Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #17

Bab 16 - Perjalanan Kedua

Hari keberangkatan datang sebelum Lucian merasa siap mengakuinya.

Sejak tiga malam sebelumnya, halaman Rumah Dagang Marcellus tidak pernah benar-benar sepi. Pekerja datang membawa peti terakhir. Pengawal memeriksa tali kekang. Tabib keluarga membungkus obat untuk rombongan. Octavian berulang kali membuka penutup gerobak ketiga hanya untuk memastikan lapisan penahan lembap tidak bergeser.

Lucian tidur kurang dari empat jam.

Ketika lonceng pertama Kuil Mata Air terdengar, ia sudah berdiri di antara enam gerobak dengan papan catatan di tangan.

Udara pagi masih dingin. Lampu-lampu kecil tergantung di bawah atap rumah dagang, menerangi embun tipis pada roda dan tali.

Cassian berjalan menyusuri barisan gerobak.

"Bagaimana kondisi gerobak pertama?"

"Perangkat kanal dan alat ukur tanah," jawab Daran.

"Gerobak kedua?"

"Kristal kosong, inti resonansi, dan perlengkapan pengawal."

"Ketiga?"

Lucian mengangkat papan.

"Buku teknik, kertas, tinta tahan lembap, serta dua peti alat pencatat panen."

Cassian berhenti di depannya.

"Berat?"

"Enam puluh tiga batu dan seperempat."

"Sebelah kiri?"

"Tiga puluh satu setengah."

"Sebelah kanan?"

"Tiga puluh satu tiga perempat."

Cassian menatapnya.

Lucian melihat catatannya kembali.

"Ada selisih seperempat."

"Aku tahu."

"Masih di bawah batas."

"Benar."

"Lalu kenapa menatapku seperti itu?"

"Aku menunggu apakah kau menyadarinya sendiri."

"Aku baru saja mengatakannya."

"Setelah aku bertanya."

Lucian menghela napas.

"Peti tinta di kanan bisa dipindahkan setengah lengan ke tengah."

"Kenapa bukan peti buku?"

"Buku lebih sensitif terhadap tekanan dari samping."

Cassian mengangguk.

"Lakukan sebelum hewan dipasang."

Lucian memanggil dua pekerja.

Mereka membuka sisi gerobak dan menggeser peti tinta. Salah seorang mengeluh bahwa perubahan kecil tidak akan terasa di jalan.

Lucian menjawab lebih panjang daripada yang diperlukan.

"Di jalan rata, mungkin tidak. Tetapi ketika roda kanan masuk lubang dan seluruh beban jatuh ke satu sisi, selisih kecil menjadi tekanan tambahan pada poros. Kita juga akan naik selama beberapa hari sebelum mencapai jembatan. Kalau berat tidak seimbang, hewan di sisi tertentu akan lebih cepat lelah."

Pekerja itu menatapnya.

"Kau berlatih mengatakan itu semalaman?"

Lucian menunjuk papan.

"Aku menghitungnya semalaman."

"Lebih buruk."

Namun ia tetap menggeser petinya.

Cassian berjalan ke gerobak berikutnya.

Lucian memandang punggung kakaknya.

Pada perjalanan pertama, ia hanya diberi tugas karena terus meminta.

Sekarang gerobak ketiga benar-benar menjadi tanggung jawabnya.

Perasaan itu menyenangkan selama ia tidak memikirkan apa yang terjadi jika sesuatu rusak.

Di sudut halaman, Brennus sedang berdebat dengan dua pengawal tambahan yang baru tiba.

Salah satunya seorang lelaki tinggi bernama Silvan, bekas penjaga kanal. Yang lain perempuan berambut dikepang pendek bernama Ilyra, pemanah dari perusahaan pengawal kecil yang dipilih Cassian.

Brennus memegang dua busur.

"Kau membawa tali cadangan berapa?"

"Empat," jawab Ilyra.

"Untuk dua bulan?"

"Empat tali utama, tiga gulung bahan pengganti."

"Kenapa tidak mengatakan tujuh?"

"Karena gulungan belum menjadi tali."

Brennus menatapnya sejenak.

"Aku menyukaimu."

"Aku belum meminta."

Silvan memeriksa tombak-tombak.

"Apa benar kita tidak memakai pos Timbangan Emas?"

"Benar," jawab Cassian dari belakang.

Silvan berbalik.

"Jalur utara gunung mereka paling lengkap."

"Posnya lengkap. Kesetiaannya belum tentu."

Silvan tidak bertanya lebih jauh.

Ilyra justru berkata, "Kalau kita tidak memakai pos mereka, kita perlu mengisi air lebih banyak sebelum jalur naik."

"Sudah dihitung," jawab Lucian.

Cassian meliriknya.

Lucian menambahkan, "Tiga hari cadangan setelah pos terakhir sebelum Jembatan Kembar. Satu hari tambahan untuk penutupan jalur."

