Keringat adalah pelumas paling jujur bagi kayu yang keras. Setiap ayunan palu dan debu gergaji yang jatuh ke lantai adalah doa yang kita rapalkan tanpa suara.
Malam itu, makan malam di rumah keluarga Aris terasa hambar. Sayur lodeh buatan Ibu yang biasanya menjadi penawar lelah, kini meluncur di tenggorokan seperti air dingin yang tawar. Di luar jendela, suara jangkrik bersahutan keras, seolah mengejek keheningan pekat yang menggantung di bawah cahaya lampu lima watt ruang makan mereka.
"Sepuluh kursi dalam lima hari," gumam Ayah. Pandangannya kosong menatap piring seng di depannya. Tangan tuanya yang penuh kapalan saling meremas pelan. "Mengerjakan satu saja butuh waktu dua hari, itu pun kalau ingin potongannya halus. Lima hari... itu mustahil, Ris."
Ibu menghela napas panjang. Tangannya terulur mengusap punggung Ayah dengan lembut. "Kalau memang tidak sanggup, kita kembalikan saja uang muka dari Juragan Karta, Pak. Toh, kita tidak memintanya untuk mempercepat pesanan."
"Kalau uang mukanya dikembalikan, kita harus bayar ganti rugi dua kali lipat, Bu. Itu peraturannya Juragan Karta kalau pembatalan dari pihak kita," jawab Ayah, suaranya parau oleh keputusasaan. "Uang dari mana? Sawah sepetak di belakang saja sudah kita gadaikan tahun lalu."
Aris meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap wajah keriput Ayah dan sorot mata cemas Ibu secara bergantian. Dada Aris terasa sesak, seolah ada bongkahan batu yang menindih paru-parunya. Ia tidak akan membiarkan orang tua yang telah menyelamatkan nyawanya ini hancur hanya karena tengkulak serakah.
"Kita tidak akan membatalkannya, Yah," ucap Aris memecah keheningan. Nadanya tenang, namun tegas.
Ayah menatap Aris dengan alis bertaut. "Ris, kamu belum pernah bekerja lembur di bengkel. Mengerjakan sambungan miring di desain barumu itu butuh ketelitian. Salah potong sedikit, kayu terbuang."
"Aris tahu, Yah," Aris memajukan duduknya, menumpukan sikunya di atas meja. Ingatannya berputar ke masa lalu, pada pelajaran manajemen efisiensi pabrik yang dulu sangat ia benci. "Selama ini Bapak mengerjakan satu kursi dari awal sampai akhir, baru mulai kursi kedua. Mulai besok, kita ubah caranya."
Aris mengambil sumpit kayunya, menyejajarkannya di atas meja sebagai alat peraga. "Kita buat dengan cara berantai. Bapak fokus mengukur dan memotong semua kayu yang kita punya sekaligus. Potong semua kaki kursi, lalu semua sandaran. Jangan dirakit dulu. Setelah semua bagian terpotong, Aris yang akan menyatukan semuanya dan mengamplasnya. Gerakan kita akan jauh lebih cepat karena kita mengulang hal yang sama, tidak gonta-ganti alat."
Ayah terdiam. Matanya menatap susunan sumpit di atas meja, mencerna ide yang tak pernah terpikirkan oleh perajin tradisional sepertinya. Cara itu terdengar sangat melelahkan, namun masuk akal.
"Kita mulai besok sebelum subuh, Yah," putus Aris, tidak memberikan ruang untuk keraguan.