Journey Beyond the Caravan Vol 1: Jalan Sang Pedagang

Muhammad Irvan
Chapter #18

Bab 17 - Negeri Seribu Kesetiaan

Pegunungan Wates Ireng tidak tampak seperti satu barisan gunung.


Dari kejauhan, gunung-gunung itu terlihat bertumpuk.

Punggung batu pertama menjulang dari tanah kering seperti dinding gelap. Di belakangnya berdiri barisan kedua yang lebih tinggi, sebagian puncaknya tertutup awan. Di antara keduanya terbentang jalur-jalur sempit yang berputar mengikuti lereng, kadang menghilang di balik batu, lalu muncul kembali jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

Karavan telah berjalan tujuh hari sejak meninggalkan Fontia.

Dalam dua hari terakhir, hampir tidak ada jalan yang benar-benar lurus.

Gerobak naik melalui jalur melingkar, menyeberangi aliran air kecil, lalu berbalik ke arah yang membuat Lucian beberapa kali merasa mereka justru sedang berjalan kembali ke utara.

Ia memandang matahari, kemudian peta di tangannya.

“Kita berbelok ke barat lagi.”

Daran yang mengemudikan gerobak depan mendengus.

“Gunung tidak peduli arah yang kau inginkan.”

“Tapi Jembatan Kembar berada di selatan.”

“Dan kalau kau berjalan lurus ke selatan dari sini, kau akan sampai lebih cepat.”

Lucian menatap tebing di hadapan mereka.

Dinding batu itu hampir tegak.

“Dengan jatuh?”

“Sekarang kau memahami jalur pendek.”

Cassian menunggang di sisi gerobak kedua. Ia mendengar percakapan mereka dan menunjuk garis tipis pada lereng seberang.

“Itulah jalan lama menuju dasar ngarai.”

Lucian menyipitkan mata.

Hampir tidak terlihat.

Jalur tersebut turun tajam melalui celah batu, mengikuti sisi jurang yang gelap. Pada beberapa tempat, hanya ada rak batu selebar gerobak. Jauh di bawahnya, sungai tampak seperti benang putih yang bergerak di antara bayangan.

“Benar-benar bisa dilalui?” tanya Lucian.

“Gerobak kecil,” jawab Cassian. “Hewan tunggang. Orang yang sangat terburu-buru atau sangat bodoh.”

“Berapa hari lebih cepat?”

“Dua, mungkin tiga.”

“Tidak sedikit.”

Ilyra, yang berkuda di belakang mereka, berkata, “Kalau tidak ada banjir, longsor, ular ngarai, atau kelompok yang meminta biaya lewat.”

“Goblin hijau?” tanya Lucian.

“Sebagian.”

“Petugas di Fontia bilang mereka tinggal dekat mata air dinding.”

“Benar.”

“Apakah mereka selalu menyerang manusia?”

Ilyra menggeleng.

“Tidak. Sebagian berdagang garam, jamur gua, dan racun serangga. Sebagian menuntut upeti karena menganggap jalur itu melewati tanah mereka. Sebagian lagi merampok siapa pun yang terlihat lemah.”

“Jadi sama seperti manusia.”

Daran tertawa keras.

Ilyra memandang Lucian.

“Jangan mengatakan itu ketika kau bertemu mereka.”

“Karena tersinggung?”

“Karena sebagian menganggap perbandingan dengan manusia sebagai penghinaan.”

Lucian tidak tahu apakah ia bercanda.

Mereka mencapai pos utara Jembatan Kembar Arga menjelang sore.

Pos itu dibangun langsung pada sisi gunung. Dindingnya berasal dari batu hitam yang dipotong kasar, dengan menara rendah menghadap jalur pendakian. Panji Fontia berkibar bersama panji Kadipaten Arga Watu, tetapi panji keduanya dipasang pada tiang berbeda.

Di balik pos, jalan berakhir pada sesuatu yang mula-mula tampak seperti bagian dari gunung.

Barulah ketika karavan mendekat, Lucian melihat lengkungan batu besar membentang di atas ngarai.

Jembatan Kembar Arga.

Jembatan itu tidak hanya terdiri dari satu permukaan.

Dua lengkungan utama berdiri berdampingan, dipisahkan deretan pilar dan ceruk kecil. Jalur barat digunakan rombongan menuju selatan. Jalur timur digunakan mereka yang kembali ke utara.

Di bawah keduanya, penyangga batu turun menuju dinding ngarai, tetapi dasar jurangnya terlalu jauh untuk dilihat.