Ilyra mengamati gerobak ketiga.

"Buku dan air di gerobak yang sama?"

"Air utama di gerobak kelima. Yang di sini hanya cadangan kecil dan kantong darurat."

"Bagus."

Lucian tidak tahu mengapa satu kata dari pengawal yang baru dikenalnya terasa seperti ujian yang berhasil dilewati.

Ibunya keluar membawa kain panjang berwarna abu-abu.

"Kemarilah."

Lucian mendekat.

Ia melilitkan kain itu di sekitar lehernya.

"Apa ini?"

"Pelindung debu."

"Aku sudah punya."

"Yang kau punya tipis."

"Di selatan lebih banyak hujan daripada debu."

"Pegunungannya tetap berdebu."

Lucian tidak membantah.

Ibunya menarik ujung kain lebih rapat.

"Jangan tidur terlalu dekat roda."

"Aku tidak pernah tidur dekat roda."

"Pada perjalanan pertama kau tidur di bawah gerobak."

"Itu karena badai."

"Berarti kau pernah."

Cassian mendekat sambil membawa sarung tangan.

"Dia akan baik-baik saja."

Ibunya menatapnya.

"Kau mengatakan itu karena yakin atau karena ingin aku tenang?"

"Keduanya."

"Jawaban yang terlalu mudah."

Cassian tersenyum.

Ibunya kemudian beralih kepadanya.

"Kau juga makan teratur."

"Aku selalu makan."

"Kopi bukan makanan."

"Kalau dicampur susu?"

"Bukan."

Lucian tertawa kecil.

Cassian menoleh.

"Kau juga tidak boleh hidup dari roti kering."

"Aku membawa buah kering."

"Yang kau beli untuk dijual?"

"Aku bisa makan beberapa."

Ibunya memukul kedua lengan mereka bergantian.

"Dua orang yang menganggap perjalanan jauh adalah alasan untuk lupa menjadi manusia."

Namun setelah itu ia memeluk mereka satu per satu.

Pelukannya kepada Cassian berlangsung sedikit lebih lama.

Lucian melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Livia tiba ketika langit mulai memucat.

Ia tidak sendirian. Mira berjalan di sampingnya membawa dua bungkusan, sedangkan Aelia berada beberapa langkah di belakang dengan tabung dokumen terselip di bawah lengan.

Lucian mengangkat tangan.

"Kalian datang."

"Kau terdengar terkejut," kata Livia.

"Kau bilang tugas arsip dimulai sebelum lonceng kedua."

"Aku mendapat izin terlambat."

"Dari Guru Seren?"

"Dari Aelia, lalu dikonfirmasi Guru Seren."

Aelia mendengar namanya.

"Aku tidak punya kewenangan membebaskan siswa dari tugas."

"Karena itu aku menyebut Guru Seren."

"Bagus."

Mira menyerahkan satu bungkusan kepada Lucian.

"Roti madu."

"Untuk perjalanan?"

"Untuk pagi ini. Kalau disimpan terlalu lama akan keras."

Lucian membuka sedikit.

Aromanya langsung keluar.

"Terima kasih."

"Jangan makan semuanya sebelum gerbang."

"Aku tidak akan."

Cassian lewat dan mengambil satu tanpa meminta.

Mira menatapnya.

Cassian berhenti mengunyah.

"Apakah ini hanya untuk Lucian?"

"Tidak."

"Bagus."

Lucian menutup bungkusannya lebih rapat.

"Kau bisa meminta."

"Aku sedang menguji keamanan muatan."

Livia menggeleng.

Kemudian ia menyerahkan tabung kecil kepada Lucian.

"Salinan pengukuran pecahan."

Lucian tidak langsung menerimanya.

"Sudah selesai?"

"Semalam."

"Apa hasilnya?"

"Lengkungannya sesuai dengan perkiraan cincin luar kompas, tetapi tidak cukup untuk mengatakan bahwa keduanya pasti satu alat."

Lucian menerima tabung.

"Seberapa sesuai?"

"Sudut pecahannya sekitar tiga puluh tujuh derajat. Kalau bentuk utuhnya terdiri dari delapan bagian, setiap segmen seharusnya empat puluh lima derajat. Tapi sisi pecahnya tidak mengikuti garis pembagian asli."

"Jadi mungkin satu dari delapan."

"Mungkin."

Lucian tersenyum kecil.

"Kau sengaja mengatakan kata itu?"

"Aku tahu kau membencinya."

"Apakah Titus melihat hasilnya?"

"Ya."

"Apa katanya?"

Livia menatap Aelia.

Senior itu memberi anggukan kecil.

"Guru Seren mengatakan geometri pada pecahan dan bagian kosong kompas tampaknya berasal dari sistem rancangan yang sama," jawab Livia. "Beliau belum mengatakan keduanya satu instrumen."

"Apakah dia tahu kompas milik keluargaku?"

Lihat selengkapnya