Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #4

Logo di Atas Kemacetan

Harga sebuah karya tidak diukur dari seberapa keras mulut menawar. Serat jati selalu tahu siapa yang memotongnya dengan hormat, dan siapa yang memandangnya dengan serakah.


Udara pusat kabupaten menyambut Aris dengan tamparan hawa panas begitu ia melangkah turun dari bus antardesa. Bau pekat asap solar dan aspal yang meleleh terpanggang matahari langsung membakar rongga hidungnya, jauh berbeda dari udara desa yang selalu diwarnai aroma tanah basah dan dedaunan segar sehabis hujan semalam. Di sini, udara terasa kering dan berkarat, seolah setiap tarikan napas harus dibayar dengan sedikit rasa perih di tenggorokan.

Terminal itu jauh lebih ramai daripada bayangan Aris. Puluhan bus antarkota berjajar rapat, knalpotnya menyembur asap hitam setiap kali sopir memanaskan mesin. Pedagang asongan berteriak menjajakan air mineral dan kacang rebus, menyelip lincah di antara penumpang yang turun naik membawa karung dan kardus. Suara pengumuman dari pengeras suara terminal terdengar pecah dan tidak jelas, bersaing dengan klakson angkot yang berebut penumpang di depan pintu keluar. Aris berdiri sejenak di tengah kekacauan itu, seperti orang asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, meski sebenarnya dulu tempat semacam ini adalah bagian kecil, tidak penting, dari dunianya yang lama, yang dulu selalu bergerak jauh lebih cepat dan jauh lebih mewah dari ini.

Aris menunduk, menarik kerah kemeja flanel lusuhnya lebih tinggi menutupi sebagian wajah, kebiasaan yang sudah otomatis ia lakukan setiap kali berada di tempat ramai sejak dua tahun terakhir. Ia berjalan setengah menunduk menyusuri trotoar retak menuju kawasan Tempat Pelelangan Kayu yang letaknya tidak jauh dari terminal, mengikuti arah yang sudah ia tanyakan pada kondektur bus sebelum turun. Suara bising gergaji mesin industri menderu dari dalam gudang-gudang besar di sepanjang jalan itu, menggetarkan gendang telinganya dengan frekuensi yang jauh lebih tinggi dan tajam dibanding bunyi gergaji tangan Ayah yang ritmis dan tenang di belakang rumah.

Trotoar di sekitar kawasan pertokoan itu ramai oleh pejalan kaki yang bergerak cepat, masing-masing sibuk dengan urusan sendiri tanpa saling menoleh. Pedagang kaki lima berteriak menjajakan dagangan mereka dari balik gerobak yang berjejer, aroma gorengan minyak bekas bercampur asap knalpot menciptakan bau khas kota yang tidak pernah benar-benar Aris rindukan selama dua tahun ini. Suara klakson bersahutan dari segala arah, jauh berbeda dari suara ayam berkokok yang biasa membangunkannya di Karangjati setiap subuh.

Transaksi di gudang ketiga berjalan cukup cepat begitu Aris menjelaskan kebutuhannya kepada pemilik gudang, seorang pria tambun berkaus oblong yang tampaknya sudah terbiasa melayani pembeli dari desa-desa sekitar kabupaten. "Sepuluh balok ukuran sedang, ya, Dik? Kayu jati muda apa tua?"

"Muda saja, Pak, yang penting kuat buat kaki kursi makan."

Pria itu mengangguk, memerintahkan dua pekerjanya mengangkut balok-balok kayu ke sudut gudang tempat Aris bisa memeriksanya lebih dekat. Aris menyentuh permukaan setiap balok satu per satu, memeriksa serat dan kelembapannya seperti yang diajarkan Ayah, mengetuk beberapa bagian dengan buku jarinya untuk memastikan tidak ada rongga di dalam, persis kejadian yang baru saja menghancurkan rencana mereka tiga hari terakhir. Pemilik gudang memperhatikannya dengan alis terangkat.

"Kamu tahu cara periksa kayu juga rupanya," katanya, nada suaranya campuran heran dan sedikit terhibur. "Biasanya anak muda seumuranmu cuma asal pilih yang kelihatan bagus dari luar, nanti komplain waktu sampai rumah kayunya keropos."

"Diajari bapak saya, Pak," jawab Aris singkat, tidak ingin memperpanjang percakapan lebih dari perlu.

"Boleh diborong semuanya, Dik. Harganya sudah pas segitu, tidak bisa kurang lagi, sudah harga langganan," kata pemilik gudang saat Aris mencoba menawar sedikit demi menghemat sisa uang untuk ongkos pulang.

Aris tidak berniat berlama-lama berdebat, mengingat waktu yang terbatas dan kekhawatirannya sendiri untuk terlalu lama berada di kota. Uang di sakunya, hasil tabungan Ibu ditambah sisa uang muka yang mereka simpan hati-hati, terkuras habis untuk sepuluh balok jati berukuran sedang itu, hanya menyisakan pecahan ribuan untuk ongkos bus pulang.

"Langsung ke terminal, Mas?" tanya bapak tua pemilik gerobak dorong sewaan yang biasa mangkal di depan gudang, membantu mengangkut barang belanjaan pembeli dengan upah seadanya. Keringat membasahi kaus partai kasarnya yang sudah pudar warnanya karena terlalu sering dicuci dan dijemur di bawah terik matahari.

Aris hanya mengangguk pendek. Tangannya bertumpu pada susunan balok kayu di atas gerobak saat mereka mulai berjalan menyusuri bahu jalan yang padat kendaraan menuju arah terminal. Permukaan kayu jati yang belum diamplas itu terasa kasar, menggores tipis telapak tangannya yang masih berbalut sisa lepuhan dari kerja tiga hari terakhir. Namun rasa kasar itu justru menahannya tetap berpijak di bumi, mengingatkan siapa dirinya sekarang. Selama ia memegang kayu ini, ia adalah Aris anak tukang kayu dari Karangjati, bukan pewaris yang dibuang oleh keluarganya sendiri di ranjang rumah sakit dua tahun lalu.

Lihat selengkapnya