Jujurnya Kayu

Ahmad Sabiq Hamizan
Chapter #9

Pasak Pengampunan

Abu sisa pembakaran mungkin mendinginkan tungku, tetapi di bawah tumpukan jelaga yang pekat, bara yang paling sunyi tetap menyimpan ingatan tentang api.


Kesunyian pagi itu terasa berbeda. Rumah anyaman bambu ini seolah kehilangan napasnya. Tidak ada lagi denyut kehidupan yang biasanya merambat dari dapur menuju kamar-kamar.

Matahari sudah sepenggalah, namun tidak ada bunyi sutil besi yang beradu bising dengan wajan dari arah dapur. Tidak ada wangi bawang putih yang ditumis dengan minyak kelapa panas, tidak ada pula kepulan asap tipis dari tungku kayu yang biasanya mengantar kehangatan hingga ke sudut kamar Aris. Hanya ada udara pedesaan yang menyusup lewat celah dinding, membawa aroma lembap tanah yang menguar dari kebun belakang, terasa jauh lebih dingin dan menusuk dari biasanya.

Aris menurunkan kakinya perlahan dari tepi kasur. Lantai semen kasar menyambut telapak kakinya dengan tusukan dingin yang membangunkan kesadarannya. Ia melangkah keluar dari kamar dengan gerakan yang sangat pelan, seakan takut suara decit lantai bambu di bawah kakinya akan mengusik ketegangan yang menggantung tebal di udara rumah ini.

Di dapur, Ibu sedang duduk membelakangi pintu. Wanita tua itu sedang memilah butiran beras di atas tampah anyaman bambu. Gerakannya kaku dan monoton. Setiap butir gabah yang ia singkirkan terdengar seperti dentuman kecil di tengah sunyi yang menyesakkan.

"Bu," panggil Aris lirih. Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering, seolah ada gumpalan debu yang tersangkut di sana sejak semalam.

Gerakan tangan Ibu terhenti sejenak. Bahu ringkihnya menegang. Namun, wanita itu tidak menoleh sedikit pun. Ia tidak menyahut, melainkan langsung melanjutkan memilah beras dengan ritme yang lebih cepat, lebih agresif. Penolakan tanpa kata-kata itu menghantam dada Aris dengan telak. Jarak yang tercipta sejak sore kemarin—saat kebenaran tentang siapa Aris sebenarnya terbongkar—terasa begitu menyiksa, lebih dalam daripada jurang mana pun yang pernah ia bayangkan.

Aris melangkah menuju teko di atas meja. Ia menuangkan kopi hitam sisa semalam ke dalam gelas kaca. Cairan itu dingin. Saat ia menyesapnya, rasa pahit yang pekat langsung mengikat lidahnya. Kopi itu hambar. Tidak ada gula. Tidak ada sentuhan kasih sayang Ibu yang biasanya menyisipkan satu sendok teh manis untuk meredakan pahitnya kehidupan. Ini adalah bahasa sunyi Ibu untuk mengatakan bahwa kehangatan yang dulu diberikan secara cuma-cuma, kini telah ditarik kembali. Ibu tidak lagi menganggapnya sebagai anak yang perlu dilindungi, melainkan sebagai orang asing yang kehadirannya di rumah ini menjadi luka yang belum kering.

Melalui celah jendela dapur yang terbuka, Aris menatap ke arah halaman samping.

Ayah duduk di kursi bambu di teras. Pria tua yang biasanya tegap memikul balok jati itu kini tampak melengkung, seperti dahan rapuh yang bersiap patah. Kedua tangan kasarnya yang dipenuhi kapalan hitam terkulai lemas di atas lutut sarungnya. Pandangan matanya kosong, tertuju pada rimbunan pohon pisang. Ada keheningan yang melelahkan di wajah berkerut itu—sebuah raut kepasrahan dari seorang ayah yang merasa harga diri sederhananya telah diinjak-injak oleh permainan orang kaya dari kota. Ayah merasa dikhianati, bukan karena uang, melainkan karena kejujuran yang selama ini mereka pegang ternyata hanya menjadi bahan tontonan bagi Aris.

Aris meremas gelas kopinya. Ia tahu, ia bisa saja melangkah keluar, mencari Handoko yang mungkin masih menunggu di hotel kecamatan, dan kembali menjadi "Tuan Muda Aris" yang tidak perlu memikirkan beras esok hari. Namun, hatinya menolak. Ia tidak ingin kembali ke istana pualam yang dingin. Ia mencintai bau debu kayu di tempat ini. Ia menghargai keringat yang menetes saat menggergaji. Ia ingin mereka tahu bahwa perasaannya tulus, meskipun caranya salah.

Dengan tekad yang perlahan membulat, Aris meletakkan gelas kopinya di atas meja, lalu melangkah ke luar menuju bengkel kerja di samping rumah.

Udara di dalam bengkel semi terbuka itu terasa mati.

Debu tipis berwarna abu-abu kecokelatan telah melapisi permukaan meja kerja kayu yang tebal. Alat-alat pahat, gergaji tangan, dan palu kayu tertata mati di rak bambu. Tidak ada serbuk kayu jati segar yang beterbangan menari-nari tertimpa sinar matahari pagi. Bengkel ini telah kehilangan jantungnya. Sisa-sisa kayu jati yang biasanya berserakan kini terlihat seperti puing-puing sejarah yang ditinggalkan pemiliknya karena putus asa.

Lihat selengkapnya