Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #15

Bab 14 - Enam Meja, Enam Izin

Kontrak perjalanan selatan ternyata tidak disimpan di rumah dagang.

Cassian membawanya pulang menjelang malam dalam tabung kulit yang segelnya belum dibuka. Ia tidak langsung memanggil Lucian. Ia makan bersama keluarga seperti biasa, menanyakan keadaan bengkel kepada ibunya, mendengarkan Lucian menceritakan pertengkaran kecil antara dua pekerja gudang, lalu membantu menutup jendela ketika angin mulai membawa debu dari bukit barat.

Baru setelah rumah menjadi sunyi, ia meletakkan tabung itu di atas meja.

Lucian yang sejak tadi menunggu di dekat pintu segera mendekat.

"Jadi kau menerimanya?"

"Aku mengambil salinannya."

"Itu hampir sama."

"Tidak sama."

"Kalau kau tidak tertarik, kau tidak akan membawanya pulang."

Cassian duduk dan membuka ikatan tabung.

"Pedagang yang menolak membaca kontrak karena belum berniat menerimanya biasanya akan menerima kontrak yang lebih buruk kemudian."

Lucian menarik kursi di seberangnya.

"Berapa lama perjalanannya?"

"Kau bahkan belum tahu siapa yang membuat penawaran."

"Kalau tujuan akhirnya selatan, aku sudah tahu bagian yang penting."

"Justru bagian yang tidak kau ketahui biasanya yang membuat orang kehilangan uang."

Cassian mematahkan segel lilin.

Gulungan di dalamnya jauh lebih tebal daripada surat perjalanan menuju Vallis Sola. Ada lembar utama, daftar barang, syarat pengawalan, jaminan kerusakan, serta salinan izin perdagangan dari pihak penerima.

Pada bagian atas tercantum nama sebuah persekutuan dagang:

Consortium Aquae et Atramenti

Persekutuan Air dan Tinta

Lucian membaca perlahan.

"Mereka menjual air dan tinta?"

"Mereka mengurus perangkat irigasi, kertas, buku, dan alat pencatatan."

"Nama yang buruk."

"Nama yang mudah diingat."

Cassian membentangkan daftar muatan.

Barang yang diminta jauh lebih beragam daripada perjalanan pertama:

dua puluh empat cincin pengatur aliran;

delapan inti resonansi untuk kanal;

kertas serat;

tinta tahan lembap;

obat penurun panas;

jarum pembedahan;

kristal kosong;

tiga peti buku teknik;

dan beberapa alat ukur tanah.

Lucian menunjuk peti buku.

"Buku apa?"

"Teknik saluran air, pencatatan panen, pengawetan obat, serta dasar rune penahan."

"Bukankah buku teknik mahal?"

"Karena itulah mereka dijaga."

"Tujuannya Schola Vallis Viridis?"

"Tidak langsung."

Cassian menunjukkan baris penerima.

Tujuan pertama adalah sebuah kota perbatasan Nigravia yang tercatat dengan dua nama:

Statio Arca Nigra

Pasar Watu Lawang

Dari sana, sebagian barang akan diteruskan ke kerajaan adat dan perguruan di pedalaman. Salah satu penerima tambahan memang tertulis:

Schola Vallis Viridis

Lucian menatap kakaknya.

"Kita akan sampai ke sana."

"Kalau seluruh izin lengkap, jalannya terbuka, jembatan dapat dilalui, dan pihak penerima masih menginginkan barang ketika kita tiba."

"Jadi kita akan sampai."

Cassian menghela napas kecil.

"Kau memiliki kemampuan aneh mengubah syarat menjadi kepastian."

Lucian menunjuk jumlah pembayaran.

"Ini lebih besar daripada Vallis Sola."

"Karena jaraknya lebih jauh, risikonya lebih besar, dan setengah muatannya tidak boleh terkena hujan."

"Bukankah Nigravia justru basah?"

"Ya."

"Jadi mereka menyuruh kita membawa barang yang tidak boleh basah ke negeri yang selalu basah."

"Sekarang kau mulai memahami mengapa pembayaran besar tidak selalu berarti keuntungan besar."

Lucian membaca bagian biaya.

Kontrak menyediakan pembayaran muka seperempat nilai barang, tetapi pengawalan, izin lintas wilayah, perawatan hewan, dan kerusakan akibat cuaca sebagian besar ditanggung pihak pengirim.

"Kalau begitu ini bisa merugikan."

"Bisa."

"Masih ingin menerimanya?"

Cassian memutar gulungan ke arah dirinya.

"Belum tahu."

Lucian bersandar.

"Karena perjalanan ini berhubungan dengan Ayah?"

Cassian tidak langsung menjawab.

Lampu kecil di meja memantulkan cahaya pada tepi kompas yang disimpan dalam kotak kayu.

"Karena kontrak ini memberikan alasan sah untuk pergi ke tempat yang mungkin pernah dikunjungi Ayah."

