Jual Bibit Bayi

Aroem Aziez
Chapter #3

Anak-Anak Fandi

Pagi di rumah kecil Fandi selalu dimulai dengan kegaduhan manis yang hanya bisa diciptakan oleh anak-anak. Suara sendok beradu dengan gelas, teriakan rebutan ke kamar mandi, dan celotehan polos yang bersahutan. Meski sempit dan serba terbatas, rumah itu tak pernah kekurangan canda.

Fani, anak sulung Fandi dan Nita, baru saja naik ke kelas delapan. Gadis 13 tahun itu tinggi semampai, rambutnya sering dikepang dua, dan senyumnya mengingatkan Fandi pada ibunya semasa muda. Fani dikenal pintar di sekolah, langganan juara kelas. Tapi bukan itu yang membuat Fandi bangga—melainkan kesabaran Fani dalam membantu adik-adiknya, terutama Faqih. Faqih yang terpaut tiga tahun dari dirinya, seorang anak berkebutuhan khusus.

“Fani, cepat sikat gigi, nanti telat,” seru Nita dari dapur.

“Iya, Bun! Ini lagi nyari kaos kaki Anita juga,” jawab Fani sambil jongkok di depan lemari tua yang sudah miring salah satu pintunya.

Anita, si anak ketiga, berumur delapan tahun. Suka menggambar dan cerewet luar biasa. Ia bisa berbicara tanpa henti selama sepuluh menit hanya untuk menjelaskan kenapa warna langit bisa berubah. Setiap pagi, Anita selalu menempel pada Fani, minta dibantu berpakaian, menyisir rambut, sampai memilih jepitan.

“Ka Fani, aku mau jepit kupu-kupu ya, yang warna pink. Yang biru buat Rere aja.”

“Iya, iya... sabar dong, Nita. Nih, duduk dulu sini,” Fani tertawa sambil mengusap kepala adiknya.

Sementara itu, Rere si bungsu, baru lima tahun. Energi gadis kecil itu seolah tak pernah habis. Setiap pagi ia berlarian ke sana ke mari, mencari tas TK-nya yang sering ia pakai untuk bermain dokter-dokteran. Rere sedang dalam masa penuh tanya. “Kenapa ayam punya bulu? Kenapa nasi putih, nggak merah? Dan, kenapa dia belum sekolah seperti kakaknya Anita.”

Fandi menyukai momen-momen itu. Tapi di balik senyum mereka, ada satu anak yang selalu jadi perhatian khususnya: Faqih.

**

Faqih, anak kedua Fandi, kini duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Sejak usia dua tahun, Fandi dan Nita mulai menyadari ada yang berbeda dari perkembangan Faqih. Ia lambat bicara, cenderung menghindari kontak mata, dan punya kebiasaan mengulang-ulang kata yang sama. Dokter kemudian mendiagnosis Faqih dengan autisme ringan.

Keputusan untuk tidak menyekolahkan Faqih di SLB bukan tanpa alasan. Fandi ingin anaknya tetap merasa setara, tidak menjadi pribadi yang minder dan rendah diri dengan keadaannya, punya teman yang beragam, dan bisa belajar dalam lingkungan inklusif. Maka, meski berat di biaya, mereka memilih menyekolahkan Faqih di Sekolah Islam Terpadu.

Lihat selengkapnya