Jalanan menuntut bayarannya sendiri. Ada luka yang harus jatuh membentur aspal agar kita tahu seberapa jauh kaki ini bersedia melangkah demi melindungi keluarga.
Tubuh Aris menggigil hebat di atas kasur kapuknya.
Dunia di sekitarnya terasa berputar. Ia bisa merasakan kemeja flanelnya basah kuyup oleh keringat dingin, namun kulitnya terasa seperti dipanggang matahari siang. Suara dengung kipas angin di sudut kamar terdengar aneh; kadang pelan dan menyiksa, kadang melesat cepat seperti desing mesin pemotong kayu yang memekakkan telinga.
"Ris... minum dulu, Nak. Sedikit saja," suara Ibu terdengar sayup-sayup, seolah datang dari balik dinding yang tebal.
Sebuah gelas seng menyentuh bibirnya yang pecah-pecah. Air hangat mengalir masuk ke tenggorokannya yang kering. Namun, saat Aris mencoba menelan, rasa hangat itu mendadak berubah menjadi hawa dingin yang menusuk tulang.
Bukan hawa dingin angin malam desa. Itu adalah hawa dingin dari embusan pendingin udara mobil sedan mewah yang melaju membelah badai dua tahun lalu.
Malam itu hitam legam, berkilat karena guyuran hujan lebat. Aris menekan pedal gas tanpa ragu. Telapak tangannya yang berkeringat sesekali tergelincir dari balutan kulit setir kemudi, memaksanya menahan napas setiap kali mobil sedikit oleng di jalanan aspal yang basah. Di kursi penumpang sebelah kiri, sebuah tas kulit hitam tergeletak. Di dalamnya ada draf desain terakhir yang baru saja ia kerjakan bersama Pak Harun, guru yang mengajarinya bahwa sebuah desain harus memiliki jiwa.
"Kau di mana?" Suara dari pelantang telepon di dasbor mobil memecah kesunyian, menenggelamkan suara rintik hujan di kaca depan. Itu suara Tuan Wiratama. Berat, datar, dan tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.
"Aris sedang di jalan, Yah. Aris baru saja pamit dari rumah Pak Harun," jawab Aris. Rahangnya mengeras, matanya fokus menembus lebatnya hujan di jalanan hutan yang gelap.
"Jangan membuang waktumu dengan orang tua itu. Desain tidak akan pernah menaikkan harga saham kita. Besok jam sembilan pagi, kau harus mendampingi Ayah bertemu direksi dari Singapura. Menuju bandara sekarang."
"Tapi, Yah, proyek galeri ini—"
"Cukup, Aris. Kau penerus Wiratama. Kau tidak punya pilihan."
Sambungan terputus seketika. Bunyi klik dari telepon terdengar seperti vonis hukuman mati atas mimpinya. Aris berteriak frustrasi. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, membiarkan mobilnya melesat berbahaya melintasi tikungan basah.
Lalu, segalanya terjadi begitu cepat.