"Itu berarti ya."

"Itu berarti aku tidak ingin keluarga kita terlihat melakukan perjalanan hanya untuk mencari sesuatu."

"Kalau orang-orang sudah mengawasi kita, mereka akan tetap curiga."

"Curiga bukan sama dengan tahu."

Cassian menatap daftar barang kembali.

"Perjalanan dagang memberi kita rute, surat jalan, orang yang menunggu, dan alasan membawa alat. Tanpa itu, kita hanya dua orang yang berkeliaran di negeri asing sambil menanyakan rahasia lama."

"Tiga."

Cassian mengangkat kepala.

"Apa?"

"Kalau aku ikut, kita bertiga."

"Aku menghitungmu."

"Lalu siapa yang kedua?"

"Aku dan kebodohanmu."

Lucian mendecakkan lidah.

Cassian tersenyum sebentar, kemudian wajahnya kembali serius.

"Ada persoalan lain."

"Apa?"

"Untuk membawa buku, kristal, alat resonansi, dan obat keluar Fontia, kita memerlukan izin dari lebih dari satu kantor."

"Berapa?"

Cassian membalik halaman terakhir.

"Enam."

Lucian menatapnya.

"Enam izin untuk satu perjalanan?"

"Enam kantor. Izin bisa lebih banyak."

"Kenapa?"

"Karena Fontia sangat menyukai kebebasan sampai setiap kelompok bebas membuat aturan sendiri."

Pagi berikutnya, Lucian berdiri di depan Gedung Dewan Enam sambil membawa tas dokumen yang terasa lebih berat daripada seharusnya.

Bangunan itu berada tidak jauh dari Kuil Mata Air, tetapi tidak semegah kuil dan tidak setenang akademi. Enam sayap bangunan mengelilingi halaman berbentuk segi enam. Masing-masing memiliki pintu, lambang, petugas, serta antreannya sendiri.

Di tengah halaman berdiri sebuah air mancur dengan enam saluran.

Air dari semuanya bermuara pada kolam yang sama.

Lucian memandang saluran-saluran itu, lalu melihat orang-orang yang berpindah dari satu antrean ke antrean lain sambil membawa map dan gulungan.

"Arsiteknya memiliki selera humor," katanya.

Cassian berjalan tanpa menoleh.

"Kenapa?"

"Airnya bisa berkumpul. Kantornya tidak."

Mereka menuju sayap pertama.

Kantor Perdagangan dan Muatan

Ruangan depannya semi-terbuka. Empat petugas duduk di balik meja panjang. Para pedagang menunggu di bangku batu sambil memegang nomor kayu.

Cassian mengambil nomor tujuh belas.

Petugas baru memanggil nomor sembilan.

Lucian melihat jam air di sudut ruangan.

"Berapa lama?"

"Selama yang mereka perlukan."

"Kalau kita datang lebih pagi?"

"Mereka membuka pintu setelah lonceng kedua."

"Kalau datang setelah lonceng kedua?"

"Kita mendapat nomor tujuh belas."

Lucian duduk.

Di sebelah mereka, seorang pedagang buah membawa tiga gulungan dan satu keranjang kecil sebagai contoh barang. Di sisi lain, seorang perempuan tua berdebat mengenai perbedaan antara kain dagang dan kain ritual.

Ketika nomor mereka dipanggil, Cassian menyerahkan dokumen utama.

Petugas muda membaca tujuan, jenis muatan, dan jumlah gerobak.

"Peti buku harus dicatat terpisah."

"Sudah."

"Bukan pada daftar perdagangan. Pada daftar naskah."

"Daftar itu dikeluarkan kantor akademi."

"Benar."

"Kenapa kau meminta sekarang?"

"Karena tanpa nomor daftar naskah, saya tidak dapat menyetujui keseluruhan muatan."

Cassian menunjuk lembar lampiran.

"Kontrak penerimanya sudah ada."

"Itu bukti ada yang menerima, bukan bukti bukunya boleh keluar."

"Jadi kami harus mendapat izin naskah sebelum izin perdagangan?"

"Benar."

"Pada kantor akademi, mereka meminta nomor izin perdagangan sebelum memproses ekspor naskah."

Petugas muda mengangkat bahu.

"Itu aturan mereka."

"Dan ini aturanmu?"

"Ya."

"Kalau begitu perjalanan tidak pernah bisa dimulai."

Petugas itu menatap Cassian seolah baru pertama kali memikirkan akibatnya.

"Biasanya pedagang membawa surat pengantar sementara."

"Dikeluarkan siapa?"

"Kantor hubungan luar."

"Yang meminta izin perdagangan."

Petugas itu mengerutkan kening.

Lucian hampir tertawa, tetapi Cassian menyentuh lututnya dari bawah meja.

Akhirnya petugas mengambil cap merah.

