Pualam yang paling kokoh sekalipun selalu menyimpan retak tersembunyi. Dari celah sempit itulah, kita mencari jalan untuk meruntuhkan keangkuhannya.
Jalan pulang terasa berkali-kali lipat lebih panjang dan sunyi.
Gerobak kayu itu kini kosong, tidak ada lagi beban sepuluh kursi jati yang harus ditahan. Namun, Aris merasa pundaknya memikul beban yang jauh lebih berat daripada saat berangkat tadi pagi. Di sampingnya, Ayah berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Langkah kakinya yang biasanya stabil kini terasa goyah dan lambat. Beliau tidak menyeka keringatnya lagi, membiarkan peluh mengalir melewati kerutan di pipinya yang mendadak tampak jauh lebih tua.
Handoko dan sedan hitamnya memang sudah pergi setelah Aris menolak mentah-mentah ajakan pulang tersebut di depan toko Juragan Karta. Namun, kata-kata asisten ayahnya itu masih tertinggal di udara, berputar-putar seperti lalat di atas luka yang terbuka. Lelucon hidup sederhana.
"Yah," panggil Aris lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh derit roda gerobak yang bergesekan dengan jalan berbatu.
Ayah tidak menyahut. Beliau bahkan tidak menoleh sedikit pun. Jemari beliau yang kasar dan dipenuhi kapalan hitam akibat getah kayu tetap mencengkeram tiang gerobak dengan erat. Cengkeraman yang kaku, seolah sedang menahan diri agar tidak jatuh runtuh di atas tanah berdebu.