Matahari baru saja naik ketika Fandi membuka matanya, namun bukan semangat yang membangunkannya pagi itu, semangat seperti hari-hari kemarin saat dia masih bekerja, semangat untuk berangkat ke kantor, berjibaku dengan waktu berebut cepat dengan pengguna jalan lainnya untuk bisa sampai secepatnya ke kantor.
Hari ini berbeda, kecemasan … itulah alarm sejatinya. Ia duduk di pinggir ranjang sambil menatap langit-langit rumah. Sinar matahari menembus lubang kecil di atap, membentuk pola tak beraturan di dinding kamar, abstrak sesemrawut isi otaknya sekarang.
Suara spatula membentur penggorengan terdengar dari dapur. Nita, seperti biasa, bangun lebih awal. Tapi pagi ini tak ada aroma bawang tumis, tak ada wangi nasi goreng atau telur dadar. Yang tercium hanya udara dingin bercampur dengan kenyataan pahit. Getir.
Lelaki empat puluh dua tahun itu bangun dari tidur, duduk di sisi pembaringan, kemudian mengusap mukanya, kasar.
Fandi melangkah ke dapur. Di atas meja, hanya ada sebaskom nasi putih dan dua bungkus kerupuk plastik. Nita sedang menyendok nasi ke dalam piring kecil. Wajahnya datar, tak ada keluhan, tak juga senyum.
“Cuma ini yang bisa dimasak, Dek?” tanya Fandi, meski ia tahu jawabannya, hanya sekadar pertanyaan basa-basi penghibur diri yang sepi.
Nita mengangguk pelan. “Uang belanja kemarin tinggal seribu. Aku beliin kerupuk dua bungkus buat teman makan.”
Fandi duduk di kursi kayu usang. Piring kosong di depannya menatap balik, seolah ikut bertanya: besok kita makan apa?
Satu per satu anak-anak mereka muncul dari kamar. Anita mengucek matanya sambil membawa boneka kelinci. Fani berjalan pelan sambil menyapa semua orang, dan Faqih datang sambil menggandeng tangan si bungsu, Rere.
“Ayah, lauknya mana?” tanya Anita sambil memiringkan kepala.
Fandi menelan ludah. “Hari ini kita makan kerupuk dulu ya, Nak. Tapi nanti ayah cari lauk yang enak.”
“Beli ayam goreng, ya?” pinta Rere polos.
Fandi tersenyum, pahit. “Iya, kalau rezekinya cukup.”
Mereka makan dalam diam. Cuma suara piring dan sesekali tawa Faqih yang terdengar. Nita terus menyendok nasi ke piring anak-anak, menahan lapar demi mereka.
**
Setelah sarapan, Fandi menyalakan ponselnya dan membuka aplikasi ojek online. Orderan masuk, tapi jaraknya dekat dan tarifnya kecil. Ia tetap berangkat, dengan motor tuanya yang meraung seperti mau batuk. Joknya sobek, lampu depannya redup, dan spion kiri sudah sejak lama hilang. Tapi motor itu adalah harapan terakhirnya, senjata terakhir untuk coba mencukupi kebutuhan keluarganya.