Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #16

Bab 15 - Orang-Orang yang Dianggap Layak

Sepuluh hari sebelum keberangkatan terasa lebih pendek daripada perjalanan tiga hari ke Vallis Sola.

Setiap pagi, halaman Rumah Dagang Marcellus sudah ramai sebelum matahari melewati atap-atap distrik pengrajin. Peti-peti kosong datang dari bengkel. Karung beras dan pakan ditimbang. Tali pengikat direndam agar tidak mudah retak di udara pegunungan. Gerobak diperiksa dari roda sampai penutup atap.

Barang yang akan dibawa ke Nigravia tidak dapat diperlakukan sama.

Kertas harus dijauhkan dari kristal yang menghasilkan panas.

Obat tidak boleh disimpan bersama minyak.

Inti resonansi harus dipisahkan oleh lapisan wol dan serbuk batu.

Buku-buku teknik dibungkus tiga lapis: kain kering, kulit tipis, kemudian lembaran lilin penahan lembap.

Lucian berdiri di atas gerobak ketiga sambil memegang daftar muatan.

"Peti dua puluh satu," katanya.

Seorang pekerja di bawah mengangkat kepala.

"Buku pengelolaan panen."

"Pindahkan ke sisi dalam."

"Kenapa?"

"Kalau hujan masuk dari samping, peti luar terkena lebih dahulu."

"Semua peti sudah dilapisi lilin."

"Lapisan lilin bisa retak."

Pekerja itu memandang Cassian, seolah meminta keputusan dari orang yang lebih berwenang.

Cassian sedang memeriksa roda gerobak pertama. Ia tidak menoleh.

"Lucian yang mengawasi gerobak ketiga."

Pekerja itu mendecakkan lidah, tetapi memindahkan petinya.

Lucian mencatat perubahan posisi.

Beberapa bulan lalu, ia mungkin akan merasa puas hanya karena Cassian membelanya. Sekarang ia justru merasa sedikit takut.

Kalau peti itu rusak, alasan Cassian mengizinkannya tidak akan mengembalikan buku yang hancur.

Ia turun dari gerobak.

"Lapisan bawahnya sudah diberi papan tambahan?"

"Sudah."

"Coba angkat satu sisi."

Pekerja tadi mengerutkan kening.

"Untuk apa?"

"Kalau beratnya menekan satu titik, papan bisa melengkung."

"Kau ingin membongkar seluruh susunan?"

"Aku ingin memastikan sekarang, bukan di tengah Pegunungan Wates Ireng."

Pekerja itu menatap Lucian beberapa saat, lalu memanggil rekannya.

Mereka mengangkat peti pertama.

Salah satu papan dasar ternyata tidak menyentuh penyangga secara penuh.

Pekerja itu berjongkok dan melihat celahnya.

"Hanya selebar kuku."

"Selebar kuku di sini," kata Lucian. "Setelah dua minggu jalan berbatu?"

Pekerja tersebut tidak membantah lagi.

Cassian datang setelah papan tambahan dipasang.

Ia memeriksa bagian bawah, lalu melihat daftar Lucian.

"Kau mengubah susunan?"

"Buku dipindahkan ke tengah. Kristal tetap di belakang, dekat poros."

"Kenapa?"

"Beratnya lebih aman di sana. Kalau diletakkan terlalu depan, hewan penarik mendapat beban lebih besar saat jalan menanjak."

Cassian mengangguk.

"Dan kalau kita menurun?"

Lucian berhenti.

"Beban di belakang bisa mendorong gerobak."

"Benar."

Lucian melihat susunannya kembali.

"Kalau begitu kristal dipindah sedikit ke tengah, tapi diberi sekat batu agar tidak dekat buku."

"Lebih baik."

Cassian hendak pergi.

Lucian memanggilnya.

"Kau sudah tahu jawabannya sejak tadi?"

"Ya."

"Kenapa tidak langsung bilang?"

"Karena setelah aku bilang, kau hanya tahu jawabannya. Setelah kau salah, kau tahu alasannya."

"Itu cara mengajar yang menyebalkan."

"Biasanya yang paling diingat memang begitu."

Di Akademia Fontis Sapientiae, hari-hari Livia juga semakin penuh.

Ia mulai mengikuti tiga jenis pelajaran.

