Ujung pensil ini mungkin patah oleh tangan yang gemetar. Tetapi dari luka lecet di telapak tangan, kita menggambar ulang nasib yang dulu pernah dirobek.
Pagi itu, sisa embun masih menggantung di pucuk daun pisang, tetapi jalan setapak desa sudah terasa hangat oleh langkah tergesa Aris. Sepatu kainnya yang tipis berdecit pelan setiap kali menggilas kerikil tajam.
Tujuannya adalah warung kelontong Pak No di ujung pertigaan. Di kantong celananya, Aris menggenggam erat dua lembar uang lecek, satu sepuluh ribu dan satu lima ribu. Uang itu adalah upah mengangkut kayu bakar milik tetangga dua hari lalu. Dulu, uang lima belas ribu rupiah bahkan tidak cukup untuk membeli sebotol air mineral di restoran langganannya. Kini, uang itu terasa begitu berat dan berharga di genggamannya.
"Cari apa, Ris? Tumben pagi-pagi sudah ke sini," sapa Pak No, tangannya sibuk menata botol kecap di etalase yang berdebu. Bau bawang putih goreng dan sabun cuci batangan menguar dari dalam warung yang sempit.
"Ada buku gambar kosong dan pensil 2B, Pak No?" tanya Aris. Suaranya agak serak, tenggorokannya terasa kering karena udara pagi yang dingin.
Pak No mengernyit sejenak, lalu membungkuk untuk menggeledah laci meja kayu di sudut warung. "Buku gambar anak sekolahan adanya, Ris. Pensilnya ini, sekalian silet buat merautnya ya? Totalnya tiga belas ribu."
Aris menerima buku tipis bersampul gambar kartun itu dan sebatang pensil kayu murah. Sisa kembalian dua ribu rupiah ia masukkan kembali ke kantong dengan perasaan lega yang aneh. Ada kepuasan kecil yang membuncah di dadanya, perasaan memiliki sesuatu yang benar-benar ia beli dari keringatnya sendiri.
Setibanya di rumah, bunyi gergaji Ayah yang ritmis langsung menyambutnya dari halaman belakang. Sreeek... sreeek... serutan kayu jati beterbangan seperti salju kecokelatan di udara pagi.
Aris mengambil tempat di sudut bengkel, duduk di atas potongan kayu log yang cukup besar. Ia membuka silet pembungkus, lalu mulai meraut pensil kayunya perlahan. Ia sengaja membuat ujung grafitnya berbentuk pipih lebar, bukan runcing seperti pensil ujian sekolah. Ini adalah teknik rautan para perancang meja gambar, teknik yang diajarkan oleh Pak Harun, satu-satunya guru desain yang memercayai bakatnya dulu sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya.
Namun, begitu ujung pensil menyentuh lembar pertama kertas yang kasar, jemari Aris mendadak kaku.
Sebuah getaran halus menjalar dari pergelangan tangan hingga ke rusuk kirinya. Otot-ototnya seolah mengeras, menolak perintah dari otaknya. Itu adalah trauma fisik yang nyata, sisa dari malam mengerikan saat lengannya terjepit di antara roda kemudi yang hancur. Napas Aris mendadak memburu. Ia memejamkan mata, mencium aroma pekat serbuk kayu jati di sekelilingnya untuk menjangkarkan kesadarannya kembali ke bumi.
Tenang, Ris. Kau tidak di jalan itu lagi. Kau aman di sini, bisik jiwanya.
Aris menarik napas panjang, lalu mulai menggoreskan garis pertama. Kali ini, tangannya bergerak lebih pasti. Ia tidak sedang menggambar kemewahan yang rumit. Ia menggambar sebuah kursi fungsional. Garis sandaran punggungnya ia buat melengkung lembut, membentuk sudut kemiringan yang pas untuk menyangga tubuh manusia yang lelah setelah seharian bekerja di sawah. Tidak ada ukiran bunga atau ulir emas yang biasa disukai Juragan Karta. Desain ini murni tentang kenyamanan yang jujur.
"Bagus sekali gambarmu, Ris," suara bariton Ayah yang hangat tiba-tiba memecah keheningan.