Journey Hujan dan Semestanya

Hardina
Chapter #2

Chapter 2 Hanya Mimpi?

Awan berarak-arakan, langit biru cerah tapi nggak panas. Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang didesain modern dengan rumput hijau dan pohon-pohon besar yang menyejukkan.

Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah dahan, membuat bayangannya seperti menari ditiup angin. Ketika menatap ke atas, seolah-olah melihat bintang di malam hari. Indah sekali.

Aku menatap takjub lukisan alam yang ditangkap netraku, tempat ini kunamai negeri dongeng. Benar-benar seperti mimpi berada di taman ini. Lihatlah ribuan tulip itu, lili hujan, bluebell, daffodil, freesia, tumbuh rapi dan elok sepanjang mata memandang.

Ada air mancur di tengah danau kecil, teratai yang bermekaran ikut mendominasi di atas air yang tenang, bunganya berwarna putih, anggun sekali.

Aku membayangkan banyak peri nggak kasat mata yang hidup di antara tulip-tulip itu, terbang ke sana ke mari menabur serbuk ajaib sebagai pupuk hingga menghasilkan taman seindah ini.

Sepanjang jalan, aku disambut oleh dedaunan yang gugur bersama embusan angin, serta aroma wangi bunga freesia yang menenangkan. Dekorasi yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Bahkan, vila di puncak milik Papa Faye kalah jauh.

Mataku menatap ke segala arah. Meski indah, walau takjub, aku tetap dibuat bingung. Sedikitnya, perasaan takut mulai menguasai.

 “Aku di mana?”

Beberapa menit aku menikmati mahakarya ini sebelum akhirnya tersadar akan sesuatu. Nggak ada siapa pun di sini. Aku berjalan mencari kehidupan, mungkin di depan sana ada seseorang, atau sekeluarga, atau apalah itu yang bisa menjelaskan tempat ini kepadaku. Langkah terus terayun dari betis kecilku. Lama-lama, aku merasa haus juga.

“Ayaaaah!” Teriakku kencang.

Berharap pahlawanku itu sedang berada di tempat yang sama, dan lupa bahwa aku mungkin saja tersesat dari rombongan.

“Bi Aiiiiii! Pak Rangga! Mbak Hildaaaa!"

Kurang lebih sudah satu kilo aku berjalan, semua nama penghuni rumah kusebutkan, kecuali dia, Maleficent!

Akhirnya, aku memilih berhenti, kelelahan. Aku terduduk, meringkuk memeluk lutut. Tangisku pecah, aku takut!

Ayah, Bi Ai, Pak Rangga, Mbak Hilda ... Nila takut.

Suara pekik gesekan besi terdengar, aku mendongak pelan mencari sumber suara. Harapan baru muncul beriring dengan ketakutanku yang sedikit luruh. Aku berdiri, berjalan ke arah bunyi itu. Semakin maju langkah kaki, semakin jelas suaranya.

Dari jauh, samar-samar terlihat wanita berayun di atas ayunan besi dengan gamis panjang berwarna merah jambu, ujung pakaiannya menjuntai hampir mengenai pucuk rumput di bawahnya. Aku mengenalinya dari jauh, mirip sosok yang kurindukan selama ini. Seseorang yang sudah lama sekali pergi meninggalkanku.

Aku mengucek mata, memastikan bahwa aku nggak sedang berfatamorgana. Tapi ia terlalu jelas, nyata sekali. Aku berlari ke arahnya, hingga semakin dekat, langkahku terhenti, ia membalikkan wajah ke arahku.

“Aku nggak salah lihatkan?”

Air mataku nggak bisa lagi kubendung. Aku berlari dan langsung memeluknya, berhambur dalam dekapnya dan mencurahkan segala perasaan di sana.

“Ibu ... Nila kangen banget sama Ibu ....”

Air mataku luruh. Ibu juga membalas pelukku erat. Tangannya membelai lembut rambutku, menciumi kening serta pipiku. Kehangatan yang entah kapan terakhir kali kurasakan. 

“Ibu cantik sekali,” ujarku.

Memang benar, dibanding tiga tahun lalu waktu usiaku dua belas tahun, ibu terbaring lemah dengan wajah pucat serta tubuh nggak berdaya. Saat itu, aku masih terlalu muda untuk tahu segala sesuatu.

Di usia tiga puluh tahun, ibu mengandung adikku, aku begitu antusias akan menjadi seorang kakak. Namun, ibu pendarahan hebat di kehamilannya keenam bulan, ia dilarikan ke rumah sakit dan itu menjadi hari terakhirku bersamanya di dunia ini.

Di usia dua belas tahun, aku menyandang status “piatu”.

Ibu tersenyum menatapku, ujung jilbabnya bergerak tertiup angin. “Nila apa kabar, Nak?”

“Nilaaa …,” jawabku menggantung.

Lihat selengkapnya