Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #7

Sepuluh Kursi, Satu Jebakan

 Harga sebuah karya tidak diukur dari seberapa keras mulut menawar. Serat kayu yang jujur selalu tahu mana tangan yang benar-benar bekerja, dan mana yang hanya pandai berhitung.



Perjalanan menuju toko Juragan Karta memakan waktu hampir satu jam, menyusuri jalan tanah berbatu yang menghubungkan Desa Karangjati dengan pasar kecamatan tempat toko mebel Karta berdiri. Gerobak kayu yang mereka pakai berderit setiap kali roda kayunya menggelinding melewati kerikil, membawa sepuluh kursi yang diikat rapi bertumpuk dua-dua, terbungkus karung goni bekas agar tidak tergores selama perjalanan.


Aris berjalan di samping gerobak, salah satu tangannya memegang tali kekang sementara tangan lainnya sesekali menahan tumpukan kursi agar tidak bergeser. Telapak tangannya yang masih dibalut kain karena lepuhan lima hari terakhir bergesekan dengan kayu gerobak yang kasar, menimbulkan perih yang sudah mulai terbiasa ia abaikan. Ayah berjalan di sisi lain, wajahnya yang biasanya tegang karena lelah kini tampak lebih ringan, sesekali bersenandung pelan mengiringi derit roda gerobak.


Semakin dekat dengan pasar kecamatan, aroma udara mulai berubah. Bau tanah basah dan dedaunan segar khas desa perlahan tergantikan oleh aroma bensin dari deretan bengkel motor dan bau amis ikan asin dari lapak-lapak pedagang. Toko mebel Juragan Karta berdiri di sudut pasar, bangunannya lebih besar dari kebanyakan toko sekitar, dicat warna hijau tua dengan papan nama besar bertuliskan Karta Jaya Furniture yang catnya mulai memudar di beberapa huruf.


Begitu mereka mendekat, hidung Aris menangkap bau kimia menyengat dari pelitur pabrik yang menguar dari dalam toko, jauh berbeda dari aroma pelitur alami berbahan minyak kelapa yang biasa Ayah gunakan di bengkel mereka. Deretan kursi dan meja buatan pabrik berjajar di etalase depan, permukaannya mengilap sempurna tanpa cela, tapi entah kenapa terasa dingin dan tanpa jiwa dibanding sepuluh kursi kasar yang mereka bawa di atas gerobak.


Juragan Karta keluar dari dalam toko begitu mendengar derit gerobak berhenti di depan tokonya. Perutnya yang buncit terbungkus kemeja batik longgar, jam tangan emas besar melingkar di pergelangan tangannya yang gemuk. Ia menghampiri gerobak dengan langkah santai, tangannya terlipat di dada, matanya menyipit menilai barang dagangan yang baru datang.


"Sudah selesai semua, Dirman?" tanyanya, nada suaranya seperti sedang berbicara dengan bawahan, meski Ayah adalah orang yang jauh lebih tua darinya.


"Sudah, Juragan. Sepuluh kursi, lengkap sesuai pesanan," jawab Ayah sambil membuka ikatan tali pertama dengan hati-hati.


Karta berjalan mengelilingi kursi-kursi itu satu per satu, tangannya mengusap permukaan kayu dengan gerakan yang dibuat-buat, seolah sedang memeriksa kualitas dengan sangat teliti, padahal Aris bisa melihat dari sorot matanya bahwa pria itu sudah tahu persis kualitas barang yang ia terima. Karta mendengus pelan, gestur klasik seorang pedagang yang sedang bersiap menawar lebih rendah.


"Warnanya kurang seragam, Dirman. Yang ini agak lebih pucat dari yang itu," katanya sambil menunjuk dua kursi yang sebenarnya hanya berbeda karena posisi asal kayu di batang pohon, perbedaan alami yang tidak mungkin dihindari kayu jati muda.


"Karta juga lihat sendiri, kan, ukirannya tidak sesuai standar biasa. Model minimalis begini susah saya jual ke pembeli lama saya di kota. Saya potong sepuluh persen lagi dari harga kesepakatan, ya."


Ayah tampak ingin menjawab, tapi lidahnya kelu, kebiasaan lama untuk selalu mengalah demi menjaga hubungan baik dengan satu-satunya penyalur mereka ke kota. Namun sebelum Ayah sempat membuka mulut, Aris melangkah maju.


"Maaf, Juragan," ucap Aris, suaranya tenang tapi tegas, "warna kayu yang sedikit berbeda itu justru bukti bahwa ini kayu jati asli, bukan kayu olahan yang diwarnai seragam pakai bahan kimia. Pembeli yang mengerti kayu pasti tahu itu, dan justru akan menghargainya lebih tinggi."


Karta menoleh ke arah Aris dengan alis terangkat, sedikit terkejut mendengar bantahan dari seorang pemuda yang biasanya hanya diam mengangguk di belakang Ayahnya. "Kamu ini siapa yang sok tahu soal jual beli kayu? Sudah, saya kasih harga segitu, ambil atau tidak, terserah."


Aris tidak gentar. Ia melangkah ke salah satu kursi yang baru diturunkan dari gerobak, meletakkannya tegak di atas lantai semen depan toko dengan bunyi mantap yang menggema. "Coba Juragan duduk di sini sebentar."


Karta mengernyit heran, tapi rasa penasarannya lebih besar dari keengganannya. Ia duduk dengan berat badan penuh, kursi itu tidak bergeming sedikit pun, menopang tubuhnya yang gemuk dengan kokoh tanpa berderit sedikit pun.


"Sekarang, coba Juragan lihat sambungan kaki kursi itu," lanjut Aris. Ia berjongkok, menunjuk titik sambungan antara kaki dan dudukan kursi. "Ini pakai sistem pasak kayu, bukan paku besi. Sambungan seperti ini justru lebih kuat karena mengikuti pergerakan alami kayu, tidak akan longgar meski dipakai bertahun-tahun."


Lihat selengkapnya