"Saya bisa memberi persetujuan bersyarat."

"Dengan syarat?"

"Nomor izin naskah diserahkan sebelum cap keluar final."

"Berapa lama persetujuan bersyarat berlaku?"

"Tujuh hari."

"Proses izin naskah biasanya berapa lama?"

"Sepuluh hari."

Cassian menatapnya lama.

Petugas muda tampak tidak nyaman.

"Saya hanya mengikuti ketentuan."

Cassian menerima lembar bersyarat.

"Aku tahu."

Begitu keluar, Lucian berkata, "Kita bahkan belum selesai meja pertama dan izinnya akan kedaluwarsa sebelum izin kedua selesai."

"Ya."

"Bagaimana pedagang lain melakukannya?"

"Membayar perantara."

"Suap?"

"Belum tentu. Ada orang yang pekerjaannya membawa dokumen dari kantor ke kantor."

"Karena kantor-kantor itu tidak bisa mengirim dokumen sendiri?"

"Benar."

"Dan kita membayar mereka untuk memperbaiki masalah yang dibuat kantor?"

"Sekarang kau memahami satu jenis usaha yang tidak membutuhkan karavan."

Kantor Kristal dan Keselamatan Mana

Sayap kedua lebih tertutup. Dindingnya dipenuhi tanda peringatan mengenai kristal retak, muatan berlebih, dan larangan membawa inti aktif ke dekat sumber air kota.

Seorang pemeriksa tua meminta semua daftar kristal.

"Delapan inti resonansi," katanya. "Muatan berapa?"

"Tidak aktif," jawab Cassian.

"Tidak aktif bukan berarti kosong."

"Muatan sisa di bawah satu persepuluh."

"Harus diuji."

"Sudah diuji oleh atelier."

"Atelier bukan kantor kota."

Octavian telah menyertakan surat pengujian dengan segel Officina Manus Clarae.

Pemeriksa hanya meliriknya.

"Pengujian ulang tetap wajib."

"Biaya?"

"Dua denarius per inti."

Lucian menghitung cepat.

"Itu enam belas denarius hanya untuk mengukur barang yang sudah diukur."

Pemeriksa menoleh.

"Keselamatan tidak murah."

"Apakah alat kantor lebih tepat daripada alat atelier?"

"Alat kami disahkan."

"Itu bukan jawaban."

"Lucian," kata Cassian.

Pemeriksa mengetuk daftar.

"Kalau keberatan, kalian boleh tidak membawa kristal."

Cassian bertanya, "Berapa lama pengujian?"

"Lima hari kerja."

"Kami memerlukan izin perdagangan dalam tujuh hari."

"Bukan urusan kantor ini."

Lucian melihat antrean di belakang. Beberapa pedagang membawa kantong kecil, sementara yang lain mendorong peti besar dengan tanda peringatan.

"Apakah semua kristal diperiksa satu per satu?"

"Tergantung asal."

"Kalau milik serikat besar?"

Pemeriksa mengangkat kepala.

"Semua mengikuti aturan."

Namun pada saat itu seorang pekerja mengenakan lambang Timbangan Emas masuk melalui pintu samping. Ia menyerahkan satu surat, dan dua peti kristal langsung dibawa ke ruang dalam tanpa menunggu antrean.

Lucian mengikuti peti itu dengan pandangan.

Pemeriksa tua berkata, "Mereka memiliki sertifikasi tetap."

"Bagaimana cara mendapatkannya?"

"Riwayat pengiriman tanpa pelanggaran selama sepuluh tahun."

"Kalau serikat baru?"

"Menunggu."

"Jadi serikat lama lebih mudah tetap besar."

Pemeriksa tidak menjawab.

Cassian kembali menyentuh lengan Lucian.

Mereka membayar biaya pengujian.

Keluar dari kantor, Lucian berkata, "Kau menyuruhku diam terlalu sering."

"Aku menyuruhmu memilih waktu."

"Aku hanya bertanya."

"Pertanyaan yang tepat pada waktu yang salah bisa membuat petugas menaruh berkas kita di bawah tumpukan."

"Jadi kita harus pura-pura aturan itu masuk akal?"

"Tidak. Kita harus menyelesaikan perjalanan lebih dahulu."

Lucian memandang lembar biaya.

"Kalau semua orang berpikir begitu, aturannya tidak pernah berubah."

Cassian berhenti berjalan.

"Benar."

Lucian tidak mengira kakaknya akan menyetujuinya.

Cassian melanjutkan, "Tapi mengubah aturan dan menyeberangi Pegunungan Wates Ireng adalah dua pekerjaan berbeda. Jangan mencoba melakukan keduanya dalam satu pagi."

Kantor Naskah dan Pengetahuan

Kantor ketiga berada di sisi akademi, dihubungkan oleh lorong beratap menuju Gedung Dewan.

Livia sudah menunggu di depan pintunya.

Lihat selengkapnya