Keringat adalah pelumas paling jujur bagi kayu yang keras. Setiap ayunan palu dan debu gergaji yang jatuhke lantai adalah doa yang kita ucapkan tanpa suara.
Malam itu,makan malam di rumah keluarga Aris terasa hambar. Sayur lodeh buatan ibu, yang biasanya menjadi penawar lelah setelah seharian bekerja, kini meluncur di tenggorokan seperti air dingin yang tawar tanpa rasa. Di luar jendela, jangkrik bersahutan keras, seolah sengaja mengejek keheningan yang menggantung tebal di bawah cahaya lampu lima watt ruang makan mereka. Sesekali terdengar suara kodok dari sawah belakang rumah, bersahutan dengan angin yang menggesek dedaunan pisang di halaman.
"Sepuluh kursi dalam lima hari," gumam Ayah. Pandangannya kosong menatap piring seng di depannya yang nasinya nyaris tidak tersentuh. Tangan tuanya yang penuh kapalan saling meremas pelan di atas meja, gestur yang selalu muncul setiap kali pikirannya berkecamuk. "Mengerjakan satu kursi saja butuh waktu dua hari, itu pun kalau ingin potongannya halus dan sambungannya rapi. Lima hari untuk sepuluh kursi, itu mustahil, Ris."
Ibu menghela napas panjang. Tangannya terulur mengusap punggung Ayah dengan lembut, gerakan yang sudah ia lakukan entah berapa ribu kali sepanjang tiga puluh tahun pernikahan mereka. "Kalau memang tidak sanggup, kita kembalikan saja uang muka dari Juragan Karta, Pak. Toh kita tidak pernah memintanya untuk mempercepat pesanan seperti ini."
"Kalau uang mukanya dikembalikan, kita harus bayar ganti rugi dua kali lipat, Bu. Itu peraturan Juragan Karta kalau pembatalan datang dari pihak kita," jawab Ayah, suaranya parau oleh keputusasaan yang sudah sulit disembunyikan lagi. "Uang dari mana? Sawah sepetak di belakang saja sudah kita gadaikan tahun lalu untuk biaya berobat Bapak waktu sakit tipes. Bapak tidak mau menggadaikan apa pun lagi."
Aris meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap wajah keriput Ayah dan sorot mata cemas Ibu secara bergantian. Dadanya terasa sesak, seolah ada bongkahan batu yang menindih paru-parunya. Ia tidak akan membiarkan orang tua yang telah menyelamatkan nyawanya ini hancur hanya karena tengkulak serakah yang bahkan tidak pernah repot mengangkat gergaji sendiri seumur hidupnya.
"Kita tidak akan membatalkannya, Yah," ucap Aris memecah keheningan. Nadanya tenang, tapi tegas, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.
Ayah menatap Aris dengan alis bertaut. "Ris, kamu belum pernah kerja lembur di bengkel seperti Bapak. Mengerjakan sambungan miring untuk desain barumu itu butuh ketelitian tinggi. Salah potong sedikit saja, kayunya terbuang percuma, dan kita tidak punya cukup kayu untuk membuang-buang."
"Aris tahu, Yah." Aris memajukan duduknya, menumpukan sikunya di atas meja. Ingatannya berputar ke masa lalu, ke ruang kelas manajemen operasi yang dulu ia benci karena terasa dingin dan penuh angka tanpa wajah manusia di baliknya. Aneh rasanya, pelajaran yang dulu terasa hampa itu kini bisa berguna untuk sesuatu yang begitu berarti baginya. "Selama ini Bapak mengerjakan satu kursi dari awal sampai akhir, baru mulai kursi kedua. Mulai besok, kita ubah caranya."
Aris mengambil tiga batang sumpit kayu dari tempatnya di atas meja, menyejajarkannya sebagai alat peraga. "Kita kerjakan dengan cara berantai. Bapak fokus mengukur dan memotong semua kayu yang kita punya sekaligus, satu jenis potongan dulu sampai habis, baru pindah ke potongan berikutnya. Potong semua kaki kursi dulu, lalu semua sandaran, lalu semua dudukan. Jangan langsung dirakit satu per satu. Setelah semua bagian terpotong, Aris yang akan menyatukan semuanya dan mengamplasnya. Gerakan kita akan jauh lebih cepat karena kita mengulang gerakan yang sama terus-menerus, tidak gonta-ganti alat setiap beberapa menit seperti biasanya."
Ayah terdiam cukup lama. Matanya menatap susunan sumpit di atas meja, mencerna sebuah ide yang tak pernah terpikirkan oleh perajin tradisional sepertinya, yang sejak muda selalu diajarkan menyelesaikan satu barang sampai tuntas sebelum menyentuh yang lain. Cara baru itu terdengar sangat melelahkan, tapi juga masuk akal jika dipikirkan lebih dalam.
"Dari mana kamu tahu cara seperti ini, Ris?" tanya Ibu pelan, matanya menyelidik tapi tidak memaksa, seperti biasa saat menyentuh bagian masa lalu Aris yang tidak pernah ia jelaskan penuh.
Aris tertegun sejenak, sendoknya berhenti di udara. "Aris pernah baca-baca, Bu. Dulu, sebelum di sini."
Ibu tidak mendesak lebih jauh. Ia hanya mengangguk, membiarkan Aris menyimpan bagian dari dirinya yang belum siap ia ceritakan, seperti yang selalu ia lakukan sejak dua tahun lalu.
"Kalau begitu, kita coba caramu, Ris," kata Ayah akhirnya, suaranya sedikit lebih ringan dari sebelumnya, seolah beban di pundaknya baru saja dibagi separuh. "Tapi kalau ternyata tidak berhasil dalam dua hari, kita harus siap terima kenyataan dan bayar denda apa pun risikonya."