Pagi hari digunakan untuk teori umum bersama siswa jalur lain. Menjelang siang ia bekerja di ruang arsip. Sore hari, dua kali dalam sepekan, ia mengikuti latihan resonansi dasar di aula kecil dekat Kuil Mata Air.

Latihan resonansi itulah yang paling membuatnya memahami arti catatan pada hasil ujiannya:

Kapasitas: memenuhi syarat terbatas.

Aula latihan berbentuk setengah lingkaran. Bangku-bangkunya bertingkat rendah, tetapi para siswa tidak duduk selama praktik. Mereka berdiri berpasangan di lantai bawah mengelilingi meja-meja batu.

Pada setiap meja terdapat mangkuk air, kristal bening, dan pelat perunggu bergaris.

Magistra Helena berdiri di depan papan batu hitam.

Hari itu ia tidak menulis kata-kata.

Ia menggambar tiga bejana dengan ukuran berbeda.

"Semua orang senang membicarakan kekuatan," katanya. "Jadi mari kita mulai dengan sesuatu yang lebih sederhana. Apa perbedaan antara kapasitas dan kendali?"

Seorang siswa jalur pelayanan kuil mengangkat tangan.

"Kapasitas adalah jumlah mana yang dapat disimpan. Kendali adalah kemampuan menggunakannya."

"Benar, tetapi terlalu pendek."

Helena menunjuk tiga bejana.

"Bayangkan tiga orang membawa air. Orang pertama memiliki kendi besar, tetapi tangannya selalu gemetar. Orang kedua mempunyai kendi kecil dan dapat menuangkan satu tetes tanpa tumpah. Orang ketiga mempunyai kendi besar serta tangan yang sangat stabil. Siapa yang paling berguna?"

"Yang ketiga," jawab beberapa siswa.

"Dalam pekerjaan apa?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Helena menunjuk seorang siswa di baris depan.

"Untuk memadamkan kebakaran?"

"Yang ketiga."

"Untuk meneteskan obat ke mata?"

"Mungkin yang kedua."

"Untuk memberi berkat kepada lima puluh pekerja setelah bencana?"

"Yang ketiga."

"Untuk membaca gema lemah dari dokumen tua?"

Siswa itu berpikir.

"Yang kedua?"

"Bisa jadi."

Helena meletakkan kapur.

"Kapasitas menentukan seberapa lama dan seberapa besar seseorang dapat bekerja. Kendali menentukan seberapa tepat. Kepekaan menentukan seberapa kecil perubahan yang dapat dirasakan. Stabilitas menentukan apakah semua itu tetap dapat dilakukan ketika orang tersebut lelah, takut, atau marah."

Livia menulis keempat istilah tersebut pada papan lilinnya.

Di meja sebelah, seorang siswa bernama Severin memperhatikan.

Ia berasal dari keluarga pelayan kuil lama. Jubah latihannya terbuat dari kain halus, dan gelang pengatur mana pada pergelangan tangannya jelas bukan barang murah.

"Kau tidak perlu mencatat semuanya," katanya.

"Aku tahu."

"Magistra Helena akan mengulang penjelasan itu."

"Aku juga tahu."

"Lalu kenapa ditulis?"

"Supaya aku dapat membandingkan kata-kata yang dipakai hari ini dengan penjelasan pada buku."

Severin mengangkat alis.

"Bukankah itu berlebihan?"

"Bagi orang yang ingin menjadi arsiparis?"

Ia tidak menjawab.

Latihan dimulai.

Setiap siswa diminta mengalirkan mana ke dalam pelat perunggu hingga garis pertama menyala. Setelah itu mereka harus mempertahankannya selama dua puluh hitungan tanpa membuat garis kedua ikut aktif.

Tampaknya sederhana.

Severin berhasil pada percobaan pertama.

Garis pertama menyala biru terang. Cahayanya stabil, tidak bergetar sedikit pun. Ketika hitungan selesai, ia melepaskan aliran tanpa sisa.

Magistra Helena mengangguk.

"Baik."

Mira juga berhasil, meskipun cahayanya lebih lembut.

Ketika giliran Livia tiba, ia meletakkan telapak tangan pada sisi pelat.

