Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #6

"Tempatmu Bukan di Sini"

Kertas wangi dan stempel lilin mengilap, sering kali hanya bungkus dari racun yang rapi. Masa lalu mengetuk pintu, membawa kembali rantai yang dulu mencekik leher kita.


Matahari baru saja melewati titik tertingginya saat Aris meletakkan palu kayu di atas meja kerja. Ia mengusap peluh di dahinya menggunakan punggung lengan. Di hadapannya, sepuluh kursi makan jati berdiri berjajar. Garis lengkungnya halus, sambungannya rapat tanpa celah.

Ayah bersandar pada tiang bengkel. Napas tuanya tersengal, dadanya naik turun, namun matanya tak lepas dari sepuluh kursi tersebut. "Selesai," bisik Ayah, suaranya parau karena debu kayu. "Selesai juga kita, Ris."

Aris mengangguk pelan. Nyeri di rusuknya memudar, tergantikan oleh rasa kebas yang memuaskan. Besok, mereka akan membawa kursi-kursi ini ke toko Juragan Karta. Tidak akan ada pemotongan harga kali ini.

"Aris ke sumur dulu, Yah. Mau cuci muka," pamit Aris.

Saat ia melangkah ke halaman samping, suara gesekan ban mobil yang halus memecah suara jangkrik siang itu. Langkah Aris terhenti. Dari balik pagar bambu, ia melihat sebuah SUV hitam besar berhenti di ujung jalan setapak, tepat di perbatasan tanah desa. Mesinnya menyala halus, memuntahkan hawa panas ke udara desa yang kering.

Seorang pria bersetelan jas rapi turun. Kacamata hitam, sepatu kulit yang mengilap, dan langkah kaki yang sangat berhati-hati menghindari tanah merah. Pria itu mendekati halaman depan rumah.

Aris refleks mundur selangkah, berlindung di balik tumpukan kayu bakar.

Itu bukan Juragan Karta. Itu orang suruhan ayahnya.

Aris menahan napas. Ia mendengar suara Ibu dari arah beranda depan.

"Permisi, Bu," pria berjas itu menyapa. Nada suaranya sopan, namun terlalu rapi untuk ukuran desa ini. "Apakah benar ini rumah pemuda dari kota itu? Yang tinggal bersama ibu?"

Lihat selengkapnya