Mereka bisa merampas gerobak kita, mereka bisa menghitung paksa isi kantong kita. Namun, harga diri yang dirakit menggunakan pasak kayu tidak akan pernah bisa mereka patahkan.
Matahari pagi menyengat kulit tengkuk Aris ketika roda gerobak kayu itu berputar melewati jalanan berbatu desa. Sepuluh kursi jati buatan Ayah tertata rapi di atas bak gerobak, diikat kencang dengan tali tambang plastik berwarna biru. Aris mengambil posisi di sebelah kiri, mendorong tiang kayu gerobak dengan seluruh tenaga lengannya. Di sisi kanan, Ayah berjalan dengan langkah yang stabil meskipun napas tuanya terdengar berat. Setiap kali roda gerobak terperosok ke dalam lubang jalan, otot lengan Ayah menegang seketika untuk menjaga keseimbangan beban agar kursi-kursi di atasnya tidak saling berbenturan.
"Sedikit lagi sampai, Ris," kata Ayah tanpa menoleh. Beliau menyeka dahi menggunakan kain kecil kusam yang sudah berubah warna menjadi abu-abu akibat noda kayu.
Aris hanya mengangguk pelan. Ia merasakan telapak tangannya yang kini dipenuhi kapalan keras bergesekan langsung dengan permukaan kayu gerobak yang kasar. Rasa perihnya nyata dan jujur. Rasa sakit fisik ini sangat berbeda dengan rasa sesak yang sering ia alami di masa lalu saat duduk diam di kursi kulit mobil mewah milik keluarga kandungnya. Di desa ini, setiap meter jalan yang mereka tempuh membutuhkan usaha fisik yang melelahkan. Namun, justru kerja keras inilah yang memberinya kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Toko mebel milik Juragan Karta berdiri tepat di sebelah pasar kecamatan. Bangunan itu luas dengan dinding beton tanpa cat dan atap seng berkarat yang memantulkan hawa panas ke jalanan aspal di depannya. Di bagian depan toko, berderet kursi-kursi buatan pabrik dengan lapisan pelitur berkilat yang menebarkan bau kimia menyengat ke udara. Barang-barang itu terlihat seragam, kaku, dan dingin—khas produk massal yang dibuat tanpa sentuhan tangan manusia.
Juragan Karta sedang duduk di kursi rotan sambil memegang cangkir kopi saat mereka tiba. Lelaki paruh baya dengan perut buncit itu menurunkan cangkirnya ke atas meja kaca dengan bunyi berdenting. Ia melihat sepuluh kursi di atas gerobak dengan tatapan mata yang menyelidik dan dingin.
"Kalian tepat waktu," kata Juragan Karta, bangkit berdiri lalu berjalan memutari gerobak dorong mereka. Tangan kanannya yang dihiasi dua cincin akik besar mengetuk-ngetuk permukaan sandaran kursi buatan Ayah dengan gerakan meremehkan.
Ayah menurunkan tuas gerobak secara perlahan ke atas tanah. Beliau menjabat tangan Juragan Karta dengan sikap tubuh membungkuk yang sangat rendah. Aris memperhatikan gerak-gerik itu dengan dada berdenyut perih. Sifat inferior Ayah sebagai perajin kecil langsung terlihat jelas ketika berhadapan dengan sang pemilik modal. Ayah selalu merasa posisinya berada di bawah kendali orang lain, terbiasa mengalah demi sesuap nasi.
"Sesuai pesanan, Juragan. Sepuluh kursi makan jati, selesai sebelum hari kelima," ucap Ayah dengan nada suara yang bergetar penuh harap.
Juragan Karta tidak langsung menjawab. Ia membalikkan salah satu kursi, memeriksa bagian bawah dudukan dengan jemarinya yang tebal, lalu menggelengkan kepala berkali-kali. "Warna kayunya tidak seragam, Kang. Lihat ini, bagian sampingnya lebih terang daripada bagian depan. Konsumen saya di kota tidak mau menerima barang yang memiliki warna belang seperti ini."