JUDUL: Nama yang tak pernah di sebut

sepin hidayah
Chapter #2

Setelah Ayah Pergi, Stigma Tetap Tinggal pada Nara

Ketika Faris meninggalkan rumah bercat hijau muda di ujung Gang Melati, sebagian orang mengira semua masalah telah selesai.

Tak ada lagi lelaki asing yang datang dan pergi melewati gang sempit itu dengan kepala menunduk, menerima tatapan dingin para tetangga seperti hukuman yang tak pernah ia bantah. Tak ada lagi bisik-bisik ibu-ibu di teras rumah yang memperdebatkan apakah Ratna terlalu cepat menikah lagi. Tak ada lagi suara pintu kamar yang dibanting Selma setiap kali mendengar suara langkah Faris memasuki rumah.

Bagi warga Gang Melati, kepergian Faris adalah penutup yang sempurna.

Mereka merasa benar sejak awal.

Mereka menganggap rumah itu kembali suci, kembali menjadi rumah almarhum Pak Bima seperti semestinya.

Mereka percaya luka keluarga Ratna akan sembuh dengan sendirinya, sekarang setelah “orang luar” itu tak ada lagi.

Namun mereka lupa satu hal.

Faris memang pergi.

Tetapi jejaknya tetap tinggal.

Jejak itu bernama Nadira.

Anak perempuan kecil bermata bulat yang kala itu baru berusia tiga tahun.

Ia terlalu kecil untuk memahami mengapa ayahnya tak lagi pulang. Terlalu kecil untuk mengerti mengapa ibunya menangis diam-diam di dapur setiap malam. Terlalu kecil untuk memahami mengapa dua kakak perempuannya memandangnya seolah ia adalah penyebab semua keretakan di rumah itu.

Namun anak sekecil apa pun selalu bisa merasakan ketika dirinya tak diinginkan.

Dan Nadira merasakannya perlahan-lahan, seperti hawa dingin yang merembes masuk dari celah jendela saat malam.

Mula-mula ia hanya bingung.

Mengapa Selma tak pernah mau menggendongnya seperti ibu-ibu tetangga menggendong adik mereka? Mengapa Intan selalu mendecak ketika ia mendekat? Mengapa setiap kali ia bertanya tentang ayahnya, rumah mendadak menjadi sunyi?

Saat usianya lima tahun, kebingungan itu berubah menjadi pertanyaan.

Saat usianya tujuh tahun, pertanyaan itu berubah menjadi luka.

Dan saat usianya sepuluh tahun, luka itu menjelma keyakinan paling menyakitkan dalam hidupnya:

Bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang salah.


Pagi pertama Nadira masuk SD adalah hari yang cerah.

Ratna bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengepang rambut putri bungsunya dengan hati-hati, lalu merapikan kerah seragam merah putih yang kebesaran karena dibeli sedikit longgar agar bisa dipakai lebih lama.

“Nara cantik,” katanya sambil tersenyum.

Nadira menatap bayangannya di cermin kusam.

Ia tersenyum malu.

Hari itu ia sangat bersemangat.

Ia pernah melihat anak-anak sekolah berjalan sambil membawa tas dan botol minum. Mereka tampak penting. Dewasa. Seperti memiliki dunia sendiri.

Ia ingin menjadi seperti mereka.

Ratna mengantarnya sampai gerbang sekolah sebelum buru-buru berangkat kerja.

“Belajar yang rajin, ya.”

“Iya, Bu.”

Ratna mencium keningnya lalu pergi.

Nadira melangkah masuk kelas dengan jantung berdebar.

Untuk beberapa jam pertama, semuanya terasa baik-baik saja.

Bu Guru ramah.

Teman-temannya tertawa saat ia salah menyebut nama permainan.

Ia mulai merasa sekolah mungkin akan jadi tempat baru yang menyenangkan.

Sampai jam istirahat tiba.

Saat semua anak keluar kelas, seorang anak perempuan bernama Rika tiba-tiba bertanya, “Kamu rumahnya di ujung Gang Melati, ya?”

Nadira mengangguk.

“Itu rumah Pak Bima?”

“Iya.”

Rika memiringkan kepala.

“Mamaku bilang kamu bukan anak Pak Bima.”

Beberapa anak lain menoleh.

Nadira terdiam.

Ia tak tahu harus menjawab apa.

“Terus kamu anak siapa?”

“Ayahku…” suaranya mengecil. “Ayahku Faris.”

Rika mengernyit.

“Lho? Berarti kamu anak orang lain?”

Anak-anak tertawa kecil.

Tidak jahat, sebenarnya. Mereka hanya meniru cara orang dewasa berbicara.

Namun bagi Nadira kecil, tawa itu terasa seperti lemparan batu.

Ia menunduk dan pura-pura sibuk membuka bekal.

Sejak hari itu, sekolah tak lagi sepenuhnya aman.

Bisik-bisik yang sama mulai mengikutinya.

“Kamu beda ayah, ya?”

“Kenapa ayahmu nggak tinggal sama kamu?”

“Katanya ayahmu kabur?”

Anak-anak memang kejam dengan cara yang polos. Mereka tak tahu bahwa rasa ingin tahu bisa melukai.

Dan Nadira terlalu kecil untuk membela dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya