Jurang antara dua dunia tidak pernah bisa dijembatani hanya dengan selembar cek, atau bahkan dengan permintaan maaf yang paling tulus sekalipun. Ada luka yang butuh waktu jauh lebih lama daripada uang untuk sembuh.
Perjalanan pulang dari toko Juragan Karta terasa jauh lebih panjang daripada saat mereka berangkat tadi pagi, meski jarak yang ditempuh sama persis. Gerobak yang kini kosong tanpa muatan sepuluh kursi seharusnya terasa lebih ringan untuk ditarik, tapi entah kenapa bagi Aris, roda kayu itu terasa seolah menyeret beban yang jauh lebih berat dari sepuluh kursi jati sekalipun.
Tidak ada satu patah kata pun yang terucap sepanjang jalan tanah berbatu itu. Ayah berjalan beberapa langkah di depan, menarik tali gerobak dengan langkah yang tidak lagi mantap seperti biasanya. Sesekali kakinya tersandung kerikil kecil yang biasanya bisa ia hindari tanpa perlu melihat, seolah kesadarannya sedang berada jauh dari jalan yang sedang ia pijak.
Aris berjalan di belakang, matanya menatap punggung Ayah yang membungkuk lebih rendah dari biasanya, seperti ada beban tak kasat mata yang baru saja ditambahkan ke pundaknya yang sudah lelah karena lima hari kerja tanpa henti. Setiap kali Aris membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu, kalimat apa pun yang ia susun di kepalanya terasa terlalu kecil, terlalu tidak berarti untuk menjembatani kesunyian yang sudah terlanjur mengeras di antara mereka sejak Handoko meninggalkan toko itu.
Ia memutar ulang kejadian tadi berkali-kali di kepalanya. Wajah pucat Karta. Senyum dingin Handoko. Dan yang paling menghantuinya, ekspresi Ayah saat mendengar nama lengkapnya disebut secara terbuka, Aris Wiratama, putra kandung Bambang Wiratama, dua kata terakhir yang seolah meruntuhkan segala sesuatu yang telah mereka bangun bersama selama dua tahun terakhir dalam hitungan detik.
Matahari sore mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan mereka berdua di atas jalan tanah yang mulai mengering setelah hujan semalam. Bayangan itu berjalan berdampingan, tapi entah kenapa terasa seperti dua garis yang tidak pernah benar-benar bersinggungan.
Begitu mereka tiba di rumah, Ibu sudah menunggu di teras dengan wajah cerah penuh harap, tangannya sudah siap menyambut kabar baik yang biasanya menyertai keberhasilan mengantar pesanan besar.
"Bagaimana, Pak? Diterima semua, kan?" tanyanya bersemangat, matanya berbinar menatap gerobak kosong yang menandakan transaksi sudah berhasil dilakukan.
Ayah tidak langsung menjawab. Ia meletakkan uang hasil penjualan kursi ke telapak tangan Ibu dengan gerakan pelan, hampir seperti orang yang sedang menyerahkan sesuatu yang berat sekaligus rapuh. Tidak ada suara gemerincing uang kertas yang biasanya menandakan kelegaan, hanya kesunyian yang canggung menggantung di udara sore itu.
Ibu menatap uang di tangannya sejenak, lalu mendongak menatap wajah Ayah dan Aris bergantian, mulai merasakan sesuatu yang tidak beres di balik keheningan yang tidak biasa ini. "Ada apa? Kenapa wajah kalian berdua seperti orang habis kena musibah, padahal ini seharusnya hari baik?"
Ayah menghela napas panjang, suaranya berat ketika akhirnya ia berbicara. "Bu, tadi di toko Karta ada orang datang. Katanya dia asisten pribadi seorang pengusaha besar dari kota."
"Terus? Apa hubungannya sama kita?"
"Pesanan sepuluh kursi yang kita kerjakan mati-matian selama lima hari itu," Ayah menarik napas lagi, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk diucapkan sekaligus, "itu semua rekayasa. Bukan pesanan asli restoran mana pun. Itu jebakan dari, dari ayah kandung Aris."