“Rumah itu milik Pak Bima” Begitu kata semua orang.
Meskipun lelaki itu telah meninggal, seolah-olah kepergiannya tak pernah menghapus haknya atas tempat itu. Di mata warga Gang Melati, siapa pun yang datang setelah Pak Bima hanyalah tamu. Termasuk Faris. Dan pada akhirnya, termasuk juga Nadira anak perempuan yang lahir dari lelaki yang dianggap orang luar itu.
Hari pertama Faris datang, hujan turun sejak siang. Langit gelap. Angin membawa bau tanah basah ke mana-mana. Ratna sedang berjongkok di dapur, mencoba menyalakan kompor minyak yang tiba-tiba macet, ketika terdengar suara ketukan di pintu depan. Ia mengernyit. Tak biasanya ada tamu saat hujan deras.
Ketika pintu dibuka, seorang lelaki berdiri di ambang dengan rambut basah dan kemeja abu-abu yang lengannya digulung sampai siku. Di tangannya ada map plastik biru.
“Maaf mengganggu,” katanya sopan. “Saya Faris. Dulu satu proyek sama Pak Bima.” Ratna terdiam sejenak.
Nama itu tak asing. Pak Bima beberapa kali pernah menyebutnya. Rekan kerja yang lebih muda, pendiam, rajin, dan pandai berhitung.
“Masuk, Pak.”
“Terima kasih.”
Faris melangkah masuk hati-hati, seolah takut meninggalkan jejak yang tak pantas.
Ia menyerahkan map plastik itu.
“Ini beberapa dokumen asuransi proyek. Baru selesai diurus. Harusnya cair bulan depan.”
Ratna menerima map itu dengan tangan sedikit gemetar. Sudah hampir setahun Pak Bima meninggal, tetapi setiap urusan yang menyangkut namanya masih membuat dadanya sesak.
“Terima kasih.”
Faris mengangguk kecil. Ia tak banyak bicara. Hanya duduk sebentar, menolak teh, lalu pamit ketika hujan mulai reda. Ratna mengira itu pertemuan pertama dan terakhir.
Beberapa minggu kemudian, Faris datang lagi. Kali ini membawa teman untuk memperbaiki atap bocor. Lalu datang lagi untuk membantu memperbaiki pompa air. Datang lagi saat Damar sakit dan Ratna kebingungan mencari kendaraan ke puskesmas. Datang lagi ketika listrik rumah padam tengah malam. Ia tak pernah datang dengan cara mencurigakan. Tak pernah menunjukkan sikap berlebihan. Tak pernah berbicara melampaui batas. Ia hanya membantu. Diam-diam.
Konsisten.
Seolah merasa bertanggung jawab pada keluarga sahabatnya yang telah tiada. Ratna yang semula menjaga jarak mulai terbiasa. Anak-anak pun mulai mengenal wajahnya. Damar menyukainya lebih dulu.
Bagi bocah enam tahun itu, Faris adalah orang dewasa yang bisa memperbaiki apa saja. Ia pernah duduk berjam-jam mengawasi Faris membongkar kipas angin rusak, lalu berseru kagum saat benda itu kembali berputar.
“Om hebat.”
Faris hanya tertawa kecil.