Ia merasakan garis-garis logam di dalamnya: satu pola utama, dua jalur pelepas, dan kristal kecil yang menunggu di tengah.

Ia mengalirkan mana.

Garis pertama menyala.

Terlalu cepat.

Cahaya hampir mencapai garis kedua.

Livia segera menahan aliran. Cahaya turun, bergetar, lalu stabil.

"Satu," hitung Aelia dari sisi meja.

Aelia tidak mengajar kelas tersebut, tetapi membantu mencatat hasil latihan siswa baru.

"Dua. Tiga."

Pada hitungan kedelapan, Livia mulai merasakan tekanan di bagian belakang kepalanya.

Bukan sakit.

Lebih seperti mencoba menahan pintu yang terus didorong dari sisi lain.

"Dua belas."

Tangannya mulai dingin.

"Lima belas."

Cahaya pada garis pertama melemah.

Livia mencoba menambah aliran sedikit.

Garis kedua berkedip.

"Lepaskan," kata Helena.

Livia langsung berhenti.

Cahaya padam.

Ia menarik napas lebih dalam daripada yang diinginkannya.

"Berapa?" tanyanya.

"Lima belas hitungan stabil," jawab Aelia. "Tiga hitungan terakhir berfluktuasi."

Severin mempertahankan pelatnya selama lebih dari dua puluh tanpa kesulitan.

Mira mencapai dua puluh, meskipun setelahnya wajahnya sedikit pucat.

Livia melihat papan catatan Aelia.

"Batas pelayanan lapangan berapa?"

"Bukan hanya berdasarkan satu latihan," kata Aelia.

"Untuk latihan ini?"

"Dua puluh hitungan adalah acuan awal."

"Berarti aku belum mencapai batas."

"Belum."

Livia meremas ujung jarinya untuk menghilangkan rasa dingin.

Severin berkata, "Kapasitas bisa dilatih."

Nada suaranya tidak mengejek.

Justru itu membuat Livia sulit menentukan apakah harus merasa terbantu atau tersinggung.

"Aku tahu," jawabnya.

"Aku memakai kristal pengembang sejak usia sembilan tahun. Awalnya aku juga hanya mampu dua belas hitungan."

"Kau berlatih sejak usia sembilan?"

"Di rumah."

"Dengan guru?"

"Guru keluarga datang tiga kali seminggu."

Livia menatap gelang di pergelangan tangannya.

"Dan kristal itu?"

"Menjaga aliran agar saluran mana tidak terluka."

"Berapa harganya?"

Severin menyebut angka.

Livia mengira ia salah dengar.

"Itu hampir sama dengan biaya hidup keluargaku selama beberapa bulan."

Severin tampak tidak tahu harus menjawab apa.

"Ayahku mengatakan pendidikan adalah investasi."

"Benar."

Livia tidak ingin terdengar pahit.

Severin tidak melakukan kesalahan dengan lahir di keluarga yang mampu membelikan pelat latihan, kristal, dan guru.

Namun kalimat semua orang boleh mencoba mulai terasa berbeda setelah melihat seberapa lama sebagian orang telah berlatih bahkan sebelum ujian dimulai.

Magistra Helena berjalan mendekat.

"Coba lagi setelah istirahat."

Livia mengangguk.

"Apakah saya harus memperbesar aliran secara bertahap?"

"Tidak."

Helena menunjuk garis kedua yang tadi berkedip.

"Kau terlalu sibuk mempertahankan cahaya pada tingkat yang sama."

"Bukankah itu tujuannya?"

"Tujuannya kestabilan. Cahaya tidak harus sama terang setiap hitungan."

Livia mengerutkan kening.

"Kalau cahayanya melemah—"

"Biarkan sedikit melemah. Kau mencoba meniru keluaran orang yang memiliki cadangan lebih besar."

Helena menunjuk Severin.

"Alirannya dapat tetap tinggi tanpa banyak biaya. Milikmu harus lebih hemat."

"Apakah itu tidak dianggap hasil lebih buruk?"

"Dalam ujian pelayanan massal, mungkin. Dalam pengamatan arsip, belum tentu."

Helena menatapnya.

"Jangan menjadikan alat ukur orang lain sebagai alasan menyakiti diri."

Kalimat itu mengingatkan Livia pada Titus.

