JUDUL: Nama yang tak pernah di sebut

sepin hidayah
Chapter #3

Semua mengenang Pak Bima sebagai lelaki baik

Orang-orang selalu punya cara untuk mengingat seseorang, bahkan setelah orang itu lama meninggal. Ada yang dikenang dari cara bicaranya, ada yang diingat karena kemurahan hatinya, ada pula yang tetap hidup di kepala banyak orang hanya karena namanya sering disebut-sebut di teras rumah saat sore. Pak Bima termasuk yang terakhir.

 

Sudah dua belas tahun ia meninggal, tetapi namanya masih melekat di setiap sudut gang itu seperti cat lama yang tak pernah benar-benar terkelupas. Orang-orang masih menyebut rumah bercat hijau muda di ujung gang itu sebagai rumah Pak Bima. Padahal, lelaki itu sudah lama berbaring di bawah tanah, dan rumah itu kini hanya dihuni seorang janda dengan empat anak.

Ratna, istrinya. Selma, Intan, Damar, dan Nadira.

Namun bagi warga, hanya empat nama pertama yang benar-benar dianggap bagian dari keluarga Pak Bima. Nama terakhir Nadira adalah semacam catatan kaki yang tak pernah mereka akui keberadaannya. Seolah ia hanya singgah sebentar di rumah itu. Seolah ia tak pernah benar-benar lahir di sana.

 

Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika Nadira menyapu halaman rumah. Seragam SD putih-merahnya sudah rapi. Rambut panjangnya dikepang dua oleh tangannya sendiri. Sepatunya sedikit kusam karena sudah dipakai dua tahun, warisan dari anak tetangga sebelah yang ukurannya kebetulan sama. Ia menyapu dengan gerakan pelan, menyingkirkan daun-daun mangga kering yang semalam jatuh diterpa angin. Dari rumah sebelah, suara Bu Rina terdengar jelas.

“Itu anaknya Ratna yang kecil, ya?”

“Iya.”

“Tidak mirip bu Ratna ya.”

“Nggak tahu mirip siapa?.”

Disusul tawa kecil. Nadira menunduk. Tangannya terus bergerak, pura-pura tidak mendengar.

 

Padahal setiap kata masuk seperti kerikil kecil yang dilemparkan tepat ke dadanya. Ia hafal nada suara seperti itu. Nada orang-orang yang sedang membicarakan sesuatu yang dianggap salah, tapi terlalu sopan untuk mengatakannya terang-terangan.

“Kasihan juga sih. Tinggal di rumah keluarga almarhum suami ibunya.”

“Ya gimana, namanya juga anak dari laki-laki lain.”

“Ratna itu dulu terlalu cepat nikah lagi.”

Nadira menarik napas dalam. Ia memungut daun terakhir, lalu membuangnya ke tong sampah belakang rumah. Kalau sudah begini, ia selalu berharap sekolah dimulai lebih pagi.

 

Lihat selengkapnya