Sore itu, seperti biasa, anak-anak remaja di gang berkumpul di depan rumah Bu Rina. Selma dan Intan ada di sana bersama beberapa teman sekolah mereka. Mereka tertawa, berbincang, sesekali saling dorong seperti anak-anak seusia mereka yang sedang menikmati masa remaja.
Nadira yang baru pulang mengaji berjalan pelan melewati mereka sambil menunduk. Ia ingin cepat-cepat masuk rumah. Namun langkahnya terhenti ketika seorang anak perempuan yang belum pernah ia lihat menatapnya.
“Sel, itu adik kamu ya?”
Pertanyaan itu sederhana. Wajar. Polos.
Namun jawaban Selma datang terlalu cepat.
“Bukan.”
Nadira membeku. Anak perempuan itu tampak bingung.
“Lho? Bukannya dia tinggal di rumah kamu?”
Selma mendecak kecil, seolah pertanyaan itu mengganggu.
“Cuma numpang.”
Teman-temannya tertawa kecil. Intan ikut menyeringai.
“Iya. Bukan adik kita.”
Nadira berdiri diam di tempatnya. Tas mengaji di tangannya terasa semakin berat. Dadanya seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat. Ia ingin bergerak, tetapi kakinya seolah menancap di tanah. Anak perempuan tadi meliriknya lagi, kali ini dengan tatapan campur aduk antara bingung dan kasihan.
Nadira menunduk cepat-cepat. Lalu berjalan masuk rumah tanpa menoleh. Ia tak menangis.