JUDUL: Nama yang tak pernah di sebut

sepin hidayah
Chapter #1

Nadira Sadar Dirinya Berbeda

Nadira tidak pernah ingat kapan tepatnya ia mulai merasa berbeda. Tak ada satu hari khusus yang datang seperti petir lalu membelah masa kecilnya menjadi dua bagian, sebelum tahu dan sesudah tahu. Tidak ada penjelasan resmi, tak ada seseorang yang duduk di hadapannya lalu berkata dengan lembut bahwa hidupnya tak sama seperti hidup anak-anak lain. Kesadaran itu datang perlahan, seperti embun yang merayap turun pada dini hari. Mula-mula tak terasa. Lalu saat matahari terbit, semuanya sudah basah. Begitulah cara Nadira memahami dirinya. Sedikit demi sedikit. Dari potongan-potongan kecil yang semula tak ia mengerti, lalu perlahan menyatu menjadi satu kesimpulan yang tak bisa ia bantah. Ia berbeda.

 

Saat berusia enam tahun, Nadira mengira semua keluarga memang seperti keluarganya. Ia pikir semua rumah punya ruang tamu yang dipenuhi foto seorang lelaki yang tak pernah ia lihat secara langsung. Ia pikir semua kakak perempuan memang suka menatap adik mereka seperti menatap noda di baju putih. Ia pikir semua ibu pulang larut dengan wajah lelah dan mata sembab. Ia juga mengira semua anak punya ayah yang tidak pernah pulang. Bagaimana mungkin ia tahu sebaliknya? Tak ada yang pernah menjelaskan apa pun. Jika ia bertanya pada ibunya, jawaban yang diterimanya selalu singkat dan menggantung. “Ayah pergi, tidak usah di cari lagi”

 

Sore hari ketika anak-anak kecil berlari menyambut ayahnya pulang setelah bekerja, mereka berebut jajanan oleh-oleh. Terkadang ayah mereka menemani bermain, bersepeda bersama, digendong, ataupu bercanda bersama.

Nadira memperhatikan semua itu di teras rumah. Nadira berkata lirih “aku juga ingin seperti temanku”

 

Kesadaran pertamanya datang dari sebuah foto. Waktu itu usianya tujuh tahun. Ia sedang bermain petak umpet sendirian, karena tak ada teman yang benar-benar ingin bermain dengannya dan tanpa sengaja masuk ke kamar ibunya. Lemari kayu tua di pojok sedikit terbuka, dari sela pintu ia melihat album foto tebal berdebu. Karena penasaran, ia menariknya keluar. Ia duduk di lantai dan membuka halaman demi halaman. Foto-foto lama memenuhi album itu. Ibunya tersenyum muda dalam kebaya sederhana. Tiga anak kecil yang wajahnya ia kenali sebagai Selma, Intan, dan Damar. Dan seorang lelaki tinggi berkulit putih yang berdiri di samping mereka sambil tertawa. Tangannya merangkul ibunya dengan akrab.

 

Nadira membalik halaman demi halaman album foto. Lelaki itu muncul di mana-mana. Di ulang tahun Selma. Di pantai bersama Intan kecil. Menggendong Damar. Memeluk ibunya. Namun tak ada satu pun foto yang memuat dirinya.

Tak lama ibunya masuk kamar, dan mendekati nadira.

“Bu, ini siapa?”

Ratna berhenti. Wajahnya berubah. Ada sesuatu yang bergerak cepat di matanya sedih, terkejut, juga takut.

“Itu… Pak Bima.”

“Siapa?” tanya nadira penasaran

Ratna menelan ludah.

“Ayahnya Mbak Selma, Mbak Intan, dan Mas Damar.”

 

Nadira menunggu. Lalu bertanya dengan polos, “Kalau ayahku mana?”

Lihat selengkapnya