Jalanan menuntut bayarannya sendiri. Ada luka yang harus jatuh membentur aspal sebelum kita benar-benar tahu seberapa jauh kaki ini bersedia melangkah demi orang-orang yang kita sayangi.
Tubuh Aris menggigil hebat di atas kasur kapuknya, dua hari setelah ia pulang membawa kayu dari kabupaten. Demam itu datang perlahan sejak sore, dimulai dari rasa dingin di ujung jari yang tidak mau hilang meski ia sudah menyelimuti diri berlapis-lapis, lalu merambat naik ke seluruh tubuhnya seperti air yang menggenangi ruangan tanpa bisa dibendung.
Dunia di sekitarnya terasa berputar pelan, seperti berada di dalam gelas yang terus-menerus diputar oleh tangan tak terlihat. Ia bisa merasakan kemeja tidurnya basah kuyup oleh keringat dingin, meski kulitnya sendiri terasa seperti dipanggang di bawah terik matahari siang yang sebenarnya tidak ada di kamar sempit ini. Suara dengung kipas angin di sudut kamar terdengar aneh di telinganya, kadang pelan dan menyiksa, kadang melesat cepat seperti desing mesin yang tidak pernah benar-benar ia kenal tapi entah kenapa terasa sangat familier, seolah tubuhnya menyimpan ingatan tentang suara itu jauh lebih lama dari yang bisa ia sadari.
"Ris, minum dulu, Nak. Sedikit saja," suara Ibu terdengar sayup-sayup, seolah datang dari balik dinding yang sangat tebal, meski Aris tahu Ibu pasti duduk tepat di sampingnya sejak entah kapan.
Sebuah gelas seng menyentuh bibirnya yang pecah-pecah karena demam. Air hangat mengalir masuk ke tenggorokannya yang kering dan perih. Namun, saat Aris mencoba menelan, rasa hangat itu mendadak berubah menjadi hawa dingin yang menusuk tulang, seolah air itu berubah wujud tepat di tenggorokannya sendiri.
Bukan hawa dingin angin malam desa yang biasa ia rasakan setiap malam di kamar ini. Ini hawa dingin dari embusan pendingin udara mobil sedan mewah yang melaju membelah badai, dua tahun lalu, malam yang mengubah segalanya.
Malam itu hitam legam, berkilat karena guyuran hujan lebat yang tidak henti sejak sore. Aris menekan pedal gas tanpa ragu, jalan hutan yang biasa ia lalui pulang dari rumah gurunya sudah begitu ia hafal di luar kepala, meski hujan membuat jarak pandang jauh lebih pendek dari biasanya, mengubah setiap tikungan menjadi tebakan. Telapak tangannya yang berkeringat sesekali tergelincir dari balutan kulit setir kemudi, memaksanya menahan napas setiap kali mobil sedikit oleng di jalanan aspal yang basah dan licin. Wiper kaca depan bergerak cepat, tapi tetap kalah dengan derasnya hujan yang menghantam kaca seperti ribuan jari kecil yang mengetuk minta masuk.
Di kursi penumpang sebelah kiri, sebuah tas kulit hitam tergeletak, isinya draf desain terakhir yang baru saja ia kerjakan bersama Pak Harun sore itu, guru yang selalu mengatakan bahwa sebuah desain harus memiliki jiwa, bukan sekadar bentuk yang indah dipandang mata.
Ponsel di dasbor mobil bergetar, layarnya menyala menampilkan sebuah nama yang membuat perut Aris langsung mengerut tanpa perlu ia lihat lebih jelas: Bambang Wiratama.
"Kau di mana?" Suara dari pelantang telepon di dasbor memecah kesunyian, menenggelamkan suara rintik hujan yang menghantam kaca depan. Berat, datar, tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar.
"Aris sedang di jalan, Yah. Aris baru saja pamit dari rumah Pak Harun," jawab Aris. Rahangnya mengeras, matanya fokus menembus lebatnya hujan di jalanan hutan yang gelap, satu tangan mencengkeram setir lebih erat dari sebelumnya.
"Jangan membuang waktumu dengan orang tua itu. Desain tidak akan pernah menaikkan harga saham kita satu rupiah pun. Besok jam sembilan pagi, kau harus mendampingi Ayah bertemu direksi dari Singapura. Menuju bandara sekarang juga, batalkan apa pun rencanamu malam ini."
"Tapi, Yah, proyek galeri ini sudah dua bulan Aris siapkan bersama Pak Harun." Aris mencoba menjelaskan, suaranya sedikit meninggi menahan kekesalan yang selama ini selalu ia telan sendiri.
"Cukup, Aris." Suara Bambang memotong tanpa memberi ruang sama sekali untuk kalimat itu diselesaikan. "Kau penerus Wiratama. Kau tidak punya pilihan untuk memilih hobi di atas kewajiban keluarga."
Sambungan terputus seketika, tanpa salam penutup, tanpa kesempatan Aris menjawab apa pun. Bunyi klik dari telepon terdengar seperti vonis hukuman mati atas mimpinya yang baru saja mulai berbentuk nyata setelah bertahun-tahun hanya ada di kepala. Aris berteriak frustrasi di dalam mobil yang kosong, suaranya tenggelam oleh derap hujan di atap mobil. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, membiarkan mobilnya melesat berbahaya melintasi tikungan yang basah, pikirannya terlalu penuh amarah untuk memperhitungkan risiko yang sedang ia ambil.
Lalu, segalanya terjadi begitu cepat, seperti film yang diputar dengan kecepatan yang salah, terlalu cepat untuk diproses otaknya sendiri.
Dari arah berlawanan, sebuah truk kargo melambung mengambil jalurnya sendiri, mungkin karena sopirnya juga kesulitan melihat lewat hujan selebat itu. Lampu tembak truk itu meledak terang tepat di depan mata Aris, seketika membutakan pandangannya, membuat seluruh dunia menjadi putih kosong selama sepersekian detik yang terasa seperti selamanya.
Decit ban beradu dengan aspal basah memekakkan telinga. Aris membanting setir ke kiri, refleks yang mungkin justru memperburuk keadaan. Mobilnya berputar tak terkendali, menghantam pembatas jalan dengan keras, lalu berguling satu kali penuh sebelum akhirnya menabrak sebatang pohon besar di pinggir hutan dengan bunyi yang tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidup.