Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #9

Dingklik dari Kayu Limbah

Bara yang paling sunyi sekalipun masih menyimpan ingatan tentang api. Ia hanya menunggu tiupan yang tepat untuk kembali menyala.


Tiga hari berlalu sejak kepulangan mereka dari toko Juragan Karta, dan rumah kecil berdinding bambu itu terasa seperti kuburan yang masih bernapas. Tidak ada lagi obrolan ringan saat sarapan. Tidak ada lagi senandung pelan Ibu saat memasak di dapur. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang mengeras di setiap sudut rumah, seolah dinding-dinding itu sendiri ikut menahan napas menunggu badai yang belum juga reda.

Pagi itu, Aris bangun lebih awal dari biasanya, meski tubuhnya masih menyimpan lelah yang tidak pernah benar-benar hilang sejak lima hari kerja maraton dan satu malam demam yang menguras jiwa raganya. Ia berjalan menuju dapur, mendapati Ibu sedang duduk di lantai memilah beras dari kerikil kecil yang tercampur di dalamnya, gerakan tangannya cekatan seperti biasa, tapi ada kekakuan baru di bahunya yang tidak pernah Aris lihat sebelumnya.

"Bu," panggil Aris pelan, mendekat dengan hati-hati seperti mendekati seekor kucing liar yang baru saja terluka.

Ibu tidak menoleh. Tangannya terus memilah beras, matanya fokus pada butiran-butiran putih yang jatuh perlahan dari nyiru bambu ke dalam bakul di bawahnya.

"Bu, biar Aris bantu," Aris berjongkok di sebelahnya, mengulurkan tangan untuk mengambil sebagian beras yang belum terpilah.

Ibu menggeser nyiru itu menjauh sedikit, gerakan halus tapi jelas maksudnya, sebuah penolakan yang tidak perlu diucapkan lewat kata-kata untuk bisa dimengerti. Aris menarik tangannya kembali, dadanya terasa remuk oleh penolakan sekecil itu, jauh lebih menyakitkan dibanding kalau Ibu berteriak marah kepadanya secara langsung.

Ia bangkit perlahan, berjalan ke arah jendela dapur yang menghadap ke halaman belakang. Dari sana, ia bisa melihat Ayah sedang duduk sendirian di bangku kayu dekat bengkel, tidak sedang bekerja, hanya duduk diam menatap kosong ke arah tumpukan kayu jati sisa yang masih berserakan dari proyek lima hari lalu. Punggung Ayah melengkung lebih rendah dari biasanya, seperti dahan yang terlalu lama menahan beban buah yang terlalu berat, siap patah kapan saja jika beban itu tidak segera diringankan.

Aris menuangkan kopi hitam untuk dirinya sendiri, lupa menambahkan gula seperti biasa. Ia meminumnya begitu saja, membiarkan rasa pahit itu menyebar di lidahnya tanpa berusaha menetralisirnya. Entah kenapa, rasa hambar dan pahit itu terasa lebih jujur dibanding manisnya gula, seolah cocok dengan suasana hati semua orang di rumah ini yang sedang sama-sama menelan sesuatu yang pahit sejak tiga hari lalu.

Ia teringat pagi-pagi sebelum semua ini terjadi, ketika Ayah akan bersenandung riang sambil mengasah pahat di beranda, kadang menggoda Aris dengan pertanyaan jenaka tentang bentuk kursi apa yang akan mereka buat hari itu, atau Ibu yang akan berteriak dari dapur menyuruh mereka berdua segera cuci tangan sebelum makanan menjadi dingin. Kontras antara ingatan hangat itu dengan kesunyian yang membeku di depannya sekarang terasa seperti melihat dua rumah yang berbeda, meski jelas keduanya berdiri di atas tanah yang sama, dengan orang-orang yang sama pula.

Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki keadaan ini. Kata-kata sudah terbukti tidak cukup, bahkan mungkin hanya akan memperburuk keadaan jika ia terus mencoba menjelaskan sesuatu yang sulit dipercaya siapa pun yang mendengarnya. Satu-satunya bahasa yang tersisa baginya, bahasa yang selalu ia yakini jujur sejak pertama kali menyentuh kayu jati muda di bulan-bulan pertamanya di sini, adalah kerja.

Siang itu, setelah memastikan Ayah dan Ibu sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing tanpa memedulikannya, Aris berjalan diam-diam menuju bengkel. Ia tidak menyentuh tumpukan kayu jati berkualitas baik yang masih tersisa dari pembelian di kabupaten, kayu-kayu itu terasa terlalu berharga untuk disentuh tangannya sekarang, seolah ia belum pantas menggunakan bahan terbaik setelah mengecewakan kedua orang yang paling berjasa dalam hidupnya.

Ia sempat berdiri lama di depan tumpukan kayu jati berkualitas itu, tangannya terulur setengah hati hendak menyentuhnya, lalu ditarik kembali. Rasanya seperti ada suara kecil di kepalanya yang berbisik bahwa ia belum pantas, bahwa tangan yang baru saja mengecewakan dua orang tuanya tidak berhak menyentuh bahan terbaik yang mereka punya, setidaknya belum untuk hari ini.

Ia justru mencari ke tumpukan kayu limbah di sudut paling belakang bengkel, potongan-potongan sisa yang terlalu pendek atau terlalu tipis untuk dipakai membuat furnitur besar, kayu-kayu yang biasanya hanya berakhir sebagai kayu bakar. Ada semacam logika yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan, tapi terasa benar di dalam dadanya: ia ingin membuat sesuatu dari bahan yang dibuang, sama seperti dirinya yang pernah dibuang oleh dunia lamanya, untuk membuktikan bahwa sesuatu yang tidak dianggap berharga tetap bisa menjadi berguna jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Ia memilih beberapa potong kayu limbah, menyusunnya di atas meja kerja, lalu mulai mengukur dan menggambar pola sebuah dingklik kecil, bangku pendek sederhana yang biasa dipakai di dapur atau untuk duduk memerah susu kambing.

Gergaji tangan terasa dingin di genggamannya, logam gagangnya belum sempat menghangat oleh gesekan tangan yang biasanya rutin memegangnya setiap hari. Aris mulai menggergaji dengan tekun, mengikuti garis yang sudah ia buat, meski konsentrasinya berkali-kali buyar oleh bayangan wajah Ibu yang menghindari uluran tangannya tadi pagi, dan punggung Ayah yang melengkung sunyi di bangku bengkel.

Di tengah kekhusyukan yang setengah dipaksakan itu, pahatnya tergelincir. Mata pahat yang tajam menggores dalam di ibu jarinya, darah segera merembes keluar, menetes ke atas serbuk gergaji di lantai, membentuk noda merah kecil yang kontras dengan warna cokelat pucat serbuk kayu di sekitarnya.

Aris menatap luka itu sejenak. Rasa perih yang menjalar dari lukanya terasa tajam dan nyata, sebuah sensasi yang entah kenapa terasa lebih mudah ditanggung dibanding rasa bersalah yang menggerogoti dadanya sejak tiga hari lalu. Ia tidak berhenti untuk membalut lukanya dengan benar. Ia hanya melilitkan sepotong kain lusuh seadanya di sekeliling ibu jarinya, lalu kembali menggergaji, membiarkan darah kadang merembes menembus kain itu, menciptakan pola-pola kecil di serat kayu limbah yang sedang ia bentuk.

Jam demi jam berlalu. Matahari bergeser dari tengah langit menuju barat, cahayanya berubah dari terang menyilaukan menjadi keemasan yang lebih lembut, menembus celah dinding bambu bengkel dan menciptakan garis-garis cahaya yang jatuh miring di atas lantai tanah yang dipenuhi serbuk kayu.

Lihat selengkapnya