Kabut turun rendah di antara pepohonan Wana Tirta.
Ia tidak menggantung seperti awan, melainkan mengalir perlahan di sela batang-batang tua, melewati pagar batu, atap kayu, dan saluran air sempit yang membelah halaman padepokan. Dari kejauhan terdengar bunyi alu menumbuk padi, disusul ketukan palu dari bengkel dan suara murid-murid menyebutkan ukuran serta takaran dengan lantang.
Lucian terbangun sebelum lonceng pagi berbunyi.
Tubuhnya masih mengingat perjalanan panjang: getaran roda di jalan berbatu, dingin di atas Jembatan Kembar Arga, dan tarikan ganjil kompas ayahnya ketika mereka meninggalkan jalur utama menuju lembah. Meski demikian, kasur jerami tipis di paviliun tamu terasa lebih nyaman daripada sebagian besar penginapan yang mereka singgahi selama beberapa pekan terakhir.
Di tempat tidur sebelah, Cassian masih terlelap dengan satu tangan menutupi wajah.
Lucian bangkit perlahan, mengambil mantel, lalu keluar tanpa membangunkannya.
Udara pagi menusuk kulit. Tanah masih basah oleh embun dan sisa hujan malam. Di halaman bawah, beberapa murid telah bekerja. Dua orang membersihkan lumut dari batu pijakan. Seorang pemuda membawa keranjang sayur dari kebun, sementara dua murid lain sedang memperbaiki pagar bambu yang rusak.
Tak seorang pun tampak terburu-buru.
Namun seluruh padepokan bergerak seolah mengikuti irama yang telah dipahami bersama.
Di dekat saluran air, Raka Wisesa berdiri dengan tongkat kayunya. Ia mengamati tiga murid yang sedang mengatur pintu air kecil.
“Naikkan sisi kiri dua jari,” katanya.
Seorang murid menggeser bilah kayu.
Air mengalir lebih deras menuju petak tanaman obat, tetapi aliran ke kebun sayur di bawahnya melemah.
“Sekarang siapa yang kehilangan air?” tanya Raka.
“Petak bawah, Guru,” jawab seorang murid perempuan.
“Apakah petak atas berhak mengambil lebih banyak hanya karena letaknya lebih dekat dengan sumber?”
“Tidak.”
“Jawaban yang terlalu cepat.”
Murid itu terdiam.
Raka menunjuk kedua petak.
“Petak atas ditanami tumbuhan obat. Petak bawah menghasilkan sayuran untuk dapur. Mana yang lebih penting?”
Ketiga murid saling berpandangan.
Lucian berhenti beberapa langkah dari mereka.
Raka meliriknya.
“Pedagang muda kita sudah bangun. Mungkin ia tahu cara membagi air tanpa membuat semua orang merasa dirugikan.”
Lucian mendekat sambil mengencangkan mantelnya.
“Kalau saya langsung menjawab, Guru mungkin akan mengatakan saya belum mengetahui berapa banyak air yang dibutuhkan masing-masing petak.”
Salah seorang murid tertawa kecil.
Raka mengangguk tipis.
“Setidaknya perjalananmu belum membuatmu merasa mengetahui semuanya.”
Lucian mengamati aliran air.
“Tanaman obat mungkin lebih mahal, tetapi nilainya tidak hanya ditentukan oleh harga. Kalau dapur kekurangan sayur, seluruh padepokan ikut menanggung akibatnya.”
“Lalu?”
"Sebaiknya," kata Lucian sambil memandang saluran air, "kita hitung dahulu berapa banyak air yang benar-benar dibutuhkan kedua ladang itu."
Ia mengambil ranting kecil lalu menggambar dua petak tanah di atas pasir.
"Setelah kebutuhan pokok keduanya terpenuhi, sisanya baru dibagi menurut keadaan tanaman dan cadangan yang masih ada."
"Bukan menurut siapa yang paling dekat dengan mata air."
Raka tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangkat sepotong batu kecil dari pinggir saluran, lalu meletakkannya di antara dua gambar yang dibuat Lucian.
