: dua lengan yang tidak seimbang.
Di sampingnya terdapat lambang seperti gunung terbelah dan sebuah lingkaran dengan titik kosong di tengah.
Livia mengambil papan lilin.
"Jangan langsung menyalin berdasarkan dugaan. Kita buat satu per satu."
"Aku tahu bentuk timbangan," kata Lucian.
"Kau tahu bentuk yang menyerupai timbangan."
"Bedanya apa?"
"Kalau nanti ternyata itu bukan timbangan, salinan kita tetap benar."
Lucian menggeleng.
"Akademi sudah merusakmu hanya dalam dua hari."
"Akademi hanya memberiku kata-kata untuk mengoreksimu."
Cassian hampir tersenyum, tetapi perhatiannya kembali pada pita logam.
"Ada tanggal."
"Kalender Fontia?" tanya Octavian.
"Sebagian."
Cassian menunjuk satu rangkaian:
EI 97 — Messis 14
"Era Imperialis," kata Livia. "Tahun sembilan puluh tujuh, bulan Messis, hari keempat belas."
"Yang ini berbeda."
Di baris lain tertulis:
AM 521 — Air Kedua — 6
Livia menatapnya.
"Era Mata Air."
"Regnum Sapientiae?"
"Ya. Mereka tidak memakai nama bulan yang sama."
Lucian memandang kedua tanggal itu.
"Ayah mencatat perdagangan dengan Timur?"
Cassian tidak menjawab segera.
Ayah mereka meninggal beberapa tahun setelah tanggal terakhir yang terlihat pada pita. Jika catatan itu memang miliknya, berarti ia telah menyimpan informasi tersebut cukup lama.
Livia memeriksa deretan angka lain.
"Dua kalender pada satu catatan biasanya berarti transaksi lintas negara."
"Atau seseorang ingin menyamakan tanggal dari dua sumber," kata Cassian.
Octavian mengangkat pita dengan penjepit.
"Baris ini tidak hanya angka."
Ada beberapa huruf kecil:
V.V.
Kemudian tanda seperti tiga aliran yang bertemu pada batu.
Lucian menunjuknya.
"Vallis Sola?"
"Hurufnya dua V," kata Livia. "Vallis Sola seharusnya V.S."
"Vallis Viridis?" tanya Octavian.
Cassian menatapnya.
"Lembah Hijau?"
"Nama internasional beberapa lembah di selatan memakai bentuk itu."
Livia menyalin huruf tersebut.
"Bisa juga nama orang."
"Atau rumah dagang."
"Atau tempat."
Lucian memijat pelipisnya.
"Kita akhirnya menemukan catatan tersembunyi dan tetap tidak tahu apa isinya."
Cassian meletakkan lensa.
"Kita tahu lebih banyak daripada kemarin."
"Apa?"
"Ayah menggunakan dua kalender. Ia mencatat sesuatu yang berkaitan dengan Timbangan Emas. Dan salah satu tanda mungkin mengarah ke selatan."
"Itu belum cukup untuk mengetahui kenapa dia dibunuh."
"Tidak."
Cassian memandangnya dengan tenang.
"Tapi cukup untuk mengetahui bahwa kematiannya mungkin tidak berdiri sendiri."
Ucapan itu membuat ruangan menjadi sunyi.
Selama bertahun-tahun mereka hidup dengan penjelasan sederhana: ayah mereka mati karena serangan jalan. Perjalanan dagang berbahaya. Karavan kadang tidak pulang. Tidak setiap luka memiliki dalang.
Namun sebuah catatan yang sengaja disembunyikan di dalam alat tua tidak cocok dengan kematian acak.
Lucian menatap pita logam.
"Sejak kapan kau mencurigainya?"
Cassian tidak segera menjawab.
Octavian melepaskan lensa dari matanya. Livia menurunkan pena.