Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #6

Amplop Berlogo Emas

Kertas wangi dan stempel lilin sering kali hanya bungkus racun yang dikemas rapi. Yang jujur justru selalu datang tanpa hiasan apa pun.


Sepuluh kursi berjajar rapi di halaman bengkel keesokan paginya, satu hari lebih cepat dari tenggat yang ditetapkan Juragan Karta. Cahaya matahari pagi jatuh miring menyinari permukaan kayu jati yang masih pucat tanpa pelitur, memantulkan garis lengkung sandaran yang rapi dan presisi, hasil kerja keras lima hari tanpa henti yang menguras seluruh tenaga mereka bertiga hingga ke titik yang hampir tidak tertahankan.


Aris berdiri mematung sejenak menatap barisan kursi itu, mengingat kembali setiap tetes keringat, setiap lepuhan di telapak tangan, setiap malam mereka tidur hanya tiga atau empat jam demi mengejar tenggat yang terasa mustahil di awal. Lima hari yang lalu, ide sistem produksi berantai ini hanya berupa susunan sumpit kayu di atas meja makan. Sekarang, sepuluh kursi nyata berdiri di hadapannya, bukti bahwa insting bisnis lamanya yang dulu ia benci ternyata bisa menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada keuntungan perusahaan mana pun.


Ayah berdiri di tengah barisan kursi itu, tangannya bertumpu di pinggang, matanya berkaca-kaca menatap hasil karya mereka. "Kita berhasil, Ris," gumamnya, suaranya bergetar antara lelah dan bangga yang tidak tertahankan lagi.


Ibu keluar dari dapur membawa nampan berisi tiga gelas teh manis hangat, senyumnya lebar meski kantung matanya masih terlihat jelas akibat kurang tidur beberapa hari terakhir. "Alhamdulillah. Ayo minum dulu, baru nanti kita antar ke toko Juragan sebelum tengah hari."


Aris duduk di salah satu kursi baru itu, merasakan sandaran punggungnya yang melengkung pas menopang tulang belakangnya yang lelah, seolah kursi itu memang dirancang khusus untuk menyambut siapa pun yang duduk di atasnya dengan pelukan kayu yang jujur. Ayah menepuk bahunya kuat-kuat, tawa lega mereka berdua pecah bersamaan, mengusir sejenak semua ketegangan lima hari terakhir. Untuk sesaat, dunia terasa benar-benar baik-baik saja, seolah tidak ada lagi yang bisa mengganggu kemenangan kecil mereka, seolah kerja keras yang jujur memang selalu berujung pada ketenangan seperti ini.


Namun kelegaan itu tidak bertahan lama.


Menjelang siang, saat Aris sedang mengecek kekencangan sekrup kaki kursi terakhir sambil bersenandung pelan, telinganya menangkap suara deru mesin yang asing dari kejauhan. Bukan suara motor bebek yang biasa melintas di jalan tanah desa, melainkan deru halus dan bertenaga, jenis suara mesin yang hanya dimiliki kendaraan yang jarang, atau bahkan tidak pernah, singgah di Desa Karangjati.


Firasat buruk langsung mencubit tengkuk Aris. Tangannya yang tadi memegang obeng berhenti bergerak. Ia mengintip dari balik pagar bambu di sisi bengkel, jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang bisa ia jelaskan secara logis, seolah tubuhnya mengenali ancaman itu lebih dulu daripada pikirannya.


Sebuah SUV hitam mengilap berhenti tepat di depan rumah mereka, bannya sedikit terjebak di tanah merah becek sisa hujan semalam, kontras mencolok dengan debu jalanan desa yang biasa menempel di ban sepeda ontel dan motor bebek warga sekitar. Pintu mobil terbuka. Seorang pria berjas rapi turun, sepatu kulitnya yang mengilap melangkah hati-hati, berusaha keras menghindari genangan lumpur di jalan setapak menuju rumah, seolah tanah desa ini adalah sesuatu yang najis bagi alas kakinya yang mahal.


Aris menahan napas, bersembunyi lebih rapat di balik pagar. Ia tidak bisa mendengar semua percakapan dengan jelas, hanya potongan-potongan kalimat yang terbawa angin siang yang lembap.


"...dari keluarga di kota... titipan untuk Aris..."

Lihat selengkapnya