Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #2

Pensil Dua Ribu Rupiah

Ujung pensil ini bisa saja patah di tangan yang gemetar. Tapi dari sebuah goresan yang jujur, kita menggambar ulang nasib yang dulu pernah dirobek paksa.


Pagi itu embun masih menggantung di ujung daun pisang, menetes pelan setiap kali angin lewat menggoyangkannya. Jalan setapak Desa Karangjati terasa lembap di bawah sepatu kain tipis Aris, sesekali berdecit pelan saat menggilas kerikil yang tersebar di sepanjang jalan. Matahari baru separuh naik, cahayanya masih lunak, memantul keemasan di genangan air sisa hujan semalam. Seekor ayam jantan berkokok terlambat dari halaman rumah tetangga, disusul suara ibu-ibu yang saling bersahutan menawar sayur dari gerobak dorong yang lewat.

Di kantong celananya, Aris menggenggam erat dua lembar uang lecek, satu sepuluh ribu, satu lima ribu. Uang itu upah mengangkut kayu bakar milik Pak Slamet, tetangga dua rumah dari bengkel Ayah, dua hari lalu. Ia mengangkut belasan ikat kayu dari halaman belakang ke dapur, bolak-balik sampai bahunya pegal dan telapak tangannya memerah karena gesekan tali rafia. Dulu, lima belas ribu rupiah bahkan tidak cukup untuk membeli sebotol air mineral di restoran langganan keluarganya. Sekarang, uang itu terasa begitu berat dan berharga di genggamannya, seolah setiap lembarnya menyimpan bukti bahwa ia bisa berdiri sendiri tanpa nama besar di belakangnya.

Tujuannya adalah warung kelontong Pak No di ujung pertigaan, satu-satunya toko yang buka sepagi ini di desa mereka. Bau bawang putih goreng dan sabun cuci batangan menguar dari dalam warung yang sempit, bercampur aroma minyak tanah dari lampu tempel yang masih menyala meski hari sudah cukup terang.

"Cari apa, Ris? Tumben pagi-pagi sudah ke sini," sapa Pak No, tangannya sibuk menata botol kecap di etalase berdebu.

"Ada buku gambar kosong sama pensil 2B, Pak No?"

Pak No mengernyit sejenak, lalu membungkuk menggeledah laci meja kayu di sudut warung. "Buku gambar anak sekolah adanya, Ris. Pensilnya ini, sekalian silet buat merautnya, ya? Totalnya tiga belas ribu."

Aris menerima buku tipis bersampul gambar kartun itu dan sebatang pensil kayu murah. Ia menyerahkan uangnya, menerima kembalian dua ribu rupiah, lalu memasukkannya kembali ke kantong dengan gerakan yang lebih pelan dari seharusnya, seolah ada bagian dari dirinya yang ingin memastikan uang itu benar-benar aman di sana. Ada kepuasan kecil yang membuncah di dadanya, jenis kepuasan yang tidak pernah ia rasakan dulu setiap kali kartu kredit keluarganya digesek tanpa pernah sekali pun melihat angka totalnya.

"Mau bikin apa, Ris? Belajar gambar?" tanya Pak No sambil menyusun kembali botol kecap yang sempat tergeser.

"Coba-coba saja, Pak."

Pak No tertawa kecil. "Bagus itu. Anak muda sekarang jarang yang mau pegang pensil, maunya pegang ponsel terus dari bangun sampai tidur."

Setibanya di rumah, bunyi gergaji Ayah yang ritmis langsung menyambutnya dari halaman belakang. Sreeek... sreeek... serutan kayu jati beterbangan seperti salju kecokelatan tertimpa cahaya pagi.

Aris mengambil tempat di sudut bengkel, duduk di atas potongan kayu log yang cukup besar untuk menopang berat badannya. Ia membuka silet pembungkus, lalu mulai meraut pensil kayunya perlahan, hati-hati agar tidak terlalu banyak yang terbuang percuma. Ia sengaja membuat ujung grafitnya berbentuk pipih lebar, bukan runcing seperti pensil ujian sekolah pada umumnya. Ini teknik rautan para perancang meja gambar, teknik yang diajarkan oleh Pak Harun, satu-satunya guru desain yang pernah memercayai bakatnya dulu, sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya. Pak Harun pernah bilang, sudut miring dari ujung pensil yang lebar bisa menghasilkan bayangan dan gradasi yang tidak mungkin dicapai pensil runcing biasa. Aris tidak tahu di mana Pak Harun sekarang, apakah masih mengajar, apakah masih ingat pada muridnya yang menghilang begitu saja setelah malam nahas itu.

Namun, begitu ujung pensil menyentuh lembar pertama kertas yang kasar, jemari Aris mendadak kaku.

Sebuah getaran halus menjalar dari pergelangan tangan hingga ke rusuk kirinya. Otot-ototnya seolah mengeras, menolak perintah dari otaknya. Ini bukan sekadar rasa canggung setelah lama tidak menggambar. Ini trauma fisik yang nyata, sisa dari malam mengerikan saat lengannya terjepit di antara roda kemudi yang hancur. Napas Aris mendadak memburu, pendek-pendek dan tidak teratur. Ia memejamkan mata, mencium aroma pekat serbuk kayu jati di sekelilingnya, mencoba menjangkarkan kesadarannya kembali ke bumi, ke bengkel ini, ke pagi ini.

Tenang, Ris. Kau tidak di jalan itu lagi. Kau aman di sini.

Lihat selengkapnya