“Kalau Pak Bima masih hidup, Ratna pasti nggak akan sesusah ini.”
“Pak Bima itu lelaki baik. Jarang ada yang seperti dia.”
“Anak-anaknya pasti lebih bahagia kalau bapaknya masih ada.”
Kalimat-kalimat itu terdengar biasa. Seperti pujian. Seperti doa untuk orang mati. Namun bagi Ratna, setiap kalimat adalah pengingat bahwa orang-orang tak pernah benar-benar mengizinkannya hidup setelah kehilangan. Dan bagi Nadira, putri bungsunya, kalimat-kalimat itu adalah dinding tak kasatmata yang membuat keberadaannya terasa salah. Seolah ia lahir dari dosa yang tak pernah dilakukan siapa-siapa.
Ratna baru berusia tiga puluh lima tahun ketika Pak Bima meninggal. Hari itu hujan deras. Langit gelap sejak pagi, dan Ratna sedang menjemur pakaian ketika seorang lelaki datang tergopoh-gopoh ke rumah. Wajahnya pucat. Bajunya basah oleh hujan. Ia berdiri di depan pintu sambil menarik napas panjang, seperti menahan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
“Bu Ratna…”
Ratna menoleh sambil tetap memeras kain.
“Ya?”
Lelaki itu menunduk.
“Pak Bima kecelakaan di proyek.”
Dunia Ratna runtuh dalam satu kalimat.
Ia tak sempat menjerit.
Tubuhnya langsung lemas, kain di tangannya jatuh ke tanah.
“Di… di mana?”
“Rumah sakit.”
Ratna bahkan tak ingat bagaimana ia sampai ke sana. Yang ia ingat hanya lorong putih yang dingin, suara sandal berlari, dan tubuh suaminya yang terbujur diam di balik kain penutup. Pak Bima tak sempat pulang. Tak sempat berpamitan. Tak sempat mengatakan apa-apa. Ratna berdiri lama di samping ranjang itu dengan tiga anak kecil menangis di belakangnya. Selma yang baru berusaia empat belas tahun memeluk kakinya sambil meraung. Intan terus bertanya kenapa Ayah tidur lama sekali. Damar yang masih lima tahun diam membeku, menatap wajah ayahnya seperti menunggu lelaki itu membuka mata.Ratna tak menangis saat itu. Air matanya seperti tertahan di tempat yang terlalu dalam. Ia hanya menatap wajah suaminya sambil merasa sebagian dirinya ikut mati.
Malam itu, setelah pemakaman selesai dan rumah dipenuhi orang-orang yang datang melayat, seorang tetangga menggenggam tangannya.
“Kamu harus kuat, Ratna.”
Ratna mengangguk.
Ia tak tahu bahwa kalimat sederhana itu akan menjadi beban seumur hidup. Karena sejak hari itu, semua orang menuntutnya untuk kuat. Tak ada yang bertanya apakah ia ingin kuat. Tak ada yang bertanya apakah ia sanggup. Ia hanya harus kuat. Dua tahun pertama setelah kepergian Pak Bima adalah tahun-tahun paling panjang dalam hidup Ratna.
Ia bekerja sebagai pelayan toko dari pagi hingga petang. Upahnya kecil, tetapi cukup untuk makan sederhana dan biaya sekolah anak-anak. Rumah peninggalan Pak Bima terasa dingin. Setiap sudut mengingatkannya pada suaminya. Kursi kayu tempat lelaki itu biasa minum kopi. Pohon mangga yang ditanam saat Selma lahir. Cangkir retak favoritnya yang masih disimpan di lemari dapur. Kadang Ratna terbangun tengah malam dan refleks menoleh ke sisi ranjang, berharap melihat sosok yang sudah tak ada. Namun yang ia temui hanya ruang kosong.
Sunyi. Sepi yang menggigit. Ia perempuan muda dengan tiga anak kecil dan luka yang tak sempat sembuh. Tetapi Gang Melati hanya melihat statusnya sebagai janda.
Dan bagi sebagian orang, janda muda adalah ancaman. Ibu-ibu mulai menjaga suami mereka ketika Ratna lewat. Beberapa bisik-bisik terdengar terlalu jelas untuk diabaikan.
“Masih muda.”
“Cantik lagi.”
“Kasihan sih, tapi ya tetap harus jaga diri.”
Ratna menelan semua itu dalam diam. Ia tak punya tenaga untuk melawan.