Pada suatu masa, saat hidup terasa bahagia tapi semu, senang tapi kosong, riuh tapi sepi. Ketika kaki terasa enteng melangkah meski salah arah dan tujuan, dunia menawarkan orbit lain yang aman. Namun, menyesakkan dan lidah terlalu kelu untuk mengakui.
Langit pekat diselimuti bintang. Terlalu gelap untuk menyebut ini pagi. Jalan raya lengang, siapa juga yang akan beraktifitas dini hari begini kecuali sopir tronton daerah yang mengangkut muatan-muatan besar dalam jumlah banyak.
Aroma khas alkohol menyeruak memenuhi hatchback hitam yang dikendarai gadis enam belas tahun, kendaraan roda empat tersebut melaju buncang membelah jalan yang lengang.
Mataku terpejam, merasakan tiap detik serangan mual dan pusing yang nggak menyenangkan. Perasaan yang selalu timbul akibat interaksi nggak terkontrol bersama minuman haram di kafetaria beberapa jam lalu. Meski bukan pertama kali aku mencobanya, tetap saja, efeknya selalu menerbangkanku.
Kafetaria?
Ya, aku dan teman-teman menyebutnya kafetaria untuk menyembunyikan keremangan atas nama remaja yang disematkan untuk anak seusiaku. Anak di bawah umur yang keluar dari fitrahnya.
Suara gelak Faye terdengar memenuhi setiap sudut dalam mobil yang dikendarainya, tidak ada topik lucu di dalam situasi krusial begini, itu hanya efek dari isi botol kaca di kafetaria tadi. Semakin larut, semakin gila.
Suara kantong kresek terdengar riuh dari jok belakang, gadis bertubuh kurus dengan penampilan paling tidak menarik seantero sekolah ini sudah amburadul tak berdaya. Berbeda dengan kami, aku yakin sekali ini adalah pengalaman minum pertama Cheryl.
Perkenalkan, gadis di jok belakang itu adalah Cheryl, anak kepala sekolah dengan otak unggul, sering diperalat oleh teman-teman kelas dengan iming-iming ketenaran dan popularitas. Sebagai investasinya Cheryl menawarkan nilai PR yang tinggi.