Ia menundukkan kepala.

"Saya akan mengingatnya."

Saat istirahat, Mira duduk bersamanya di tepi kolam halaman dalam.

Air mengalir pelan dari mulut patung burung kecil. Bayangan lengkungan bangunan bergerak di permukaannya.

Livia makan roti tanpa selera.

Mira menyenggol lengannya.

"Kau sedang menghitung berapa lama Severin dilatih sebelum masuk akademi?"

"Tidak."

"Kau mengerutkan alis dengan cara yang sama saat menghitung."

Livia memandang roti.

"Tiga kali seminggu sejak usia sembilan."

"Aku tahu."

"Kau mendengar?"

"Semua orang di meja mendengar."

"Kristalnya sangat mahal."

"Ya."

Livia mematahkan sepotong roti.

"Akademi mengatakan ujian terbuka bagi semua."

"Memang."

"Tapi orang-orang tidak datang dengan persiapan yang sama."

"Tidak."

"Dan kapasitas sebagian dipengaruhi keturunan."

"Ya."

"Jadi keluarga pelayan kuil melahirkan anak dengan cadangan besar, melatih mereka sejak kecil, lalu anak-anak itu memenuhi syarat pelayanan. Setelah itu mereka mendapat penghasilan, kedudukan, serta akses kristal yang lebih baik untuk anak mereka."

Mira melihat kolam.

"Begitulah yang terjadi."

"Kenapa tidak ada yang menyebutnya masalah?"

"Karena kebutuhan pelayan kuil juga nyata."

"Aku tahu."

Livia segera menjawab, mungkin terlalu cepat.

"Aku tahu pelayanan menghabiskan mana. Aku tahu orang dengan cadangan kecil dapat pingsan dan melukai diri. Aku tidak mengatakan akademi harus menerima semua orang untuk memberi berkat sehari penuh."

"Lalu apa yang ingin kau ubah?"

Livia membuka mulut.

Tidak ada jawaban lengkap.

"Entahlah."

"Itu tidak biasa."

"Aku baru melihat masalahnya. Aku belum tahu bentuk jawabannya."

Mira tersenyum.

"Bagus."

"Bagus?"

"Berarti akademi belum merusakmu sampai merasa harus menjawab semuanya pada hari pertama."

Livia menatapnya.

"Kau terdengar seperti Aelia."

"Dia memberiku latihan penalaran sebelum ujian. Mungkin menular."

Mereka terdiam sejenak.

Di sisi lain halaman, dua siswa senior melatih berkat bersama. Cahaya lembut mengalir dari tangan mereka kepada sekelompok pekerja kebun yang menjadi sukarelawan.

"Apakah keluargamu pernah membelikan kristal latihan?" tanya Livia.

Mira menggeleng.

"Ayahku membuatkan lingkaran dari batu kanal. Tidak memperbesar kapasitas, tapi membantuku menjaga aliran."

"Jadi kau juga berlatih sebelum ujian."

"Sedikit. Ibuku mengajariku doa penenang. Ayah mengajariku mengenali perubahan air."

"Keluargamu tidak kaya."

"Tidak."

"Tapi mereka tahu apa yang perlu diajarkan."

Mira mengangguk.

"Itu juga keuntungan."

Livia memandangnya.

Mira melanjutkan, "Ada anak yang punya uang tetapi keluarganya tidak mengenal akademi. Ada yang pintar tetapi tidak tahu ujian menilai apa. Ada yang punya kapasitas besar tapi tak pernah belajar mengendalikannya."

"Jadi bukan hanya uang."

"Bukan."

"Jaringan, pengetahuan keluarga, waktu, keturunan."

"Dan keberuntungan."

Livia menatap siswa-siswa di halaman.

Akademi tidak menutup pintunya.

Namun beberapa orang lahir beberapa langkah lebih dekat ke pintu itu.

Ia menyimpan kalimat tersebut dalam pikirannya.

Mungkin suatu hari akan ditulis.

Sepulang dari akademi, Livia menemui Lucian di pasar kertas.

Lucian sedang membandingkan dua jenis kain penutup bersama Cassian. Satu terbuat dari serat padat berlapis minyak. Yang lain lebih ringan, tetapi telah diberi rune penolak air.

Lihat selengkapnya