"Menurutmu," tanyanya pelan, "apa yang sedang kau bagi?"
Lucian mengerutkan dahi.
"Air."
Raka menggeleng perlahan.
"Air hanya bendanya."
Ia mengetuk batu kecil itu dengan tongkat.
"Yang sebenarnya sedang kau bagi adalah kesempatan untuk tetap hidup sampai musim berikutnya."
Lucian terdiam.
Ia belum pernah memikirkan air dengan cara seperti itu.
Raka melanjutkan.
"Banyak orang pandai menghitung kendi."
"Sedikit yang pandai menghitung akibat."
Lucian menatap kembali gambar di tanah.
"Kalau begitu... setiap pembagian harus dimulai dari akibatnya?"
Raka tersenyum tipis.
"Hampir."
Ia mengambil ranting dari tangan Lucian, lalu menghapus salah satu garis.
"Bayangkan jika kau mencatat semuanya dengan sangat rapi."
"Setiap kendi."
"Setiap karung."
"Setiap keping perak."
"Tidak ada satu angka pun yang keliru." Lucian mengangguk.
"Bukankah itu baik?"
Raka mengembalikan ranting itu.
"Baik." Ia berhenti sejenak.
"Tetapi belum tentu adil."
Lucian mengangkat wajah.
Raka menunjuk dua ladang tadi.
"Kalau catatanmu sempurna, tetapi satu keluarga tetap kehilangan panen karena kau tidak pernah melihat keadaan mereka..."
"Apakah catatanmu salah?"
Lucian berpikir cukup lama. Lalu perlahan menggeleng.
"Catatannya benar."
"Namun..." Ia menatap dua gambar ladang itu lagi.
"...keputusannya bisa keliru." Untuk pertama kalinya hari itu, senyum Raka tampak sedikit lebih lebar.
"Nah."
"Angka membantu kita melihat."
"Tetapi angka tidak pernah menggantikan mata yang melihat manusia."
Raka kemudian mengangkat tongkatnya dan menunjuk sebuah bangunan rendah di lereng sebelah barat. Atapnya hampir tersembunyi di antara pepohonan.
“Setelah makan pagi, bawalah surat Titus ke sana. Penjaga arsip akan menerima kita.”
“Apakah Guru mengenalnya?”
“Aku mengenal pekerjaannya.”
“Itu bukan jawaban yang sama.”
“Tidak semua orang perlu dinilai dari seberapa menyenangkan percakapannya.”
Lucian tersenyum kecil.
“Berarti dia tidak menyenangkan?”
“Kau akan mengetahuinya sendiri.”
Cassian tidak menyukai bubur beras Wana Tirta.
Ia menatap mangkuknya seolah makanan itu telah melakukan kesalahan pribadi.
“Tidak ada daging?” tanyanya.
Seorang murid yang sedang menuangkan teh menunjuk irisan jamur dan kacang di atas bubur.
“Itu lauknya.”
“Aku bertanya tentang daging.”
“Tubuhmu tidak akan runtuh hanya karena satu pagi tanpa daging.”
Cassian mengaduk buburnya.
“Tubuhku mungkin tidak. Semangatku yang runtuh.”
Lucian duduk di sampingnya sambil menahan senyum. Setelah berminggu-minggu mendengar Cassian berdebat mengenai harga, izin jalan, pungutan desa, dan keselamatan karavan, keluhannya tentang sarapan terasa hampir menenangkan.
Raka datang membawa mangkuk yang sama.
“Kau boleh berburu sendiri,” katanya kepada Cassian. “Namun sebelum matahari mencapai puncak, kau harus kembali, membersihkan hasil buruanmu, membagi dagingnya kepada dapur, lalu menjelaskan kepada para pekerja mengapa waktumu lebih baik digunakan untuk berburu daripada memeriksa roda gerobak.”
Cassian mengangkat satu sendok bubur.
“Setelah kupikirkan lagi, makanan ini cukup baik.”