Angin bergerak dari timur ke barat mengikuti celah ngarai. Ia menerpa jembatan dari samping, membawa kabut air dan bau batu basah.

Lucian turun dari kudanya.

Ia berdiri beberapa langkah dari tepi.

Tidak ada pagar tinggi. Hanya pembatas batu setinggi pinggang dengan celah-celah sempit untuk melepaskan angin.

“Jangan terlalu dekat,” kata Cassian.

“Aku hanya melihat.”

“Orang yang jatuh biasanya melakukan itu sebelum jatuh.”

Lucian mundur setengah langkah.

Di bawah mereka, sungai mengalir seperti garis perak di antara tebing hitam.

Pada dinding ngarai terlihat lubang-lubang kecil dan jalur kayu yang menghubungkan beberapa ceruk. Asap tipis keluar dari salah satunya.

“Pemukiman goblin?” tanyanya.

Ilyra mengikuti arah pandangannya.

“Mungkin. Atau penambang.”

“Ada orang tinggal sejauh itu di bawah?”

“Ada air. Ada tempat tinggal.”

“Itu cukup?”

“Untuk sebagian besar peradaban, ya.”

Cassian menyerahkan surat lintas kepada petugas pos.

Pemeriksaan berlangsung lebih cepat daripada di Fontia. Petugas hanya mencocokkan jumlah gerobak, nama pengawal, dan rute yang tercantum.

Namun sebelum cap terakhir diberikan, seorang pejabat Arga memeriksa daftar barang.

Ia memakai kain kepala cokelat gelap dan pelindung bahu dari lempeng batu tipis.

“Buku teknik?”

“Untuk Pasar Watu Lawang dan Padepokan Wana Tirta,” jawab Cassian.

“Kristal?”

“Tidak aktif.”

“Obat?”

“Untuk perdagangan dan persediaan karavan.”

Pejabat itu mengangguk.

“Kalian akan bermalam di sisi selatan?”

“Kalau masih ada tempat.”

“Ada satu rumah singgah yang kosong. Jangan meninggalkan jalur utama setelah matahari turun.”

“Fauna?”

“Biawak batu terlihat dua hari lalu.”

Lucian bertanya, “Di sisi atas?”

Pejabat itu menoleh.

“Anak ini siapa?”

“Pencatat gerobak ketiga,” jawab Cassian.

“Kedua sekarang,” koreksi Lucian.

Cassian tidak menghiraukannya.

Pejabat Arga berkata, “Biawak besar dapat naik melalui celah tebing. Mereka mencari panas hewan dan sisa daging. Jangan membuang limbah dekat tempat bermalam.”

Lucian teringat Nasar Merah.

Cassian juga tampaknya mengingat hal yang sama.

“Kami tidak akan,” katanya.

Karavan menyeberangi jembatan menjelang senja.

Roda gerobak mengeluarkan bunyi berat di atas batu. Setiap beberapa langkah, Lucian merasakan getaran lembut melalui telapak kakinya.

Bukan getaran mana.

Getaran seluruh jembatan menanggung berat karavan.

Angin menerpa kain penutup gerobak. Ilyra dan Silvan berjalan di sisi luar untuk memastikan hewan tidak panik.

Di tengah jembatan berdiri dua patung batu yang saling membelakangi.

Patung pertama menghadap utara. Ia menggambarkan seorang perempuan bermahkota sederhana dengan tangan memegang mangkuk air.

Patung kedua menghadap selatan. Ia menggambarkan seorang laki-laki bertubuh besar yang memegang palu dan pahat.

Di antara kaki mereka terdapat tulisan dalam Scriptura Communis dan Carakan Watu.

Lucian membaca bagian internasionalnya.

“Apa mereka pendiri jembatan?” tanyanya.

Seorang penjaga lokal yang berjalan bersama mereka menjawab, “Bukan.”

“Lalu siapa?”

“Menurut Arga, mereka leluhur adipati pertama dan Roh Batu yang membimbingnya.”

“Menurut orang Kadaran?”

Penjaga itu melirik Lucian.

“Kau sudah tahu ada versi lain?”

“Biasanya ada.”

Penjaga tersenyum tipis.

“Menurut Kadaran, perempuan itu ratu terakhir mereka. Laki-laki itu pengrajin yang dibunuh setelah jembatan selesai agar rahasianya tidak tersebar.”

“Mana yang benar?”

“Jembatannya masih berdiri.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban yang paling aman di selatan.”

Begitu memasuki sisi selatan, dunia berubah lebih cepat daripada yang Lucian bayangkan.

