Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #1

Awal Kehancuran

Pualam paling dingin sekalipun tidak pernah memelukmu saat kau terjatuh. Tapi di atas lantai tanah yang keras ini, asap dari kuali sederhana tahu caranya menjahit luka yang tidak kelihatan.


Dingin menyusup dari sela dinding anyaman bambu jauh sebelum Aris sempat membuka mata sepenuhnya. Rusuk kirinya berdenyut, tumpul dan menuntut, seolah ada tangan tak kasat mata yang menekan dari dalam dadanya. Ia menahan napas, menunggu denyut itu reda sendiri, cara yang sudah ia hafal luar kepala selama dua tahun terakhir.

Kamarnya tidak besar. Tiga kali tiga meter, cukup untuk ranjang kapuk tipis dan sebuah lemari kayu tua peninggalan entah siapa. Tidak ada karpet tebal yang meredam suara langkah, hanya lantai semen kasar yang selalu terasa seperti lempengan es di bawah telapak kaki telanjang. Kasurnya keras, menekan tulang punggung setiap kali ia berbaring terlalu lama pada satu sisi, mengingatkannya pada memori yang selalu ia coba tinggalkan di ambang tidur. Malam ini angin membawa aroma minyak tanah dari lampu di ruang tengah, bercampur wangi kayu jati basah yang menyeruak lewat celah jendela yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat.

Di luar, suara jangkrik bersahutan tanpa henti, kadang timbul tenggelam mengikuti embusan angin yang menggoyangkan daun pisang di halaman samping. Sesekali terdengar kokok ayam yang salah waktu, disusul gonggongan anjing tetangga yang menjawabnya sekali lalu diam lagi.

Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara radio tua tetangga yang memutar lagu dangdut lawas, iramanya patah-patah karena baterainya mulai lemah. Suara itu, betapapun sederhananya, entah kenapa terasa menenangkan bagi Aris, semacam bukti bahwa dunia di luar sana masih berjalan normal, masih ada orang-orang yang menjalani hidup mereka tanpa dibebani bayang-bayang masa lalu seberat yang ia pikul.

Aris memejamkan mata lebih kuat, berusaha mengusir kilasan yang selalu datang bersama hawa dingin: silau lampu depan sebuah kendaraan yang membutakan, decit ban di atas aspal basah, bau karat darah yang tajam dan amis di ujung lidah. Malam itu sudah dua tahun berlalu. Tubuhnya, bagaimanapun, punya ingatan sendiri yang tidak peduli seberapa keras ia berusaha melupakannya. Dingin selalu jadi pemicu paling setia, datang tanpa diundang setiap kali suhu turun tajam menjelang subuh.

"Ris, ayo makan," suara Ibu dari ruang tengah membelah lamunannya, lembut tapi cukup tegas untuk menariknya kembali ke masa kini.

Sebelum benar-benar bangkit, Aris menyempatkan diri meraba rusuk kirinya sekali lagi, memastikan denyutnya benar-benar reda, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap pagi sejak dua tahun terakhir, semacam ritual pribadi untuk mengukur seberapa baik tubuhnya bisa diajak bekerja sama hari itu. Ia lalu meraih kemeja lusuh yang tergantung di paku dinding, menciumnya sekilas, memastikan masih layak pakai satu hari lagi sebelum dicuci, kebiasaan yang tidak pernah ia lakukan di kehidupan lamanya, tempat baju bersih selalu tersedia tanpa perlu dipikirkan sama sekali.

Aris bangkit perlahan, menunggu sampai denyut di rusuknya benar-benar reda sebelum berdiri tegak. Saat ia melangkah keluar dari kamar, wangi bawang goreng dan tempe yang baru diangkat dari wajan langsung menyambutnya, mengalahkan bau minyak tanah yang tadi memenuhi kamarnya. Di ruang tengah, di bawah cahaya bohlam lima watt yang agak kekuningan, Ayah dan Ibu sudah menunggunya di meja makan.

Meja itu terbuat dari kayu sisa potongan, permukaannya kasar dan tidak rata di beberapa titik. Salah satu kakinya harus diganjal lipatan koran tebal agar tidak bergoyang setiap kali seseorang menyandarkan siku terlalu keras. Di atas meja itu, hidangan malam ini jauh dari kata mewah: sepiring nasi putih yang masih mengepul, sambal bawang, sayur lodeh yang sudah dihangatkan dua kali, dan tiga potong tempe goreng yang renyah di pinggirnya.

"Makan yang banyak, Nak. Hari ini Bapak gajian," ujar Ayah sambil tersenyum hangat, meski matanya tampak lelah. Gurat-gurat kasar dan keriput di wajah tuanya makin jelas terlihat di bawah cahaya lampu yang temaram. Tangan Ayah, saat menyendok nasi ke piringnya sendiri, bergetar tipis, bekas memegang gergaji dan pahat sejak subuh.

Aris menarik kursi plastik merahnya, duduk, lalu bertanya sambil mengambil sendok, "Juragan Karta bayar penuh pesanan kursi yang kemarin, Yah?"

Ibu menukar pandang dengan Ayah sejenak. Senyum Ayah sedikit memudar. Ia menunduk, mengaduk nasinya pelan-pelan tanpa benar-benar menyendoknya, seolah tangannya butuh sesuatu untuk sibuk sementara mulutnya mencari kata yang tepat. "Ya... tidak penuh, Ris. Juragan bilang, ukirannya kurang dalam. Katanya pembeli di kota sekarang suka model yang minimalis, bukan yang banyak ukirannya. Jadi, harganya dipotong tiga puluh persen."

Tangan Aris yang baru saja hendak menyendok nasi terhenti di udara. Dadanya mendadak terasa sesak, bukan karena ia membenci makanan di depannya, melainkan karena rasa tidak adil yang membakar tenggorokannya. Ia tahu persis bagaimana Ayah menghabiskan dua minggu penuh, dari pagi hingga larut malam, hanya untuk menyelesaikan ukiran rumit pada enam kursi makan pesanan Juragan Karta. Jemari Ayah sampai kapalan, beberapa kali terluka terkena pahat, hanya untuk dihargai sedemikian murah oleh tengkulak yang bahkan tidak pernah menyentuh gergaji seumur hidupnya.

"Tiga puluh persen?" Aris mengulangi, suaranya sedikit meninggi. "Itu perampokan, Yah. Harga kayu jati sekarang saja sudah naik. Kalau dipotong tiga puluh persen, untung Bapak cuma cukup buat beli beras minggu ini."

Ayah tertawa pelan, mencoba menenangkan. Tangan besarnya yang kasar dan penuh bekas luka goresan kayu menepuk bahu Aris. "Tidak apa-apa, Ris. Rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting kita masih bisa makan sama-sama malam ini. Ya kan, Bu?"

Lihat selengkapnya