Mereka makan di serambi terbuka. Dari sana terlihat lembah yang perlahan muncul ketika kabut terangkat: petak-petak sawah, rumah-rumah kayu, saluran air, serta jalan kecil yang berkelok di antara pepohonan.
Sesudah makan, Cassian memeriksa karavan terlebih dahulu.
Dua roda gerobak perlu diperkuat. Salah satu tali penutup muatan telah aus. Seorang pengawal mengalami nyeri pada pergelangan kaki setelah membantu memperbaiki jembatan sehari sebelumnya.
Cassian membagi tugas, mencatat kerusakan, lalu menunjuk seorang kusir senior untuk mengawasi perbaikan selama ia pergi.
“Kami tidak akan lama,” katanya.
Raka mengangkat alis.
“Itu bergantung pada jumlah pertanyaanmu.”
Cassian memasukkan daftar kerusakan ke dalam mantelnya.
“Kalau orang-orang di sini menjawab dengan jelas, pertanyaanku juga tidak akan banyak.”
Raka mulai berjalan.
“Itu sebabnya kita mungkin berada di sana sampai malam.”
Lucian mengikuti keduanya menuju bangunan arsip.
Jalan menuju arsip tidak lurus.
Mereka harus menaiki tangga batu, melintasi kebun tanaman obat, lalu turun melalui lorong sempit di antara dua tebing kecil. Air menetes dari lumut yang menutupi dinding batu. Beberapa kali Lucian merasa kompas di balik pakaiannya bergetar, tetapi gerakannya terlalu lemah untuk menentukan arah.
Cassian mengamati jalan di depan.
“Tempat ini sengaja dibuat sulit ditemukan?”
“Tidak,” jawab Raka. “Tempat itu sudah ada sebelum sebagian besar bangunan padepokan didirikan.”
“Itu bukan jawaban yang berbeda.”
“Tidak semua yang tersembunyi sedang berusaha bersembunyi.”
Bangunan arsip memiliki dinding batu hitam dan pintu kayu tua tanpa hiasan. Hanya terdapat satu ukiran kecil pada ambangnya: lingkaran terbuka dengan tiga garis yang menuju pusat.
Kompas di balik pakaian Lucian bergerak.
Bukan putaran kuat seperti ketika mendekati lembah, melainkan getaran singkat—seolah jarumnya mengetuk dinding tempat ia disimpan.
Lucian berhenti.
Raka tidak menoleh.
“Masih bereaksi?”
“Ya.”
“Jangan keluarkan sebelum diminta.”
Cassian memandang Lucian, kemudian pintu itu. Tangannya tidak menyentuh gagang pisau di pinggang, tetapi posisi tubuhnya berubah sedikit.
Raka mengetuk tiga kali.
Dari dalam terdengar bunyi palang kayu digeser.
Pintu terbuka setengah.
Perempuan yang berdiri di baliknya tampak lebih muda daripada bayangan Lucian tentang seorang penjaga arsip tua. Usianya mungkin mendekati empat puluh tahun. Rambutnya diikat tinggi dengan tusuk kayu, lengan bajunya dilipat hingga siku, dan jari-jarinya bernoda tinta.
Ia menatap Raka terlebih dahulu.
“Suratnya?”
“Pagi juga untukmu, Saras.”
“Kalau kau datang membawa persoalan lama, pagi yang baik belum tentu bertahan.”
Raka menyerahkan surat Titus.
Saras menerimanya tanpa mempersilakan mereka masuk. Ia memeriksa segel Kuil Fontia, meraba serat kertas, lalu mengamati bekas lipatannya.
“Dibawa langsung?”
“Dari Fontia,” jawab Raka.
“Tidak pernah meninggalkan tangan mereka?”
Cassian berkata, “Surat itu disimpan di kotak dokumen karavan. Hanya aku dan Lucian yang memegang kuncinya.”
Saras mengangkat pandangan.
“Dan kau siapa?”
“Cassian Marcellus.”
“Putra pertama?”