Batu-batu kering di lereng utara berganti lumut. Air turun melalui alur-alur kecil di dinding gunung. Pohon-pohon mulai tumbuh rapat di antara bebatuan.

Udara menjadi berat dan basah.

Bau tanah menggantikan debu.

Di kejauhan, kabut menutup lembah seperti kain putih tipis.

Jalur menurun tetap berkelok, tetapi lebih lebar dan dipagari batu hitam. Setiap beberapa ratus langkah berdiri tempat teduh kecil dengan atap genting dan wadah air hujan.

“Ini masih wilayah gunung?” tanya Lucian.

“Kadipaten Arga,” jawab penjaga lokal. “Hutan dataran tinggi mereka dimulai setelah pos berikutnya.”

“Dan Nigravia?”

Penjaga menoleh seolah pertanyaannya aneh.

“Kita sudah di Nigravia.”

“Maksudku wilayah kerajaan langsung.”

“Tidak di sini.”

“Jadi ini tanah Adipati Arga?”

“Ya.”

“Dan Sri Maharaja?”

“Beliau penguasa seluruh kerajaan.”

“Kalau begitu tanah ini milik siapa?”

Penjaga tertawa kecil.

“Pertanyaan utara.”

“Apa maksudnya?”

“Orang utara selalu ingin satu nama untuk satu tanah.”

“Bukankah itu lebih jelas?”

“Kadang. Kadang hanya lebih mudah ditulis di peta.”

Mereka bermalam di rumah singgah batu pada lereng selatan.

Tempat itu dikelola keluarga lokal yang berbicara Scriptura Communis dengan logat berat. Di halaman berdiri altar kecil berupa batu hitam dengan mangkuk berisi air dan bunga merah.

Sebelum memasukkan gerobak, kepala rumah meminta Cassian meneteskan sedikit air dari kantong perjalanan ke mangkuk.

Lucian memperhatikan.

“Untuk apa?”

“Memberi tahu penjaga jalan bahwa kita datang membawa air, bukan mengambilnya saja,” jawab kepala rumah.

“Apakah itu pajak?”

Lelaki itu tertawa.

“Bukan semua hal adalah pajak, anak utara.”

Cassian meneteskan air.

Setelah itu mereka diperbolehkan masuk.

Malam berlalu tanpa gangguan. Namun Lucian beberapa kali terbangun karena suara dari hutan: pekikan burung, gesekan dedaunan, dan satu raungan rendah yang tidak terdengar seperti hewan mana pun yang dikenalnya.

Brennus tidur sambil memeluk tombaknya.

Ketika Lucian bertanya keesokan pagi, ia berkata, “Mungkin biawak.”

“Biawak tidak mengaum.”

“Biawak yang besar tidak perlu meminta izin pada kata-kata.”

Dua hari setelah menyeberangi jembatan, karavan tiba di Pasar Watu Lawang.

Kota itu dibangun di sekitar dua pilar batu hitam yang membentuk gerbang alami. Jalan utamanya dipenuhi kios kayu dan rumah beratap curam. Kanal-kanal kecil mengalir di sisi jalan, membawa air dari lereng menuju sawah bertingkat di bawah kota.

Bendera Kadipaten Arga tergantung pada menara pos.

Di bawahnya terdapat lambang lain: lingkaran hijau dengan tiga tangkai padi.

“Kadaran,” kata Ilyra.

Lucian memandang lambang itu.

“Bukankah ini masih wilayah Arga?”

“Pasarnya dikelola Arga. Tanah di sisi timur sungai dianggap bagian Negeri Kadaran.”

“Di dalam satu kota?”

“Batas lama tidak selalu mengikuti jalan baru.”

Lucian melihat jembatan kecil melintasi kanal besar.

Pada satu sisi, petugas memakai lambang Arga.

Pada sisi lain, penjaga lokal mengenakan kain hijau Kadaran.

“Kalau seseorang mencuri barang di tengah jembatan?”

Ilyra menatapnya.

“Jangan memberi mereka gagasan.”

Pemeriksaan muatan dilakukan pada pos Arga.

Mereka membayar bea sesuai surat perjalanan.

Petugas mencatat:

Cassian menerima keping tanah liat bertanda cap kadipaten sebagai bukti pembayaran.

“Jangan hilangkan,” katanya kepada Lucian.

“Aku tahu.”

“Kalau hilang, kita membayar lagi.”

“Aku akan menyimpannya bersama surat.”

“Jangan bersama semua surat. Kalau satu kantong jatuh—”

“Pisahkan bukti utama dan salinan.”

Cassian mengangguk.

Lihat selengkapnya