Jam dinding berdetak seperti bom waktu. Angka-angka pada slip gaji terakhir masih terbayang jelas di kepala Fandi, bahkan saat ia sudah berdiri di luar gerbang pabrik. Tangannya gemetar memegang amplop putih yang telah dilipat dua. Surat pemutusan hubungan kerja. Surat cinta dari HRD, begitu ia menyebutnya sambil tertawa getir.
Selama delapan tahun Fandi bekerja di pabrik tekstil itu. Delapan tahun bangun pukul lima pagi, mengendarai motor tuanya sejauh sepuluh kilometer, menghirup debu mesin dan suara bising yang memekakkan telinga. Semua itu sekarang tinggal kenangan. Ia bahkan tak diberi pesangon, hanya ucapan terima kasih dan ucapan semoga sukses di masa depan. Masa depan yang seperti lubang hitam bagi Fandi saat ini.
Ia duduk di halte tua dekat pabrik. Mata kosong menatap kendaraan berlalu-lalang. Sinar matahari pagi tak mampu menghangatkan kecemasan yang merambat di tubuhnya. Sekali lagi ia meremas rambutnya yang sedikit memanjang, cemas menjalari punggungnya. Ia membuka ponsel, membuka aplikasi mobile banking. Saldo yang tersisa di sana: Rp172.800. Cukup untuk membeli dua liter beras, sebungkus mie instan, dan pulsa agar tetap bisa narik ojek daring—pekerjaan sambilan yang kini akan jadi satu-satunya sumber penghasilan.
Ponselnya bergetar. Nama “Nita” muncul di layar. Istri tercintanya. Fandi menghela napas sebelum menekan tombol hijau.
“Halo, Mas… udah pulang kerja?”
Fandi terdiam sejenak. “Belum, Dek. Mas lagi di jalan. Ada rapat mendadak tadi.”
“Oh gitu… kalau pulang, tolong beliin tahu goreng ya. Fani minta. Sama teh celup, kalau ada. Katanya haus terus di sekolah.”
Fandi mencubit hidungnya sendiri, menahan tangis yang hendak tumpah. “Iya, nanti Mas mampir dulu ke warung depan gang.”
Ia menutup telepon. Rasa bersalah merambat cepat. Ia baru saja berbohong pada istri yang paling ia percaya. Tapi bagaimana bisa ia menyampaikan kabar kehilangan itu dengan santai, kabar yang dia tau merupakan kabar buruk untuk keluarganya, sementara di rumah ada empat anak yang butuh makan dan biaya sekolah? Dia tentu saja tidak ingin memberatkan hal itu pada istrinya.
Anak pertamanya, Fani, baru naik kelas 8. Pintar, rajin, dan bercita-cita menjadi dokter. Anak keduanya, Faqih, adalah anak berkebutuhan khusus. Sejak kecil Fandi dan Nita tak tega menyekolahkan Faqih di SLB. Mereka ingin Faqih merasa seperti anak-anak lainnya. Mereka masukkan Faqih ke Sekolah Islam Terpadu, meski biayanya berkali lipat lebih mahal.
Anita, anak ketiga mereka, baru masuk kelas 2 SD. Ceria dan senang menggambar. Ia sering menyelipkan coretan tangannya ke saku celana Fandi, gambar rumah, pohon, dan sosok ayah yang selalu tersenyum. Sementara si bungsu, Rere, sedang semangat-semangatnya ingin sekolah di TK. “Aku ingin juga sekolah, Yah. Biar bisa punya tas lucu kayak kakak Ita,” katanya sembari memutar bola matanya jenaka.
Dan kini, semuanya terancam. Semua mimpi anak-anak itu bisa berhenti hanya karena selembar kertas dari HRD.
'Hhhh.' Sekali lagi Fandi menarik napas, gusar.
Fandi sampai di rumah menjelang magrib. Ia menyimpan surat PHK itu dalam jaketnya. Nita sedang mengangkat cucian. Fani dan Anita membantu menyiapkan makan malam. Aroma nasi hangat segera menjejal pernapasan, menguar dari dapur.